Ribuan Orang Berburu Berkah di Petilasan Joko Tingkir
JOGLOSEMARNEWS.COM | 06/09/2019 09:50
Ribuan Orang Berburu Berkah di Petilasan Joko Tingkir
Ribuan warga berebut gunungan perabot dari bambu dan hasil bumi di Srawung Pasar Tambak di Desa Sribit, Sidoharjo, Sragen, Kamis (5/9/2019) petang. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM-  Ribuan warga memadati lokasi gerebeg budaya Srawung Pasar Tambak di Dukuh Tambak, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Kamis 5 September 2019.

Mereka antusias menyaksikan kirab budaya sembari berburu berkah dengan membeli perabot rumah tangga dan pertanian dari bambu yang konon dipercaya bisa mendatangkan barokah. Acara Srawung Pasar Tambak dibuka dengan kirab budaya menampilkan berbagai seni tradisional dan kreasi dari warga berbagai RT di Desa Sribit.

BACA: Dikunjungi Ibu Negara Iriana Jokowi, PAUD Putra Pertiwi Tak...

Kemudian dilanjutkan dengan prosesi rebutan gunungan berisi berbagai perabot rumah tangga, pertanian dari bambu dan gunungan hasil tani oleh pengunjung.

Perabot yang direbutkan hampir sama dengan barang-barang yang dijual oleh pedagang di pasar yang hanya hidup sekali dalam setahun tepatnya pada bulan Syura atau Muharam tersebut.

Selain berebut gunungan, pengunjung juga sebagian berziarah ke makam dan tonggak yang diyakini merupakan petilasan dari Pangeran Joko Tingkir di tengah pasar. Kemudian mereka berburu perabot yang dijual oleh sekitar 20an pedagang di sekeliling areal pasar.

“Saya beli pecut (cemeti) untuk anak saya. Baru sekali ini datang ke Pasar Tambak ini. Bagus sekali. Saya ikut beli karena ada keyakinan kalau beli barang dari sini nanti bisa bawa barokah,” ujar Niri Susanto (32) pengunjung asal Desa Tenggak, Sidoharjo, Sragen yang datang bersama anaknya.

Sutarno (61), salah satu pedagang menuturkan sudah puluhan tahun ia berjualan di Pasar Tambak. Menurut pedagang asal Dukuh Tambak RT 13, Sribit itu, Pasar Tambak adalah tradisi turun temurun dari leluhur yang hanya hidup setahun sekali.

BACA: Ini Lokasi Rawan Bencana di Wonogiri yang Akan Dipasang...

“Yang paling ramai itu kalau sewindu atau delapan tahun sekali. Tahun depan pasnya Jumat Wae satu sura. Saya tiap tahun jualan, jualannya ya segala perabot dari bambu. Ada dadung, cemeti, tumbu, nyiru, dan lainnya. Ini sudah dari zaman nenek moyang. Semua barang bikinan warga sini. Kepercayaannya kalau beli dari sini, bisa bawa barokah,” urainya.

Harga yang dipatok untuk dagangan perabot pun tak mahal. Paling murah Rp 5.000 dan termahal bakul nasi Rp 25.000. Sutarno menyampaikan pengunjung yang datang biasanya tak hanya lokal tapi sebagian juga dari luar daerah utamanya Jatim. WARDOYO

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT