Pemkab Dogiyai larang pengiriman ternak dan daging babi dari luar
JUBI.CO.ID | 03/05/2021 12:46
Pemkab Dogiyai larang pengiriman ternak dan daging babi dari luar
Ilustrasi flu babi Afrika. Kredit: ANTARA

Nabire, Jubi – Pemerintah Kabupaten Dogiyai di Provinsi Papua akan segera melarang angkutan atau pengiriman ternak babi dan daging babi dari luar menuju Dogiyai. Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga akan membentuk tim untuk mengawasi pengangkutan atau pengiriman ternak babi dari dan menuju Dogiyai.

Hal itu dinyatakan Wakil Bupati Dogiyai, Oskar Makai saat ditemui di Nabire, Jumat (30/4/2021). Larangan itu diberlakukan untuk mencegah masuk dan meluasnya virus flu babi Afrika (African Swine Fever atau ASF)

Makai menyatakan Pemerintah Kabupaten Nabire dan Pemerintah Kabupaten Dogiyai harus membentuk tim bersama untuk mengawasi peredaran ternak babi dan babi potong. “Saya akan berkoordinasi dengan pihak keamanan, Kepolisian Resor Nabire, Komando Distrik Militer Nabire, untuk sama-sama mencegah wabah flu babi tersebut. Jadi, kami tidak terima babi dari Manokwari, Biak, Serui, karena kalau ternyata membawa virus, akan mempengaruhi ternak babi di Nabire dan Wilayah Adat Meepago,” kata Makai.

Makai berharap tim dari Pemerintah Kabupaten Dogiyai akan terbentuk pada Senin (3/5/2021), sehingga larangan mengangkut ternak babi dan daging babi dari luar ke Dogiyai bisa efektif diberlakukan. Larangan itu juga dianggap perlu untuk memastikan pedagangan babi di tingkat lokal Dogiyai tetap berlangsung.

“Karena, [akan] lebih parah kalau masyarakat kami di Dogiyai beranggapan babi yang [dijual didatangkan] dari Nabire, dibawa naik. [Padahal] itu sebenarnya babi yang ada di Dogiyai, lalu mereka beli,” ujar Makai.

“Untuk jangka pendek, saya imbau agar masyarakat Dogiyai mengonsumsi daging babi yang ada di Dogiyai. Pelarangan [pengiriman dan perdagangan babi dari luar Dogiyai] itu saya sampaikan untuk menyelamatkan ternak babi di Dogiyai. Kalau babi yang terdampak wabah didatangkan ke kampung, babi milik masyarakat juga bisa terdampak,” katanya.

Makai menegaskan jangan ada pedagang babi membawa naik babi dari Nabire, apalagi babi dari luar Nabire. “Apabila wabah itu sudah berhenti, baru babi dari Nabire bisa dijual di Dogiyai. Pemerintah tetap akan jaga, sebab Dogiyai adalah pintu masuk menuju Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Paniai,” katanya.

Makai juga berharap Pemerintah Kabupaten Nabire akan ketat dan tegas melarang pengangkutan babi dari luar ke Nabire, karena Nabire adalah simpul distribusi barang dan jasa bagi lima kabupaten di Wilayah Adat Meepago. “Karena, begitu ASF tiba di Nabire, maka [besar risiko] tiba juga di Paniai, Deiyai, Dogiyai. Intinya, Pemerintah Kabupaten Nabire harus bergerak lebih dahulu, batasi kapal dan jalan darat yang mengangkut babi dari luar ke Nabire,” kata Makai.

Sebelumnya, Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Nabire, Riselen F Ririhena mengatakan Penjabat Bupati Nabire Anton Mote telah menetapkan larangan pengangkutan ternak babi dan daging babi potong dari dan menuju Nabire. Larangan itu diberlakukan untuk mengantisipasi wabah flu babi Afrika yang telah merebak di Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

Larangan untuk mengangkut ternak babi dan segala turunannya dari dan ke Nabire itu dituangkan dalam Surat Instruksi Bupati Nabire Nomor 524/1933/SET, tertanggal 23 April 2021. “Status Nabire siaga, daerah terancam karena berbatasan langsung dengan Manokwari. Pelarangan sementara [pengiriman] ternak babi dan produknya dari dan ke Nabire itu mengantisipasi penularan ASF pada ternak babi di Nabire,” kata Ririhena.

jubi.co.id


BERITA TERKAIT