Merawat Surga Mangrove di Teluk Bintuni
JUBI.CO.ID | 06/04/2019 12:20
Merawat Surga Mangrove di Teluk Bintuni
Hutan bakau di Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat – Jubi/Timo Marten

Kapal-kapal itu berjejeran. Pertama tampak satu buah. Semakin perahu motor kami ke lautan dua hingga tujuh kapal terlihat. Itu adalah kapal pengangkut produksi milik BP Tangguh LNG.

Kapal dan hutan mangrove merupakan pemandangan yang dijumpai saat perahu bertolak lebih jauh dan menepi di Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat

Perjalanan ke Babo ditempuh sekira satu jam dengan kapal motor dari Pelabuhan Kota Bintuni. Kami mulai sekitar pukul 09.30 hingga tiba pukul 11.20 waktu Papua.

Di pelabuhan, motor ojek berbaris. Orang-orang lalu-lalang. Tak berapa lama bus pengangkut karyawan BP merapat ke dermaga.

Saya menuju salah satu rumah warga di Kampung Nuse, Distrik Babo. Tak butuh istirahat, merapat ke pusat kerajinan masyarakat binaan lembaga nirlaba–Panah Papua, dan Econusa.

Sekadar diketahui, Bintuni merupakan salah satu daerah dengan hutan mangrovenya. Mangrove Teluk Bintuni terbaik di dunia setelah Raja Ampat. Luas hutan bakaunya sekitar 200 hektare, dan merupakan 10 persen dari luas hutan mangrove di Indonesia.

Hutan mangrove seluas itu menjadikan  Kabupaten Teluk Bintuni dapat mengembangkan komoditas perikanan, seperti udang dan kepiting.

Ekowisata

Selain hutan mangrove, Bintuni memiliki hutan gambut terbesar di Papua Barat. Pada 1980, hutan mangrove diusulkan WWF untuk masuk dalam cagar alam. Lalu ditindaklanjuti oleh Konservasi Internaional (CI).

Untuk pengembangan cagar alam, daerah ini masuk dalam kawasan strategis nasional, setelah Raja Ampat, sesuai Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

Salah satu program pemerintah daerah setempat adalah peningkatan pembangunan berbasis konservasi. Mangrove dinilai penting bagi perdagangan karbon.

Baca cerita selanjutnya di JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT