Mitos atau Fakta, Fast Food dan Rokok Memicu Penyakit Gerd?
TEMPO.CO | 10/09/2018 06:04
Ilustrasi sakit perut. Shutterstock
Ilustrasi sakit perut. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Penyakit Gerd atau Gastroesophageal Reflux Disease masih asing bagi mayoritas masyrakat Indonesia. Penyakit ini ditandai  dengan sensasi nyeri di ulu hati atau rasa terbakar di dada akibat naiknya asam lambung menuju esofagus.

Baca juga: Gejalanya Mirip Asma, Kenali Faktor Pemicu Penyakit Gerd

Banyak mitos dan fakta seputar penyakit Gerd yang beredar. Misalnya soal kebiasaan merokok. Banyak yang masih beranggapan rokok membahayakan jantung dan paru-paru. Tidak ada sangkut pautnya dengan lambung. Ari Fahrial Syam dari Yayasan Gastroenterologi Indonesia (YGI) menjelaskan, kebiasaan merokok secara langsung merusak esofagus.

"Gas yang kita hirup, termasuk asap rokok, itu memicu pembengkakan di lambung. Saat lambung mengembung, risiko terkena penyakit Gerd otomatis meninggi," kata Ari di Jakarta belum lama ini. Selain rokok, Ari menyayangkan kebiasaaan masyarakat Indonesia mengonsumsi makanan cepat saji.

Menurut Ari komponen makanan cepat saji itu sebagian besar adalah lemak. Lemak, termasuk keju dan cokelat, membuat pengosongan lambung melambat. "Fast food sesuai dengan namanya, dimakan dengan terburu-buru dan orang yang memakannya tidak mempersiapkan lambung mereka dengan baik. Makanan tidak terkunyah dengan maksimal dan itu membuat lambung bekerja lebih lama. Ini meningkatkan risiko terkena penyakit Gerd," ujarnya.

Ari menyarankan agar makan dengan menu dengan gizi seimbang. Selain itu, makanlah setelat-telatnya dua jam sebelum tidur. Sedangkan untuk penderita Gerd harus tidur menggunakan bantal yang lebih tinggi.

AURA

Artikel lain: Apakah Anda Sakit GERD atau Tidak, Jawab Pertanyaan Berikut


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT