6 Mitos soal Kulit Bayi dan Faktanya Menurut Dokter
TEMPO.CO | 31/08/2018 22:50
Ilustrasi bedak tabur. Momgoe.com
Ilustrasi bedak tabur. Momgoe.com

TEMPO.CO, Jakarta - Orang tua selalu sangat berhati-hati dalam melakukan perawatan pada kulit anak. Berbagai saran dari keluarga atau lingkungan kerap diikuti karena dinilai bagus untuk anak.

Namun, apakah perawatan kulit dan penggunaan produk untuk kulit anak sudah tepat? Berikut enam mitos perawatan kulit anak yang dikemukakan Matahari Arsy, dokter spesialis kulit dan kelamin untuk bayi dan anak

Baca juga:
Ternyata, Cinta pada Pandangan Pertama Cuma Mitos
Tidur Cantik Mitos atau Fakta? Simak Penjelasan Ahlinya
Mitos Klasik tentang Kecantikan dan Faktanya
Makanan Pahit Bikin Langsing, Mitos atau Fakta?

1. Penggunaan sabun antiseptik
Penggunaan sabun antiseptik memang baik untuk mengurangi timbulnya bakteri. Namun, gunakan seperlunya saja sebab jika terlalu sering digunakan justru akan menimbulkan iritasi.

“Senyawa kimia feno atau kresol tidak dianjurkan untuk kulit anak yang rentan iritasi. Penggunaan yang rutin tidak baik, gunakan seperlunya saja, misalnya saat anak habis bermain di tempat kotor. Pilihlah yang ringan dengan PH kulit netral, tanpa pewangi atau alkohol,” ujarnya.

2. Cuci tangan
Orang tua sering meminta anak untuk mencuci tangan setelah memegang berbagai benda untuk menghindari kotor, apalagi jika masuk ke mulut, dikhawatirkan bisa menyebabkan sakit. Padahal, cuci tangan terlalu sering ternyata dapat merusak barrier kulit.

“Kalau bukan bakteri berbahaya sebaiknya tidak perlu cuci tangan karena bakteri ada juga yang tidak bahaya,” tuturnya.

3. Mengoleskan minyak pada bayi
Banyak minyak yang biasanya rutin dioleskan pada bayi setelah mandi, seperti minyak telon, minyak bayi, serta minyak zaitun atau minyak kelapa. Penggunaan minyak pada bayi memang memiliki banyak keuntungan, seperti minyak telon untuk menghangatkan bayi.

Minyak zaitun, minyak kelapa, atau minyak bayi bisa untuk melembutkan dan melembabkan kulit bayi sekaligus dapat digunakan untuk memijat bayi. Namun, jika kurang tepat memilih, justru akan memberikan efek buruk.

“Minyak zaitun justru cenderung menyebabkan iritasi, kekeringan kulit, hingga eksem. Lebih baik pilih minyak khusus bayi yang mengandung sunflower oil,” ujarnya.

4. Penggunaan bedak bayi
Penelitian terbaru menyampaikan banyaknya efek buruk penggunaan bedak tabur, terutama untuk bayi di bawah satu tahun, sebab bedak tabur memiliki banyak partikel kecil yang berbahaya saat terhirup oleh bayi.

"Banyak kasus anak mengalami gangguan pernapasan karena menghirup itu. Hindarilah mengaplikasikan pada bagian leher, dada, apalagi wajah," katanya.

Menurutnya, anak tak perlu diberikan bedak tabur ketika berkeringat atau ada ruam atau infeksi pada area popok. Jika memang berkeringat yang tak berlebihan, disarankan untuk memakai pelembab saja karena lebih baik untuk kulit bayi.

5. Penggunaan tisu basah
Memang, tisu basah memiliki tekstur yang lebih lembut dibandingkan handuk atau kain biasa untuk kulit bayi. Namun, kandungan yang ada pada tisu basah harus benar-benar diperhatikan. Pewangi dan alkohol pada tisu basah akan menyebabkan iritasi pada bayi.

“Ada yang nonalkohol tapi tetap ada kandungan yang berisiko sebabkan iritasi, karena itu penggunaan tidak boleh berlebihan. Jika untuk bepergian boleh saja tapi kalau di rumah usahakan pakai kapas biasa dengan metode tepuk-tepuk,” paparnya.

6. Penggunaan tabir surya pada bayi
Penggunaan tabir surya disarankan untuk bayi di atas enam bulan sebab untuk bayi di bawah enam bulan pemberian tabir surya justru lebih banyak menimbulkan efek samping.

Kalau pun ingin menggunakan tabir surya pada bayi maka orang tua harus mencari yang memiliki kandungan seng, yang sifatnya lebih untuk melindungi fisik, bukan untuk melindungi secara kimiawi.

“Lebih aman lagi jika bayi menggunakan pakaian yang menutup seluruh badan dengan perlindungan kacamata tanpa harus menggunakan tabir surya,” ujarnya


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT