Olahraga Juga Bisa Picu Alergi, Ini Sebabnya
TEMPO.CO | 31/01/2021 16:16
ilustrasi olahraga treadmill (pixabay.com)
ilustrasi olahraga treadmill (pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Tahukah Anda kalau olahraga juga bisa memicu alergi seperti makanan dan obat? Gejalanya pun sama pada orang dengan kondisi langka yang disebut anafilaksis akibat berolahraga.

"Ini tidak selalu dimediasi oleh antibodi, tetapi olahraga adalah pemicu dan sel-sel alergi masih aktif," kata Dr. Andrew Murphy, pakar alergi di Pennsylvania, Amerika Serikat, dilansir dari Live Science.

Olahraga menurutnya bisa memicu reaksi alergi pada beberapa orang, tetapi caranya tidak diketahui. Satu teori menyebutkan olahraga menyebabkan pelepasan endorfin, yang memicu sel-sel kekebalan tertentu untuk melepaskan bahan kimia seperti histamin, menurut tinjauan 2010 di jurnal Current Allergy and Asthma Reports.

Orang yang memiliki kondisi yang dikenal sebagai anafilaksis akibat olahraga juga dipengaruhi makanan yang dikonsumsinya sebelum berolahraga. Bagi mereka, makan makanan tertentu sebelum berolahraga dapat menyebabkan gejala seperti mengi atau gatal-gatal, bahkan jika mereka tidak bereaksi terhadap makanan tersebut.

Baca juga: Kulit Anak Gatal setelah Pindah Rumah, Mungkin Ini Sebabnya

Ada beberapa teori mengapa makanan tertentu yang dikombinasikan dengan olahraga dapat menyebabkan reaksi alergi, termasuk olahraga membuat saluran pencernaan lebih rentan, memungkinkan penyebab alergi bersentuhan dengan sistem kekebalan tubuh dengan lebih baik.

Selain itu, ibuprofen juga dapat meningkatkan penyerapan alergen asing oleh tubuh, dan dapat langsung berinteraksi dengan sel kekebalan, menurut ulasan tersebut. Anafilaksis akibat olahraga jarang terjadi. Sekitar 2 persen orang di dunia Barat mengalami anafilaksis, dan 5-15 persen kasus disebabkan oleh olahraga, menurut ulasan tersebut.

Versi yang bergantung pada makanan dari kondisi ini kurang umum dan mewakili antara sepertiga dan setengah dari semua kasus. Perawatan untuk anafilaksis akibat olahraga yang bergantung pada makanan sederhana, jangan makan selama empat jam sebelum dan sesudah berolahraga, menurut sebuah ulasan dalam jurnal Expert Review of Clinical Immunology. Pilihan lainnya adalah menghindari makanan pemicu sepenuhnya, jika makanan tersebut diketahui.

Ketika olahraga adalah satu-satunya pemicu, menjaga kondisi bisa lebih sulit. Tetapi, dokter dapat membantu pasien mengembangkan latihan olahraga khusus, kata Murphy.

Sejumlah aktivitas dapat dilakukan orang dengan kondisi tersebut dengan aman bervariasi. Jalan-jalan santai dapat memicu reaksi pada beberapa orang, tetapi yang lain dapat bersepeda tanpa masalah. Setiap pasien harus bekerja sama dengan dokter untuk mengetahui batasannya sendiri.

Murphy selalu meresepkan EpiPen dalam keadaan darurat dan antihistamin juga dapat membantu mencegah, menurut ulasan tahun 2001 di jurnal American Family Physician. Reaksi serius terkait olahraga jarang terjadi. Dalam 25 tahun praktiknya, Murphy hanya melihat satu orang pingsan karenanya.

"Saya biasanya melihat lebih banyak orang dengan gejala yang berhubungan dengan kulit, seperti gatal-gatal, atau mengalami pembengkakan bibir atau mengi," katanya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT