Pesona Wisata Alam di Papua Barat: Air Terjun, Pantai hingga Kolam Air Panas
TEMPO.CO | 23/01/2021 11:09
Matahari terbit di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tempo/Francisca Chrisrty Rosana
Matahari terbit di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tempo/Francisca Chrisrty Rosana

TEMPO.CO, JakartaDinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua Barat akan mengembangkan potensi pariwisata di Kabupaten Tambrauw. Di sana, ada sejumlah objek wisata alam yang mempesona namun belum memiliki fasilitas pendukung.

"Tambrauw punya air terjun di Kampung Meyah, kolam air panas di Kebar, pantai Amberbaken dan pantai Sausafor," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua Barat, Yusak Wabia, Kamis, 21 Januari 2021.

Daerah itu pun mempunyai obyek wisata minat khusus, yakni lokasi berselancar di Pantai Sokate. Selama ini, wisatawan mancanegara sering berselancar di lokasi tersebut.

Di sana juga terdapat tempat pendaratan penyu yang selama ini menjadi lokasi konservasi penyu-penyu yang di ada seluruh dunia.

Yusak mengatakan tahun ini pihaknya akan membangun sejumlah fasilitas pendukung. Diantaranya membangun jembatan di air terjun Meyah dan fasilitas lain kolam air panas di Kebar.

Air terjun di kampung Miyah memiliki keunikan karena bertingkat tujuh. Airnya jernih dengan bentang alam yang indah.

"Untuk pantai Amberbaken dan Sausafor kita masukan dalam rencana pembangunan jangka panjang. Bertahap objek wisata di sana akan kita bangun," kata Yusak.

Pihaknya pun akan berkoordinasi dengan instansi lain termasuk kementerian/lembaga. Pembangunan infrastruktur di Tambrauw diharapkan berbasis pada pengembangan ekonomi dan pariwisata.

"Tambrauw masuk dalam perlintasan jalan Trans Papua-Papua Barat. Sudah hampir seluruh daerah di Papua Barat terhubung jalur darat. Kami yakni sektor pariwisata bisa berkembang di sana," kata Yusak.

Yusak juga berharap Kementerian Perhubungan mulai memikirkan pengembangan bandar udara di daerah itu. Hal ini dinilai sangat dibutuhkan baik pada pengembangan sektor pariwisata maupun layanan publik lainnya di Papua Barat. "Sudah ada lapangan terbang peninggalan Belanda yang siap dikembangkan. Selama ini baru pesawat perintis yang masuk," ujarnya.

Baca juga: Mitologi Pegunungan Cycloop Papua: Dewa Yunani - Dewa Sentani, Gunung Adumama


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT