Menisipkan Kearifan Lokal Suku Sasak di Homestay Wisatawan MotoGP Mandalika
TEMPO.CO | 18/01/2021 19:38
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar ditemani Nyai Lilik Umi Nashriyah meninjau Homestay yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Putri Nyale Kuta di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tenga
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar ditemani Nyai Lilik Umi Nashriyah meninjau Homestay yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Putri Nyale Kuta di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah membangun 915 homestay untuk menunjang pariwisata di Nusa Tenggara Barat atau NTB dalam menyambut wisatawan MotoGP Mandalika. Pembangunan homestay itu untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan yang ingin lebih dekat dengan keseharian masyarakat atau memiliki anggaran terbatas.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mengecek kesiapan homestay saat berkunjung ke Desa Wisata Gerupuk, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, pada Sabtu 16 Januari 2021. Sandiaga Uno mengatakan homestay di Desa Wisata Gerupuk ini merupakan salah satu pembangunan infrastruktur yang pembangunannya melibatkan masyarakat.

"Masyarakat turut mendesain kemudian membangun dan tentunya memperoleh manfaat dari homestay ini," kata Sandiaga Uno seperti dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sandiaga Uno menjelaskan, pembangunan homestay atau umum disebut bedah rumah itu merupakan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Direktur Rumah Swadaya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, K.M. Arsyad menjelaskan andil masyarakat dalam program bedah rumah tersebut. Menurut dia, para arsitek yang mendesain homestay mengakomodasi kearifan lokal masyarakat dan tercermin dari beberapa bagian rumah.

Baca juga: 
Penonton MotoGP Mandalika Punya Alternatif Penginapan Murah Meriah

Arsyad mengatakan, di bagian depan terdapat sesangkok yang menjadi bagian dari nuansa lokal. Bagian sesangkok otomatis membuat siapapun yang masuk ke dalam rumah menundukkan kepala. "Artinya memberikan penghormatan," katanya.

Ada pula desain atap stilasi yang mengadopsi kearifan lokal. Konsol homestay dibuat lebih rendah sebagai filosofi rumah adat Sasak yang bermakna tamu menghargai privasi pemilik rumah. Hingga kini terdapat 300 unit rumah yang sudah dibangun di Lombok.

Mengenai tarif menginap di homestay tersebut, Sandiaga Uno mengatakan harga satu kamar mulai dari Rp 250 ribu per malam. Tarif itu sudah termasuk sarapan, listrik, dan koneksi internet. Menurut Sandiaga Uno, homestay itu menyasar wisatawan generasi milenial kelas menengah baru yang ingin menikmati keindahan Mandalika, tapi tidak memiliki anggaran yang cukup untuk menginap di hotel bintang lima.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT