Kisah Dokter Kandungan Penyintas Covid-19, Tipisnya Batas Hidup Mati
TEMPO.CO | 07/12/2020 16:58
Ilustrasi - Ventilator rumah sakit. (ANTARA/Shutterstock/am)
Ilustrasi - Ventilator rumah sakit. (ANTARA/Shutterstock/am)

TEMPO.CO, Jakarta - Saat masih banyak orang tidak percaya keberadaan Covid-19, ada jutaan orang yang tak berdaya dan berjuang sembuh dari infeksi virus corona. Salah satunya dr. Ulul Albab, SpOG., spesialis kandungan di Jakarta. Beruntung dia bisa sembuh setelah 22 hari berjuang.

Menurut pengakuannya, masih ada sisa-sisa gejala yang dirasakannya hingga sekarang, seperti batuk. Dalam penuturan kisahnya via webinar Ulul mengatakan ketika pertama kali didiagnosa gejala yang dirasakan adalah batuk.

Dari batuk, gejala pun kian memburuk menjadi sesak napas. Bahkan, saturasi oksigennya sempat turun hingga 81 persen dan dia mengalami gangguan paru-paru ketika memeriksakan diri ke rumah sakit. Ia tak pernah menyangka akan mengalaminya.

Mungkin perasaan ini sama dengan pasien-pasien lain. Apalagi, dia merasa sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan memakai APD sesuai standar keamanan saat bertugas di rumah sakit. Ulul tercatat sebagai staf di tiga rumah sakit di Jakarta.

Dia mengaku kesibukanlah yang mungkin membuat imunitasnya menurun meski tidak mengetahui darimana bisa tertular. Ulul juga mengungkapkan perburukan gejala yang dirasakan sangat cepat. Bahkan, ketika dia masih bisa salat magrib dengan normal, berapa jam kemudian merasakan sesak napas.

Dr. Ulul Albab SpOg. (dok Le Minerale)

“Saat itu hidup dan mati saya hanya seperti membalikkan telapak tangan atau peluangnya hanya 50-50 persen,” kisahnya.

Saking buruk gejala yang dirasakan, dia sesak napas parah walau hanya berjalan 5 meter saja. Bahkan, alat oksigen dengan tekanan yang tinggi pun tidak bisa membantunya bernapas. Karena itulah akhirnya tim dokter yang menanganinya memutuskan untuk melakukan intubasi.

Intubasi merupakan pemberian ventilator atau alat bantu napas yang digunakan untuk pasien dengan kondisi kritis, dalam hal ini pasien Covid-19. Alat ini biasanya menggunakan pipa napas endotrakeal yang dimasukkan ke dalam saluran pernapasan melalui prosedur intubasi endotrakeal. Pasien akan dibius saat proses intubasi dan alat tersebut akan tetap berada di dalam saluran napas sampai pasien sembuh atau meninggal dunia.

Ulul sendiri menjalani intubasi selama sepekan. Adapun, total perawatannya di rumah sakit selama 22 hari. Dia menjelaskan selama dirawat juga mendapatkan terapi plasma darah yang berasal dari penyintas Covid-19 lain. Selain itu, dia juga mendapatkan pengobatan injeksi antivirus, vitamin, dan beragam jenis obat lain.

Usai ditidurkan selama sepekan, dia mengaku sempat merasa kebingunan dengan waktu karena selama tidur tidak sadar sama sekali. Efek lainnya, dia juga tidak bisa tidur sama sekali, bahkan hingga dua hari bisa tidak tidur. Kondisi itu dialaminya selama sekitar tujuh hari usai dibangunkan dari intubasi.

“Enggak ada rasa ngantuk sama sekali, padahal kepala sudah sakit, akhirnya saya dibantu obat-obatan agar bisa tidur dan juga dirujuk ke psikiater,” paparnya.

Sedangkan efek dari beberapa jenis terapi lain, dia sempat mengalami gangguan pencernaan, kepala sakit, dan juga telinga berdenging. Yang juga berpengaruh jadi penyintas Covid-19 ini adalah penurunan berat badan yang signifikan.

Dokter yang semula masuk dalam kategori obesitas itu mengaku turun berat badan hingga 13 kilogram. Dia juga mengatakan efek Covid-19 yang kemungkinan disebut long Covid-19 masih dirasakannya sampai sekarang, meski sudah 1,5 bulan melewatinya. Kadang dia masih merasakan batuk sehingga masih mengonsumsi obat ketika batuk muncul. Apalagi, menurut beberapa literasi, jika gangguan sisa perawatan Covid-19 bisa bertahan hingga 2-3 bulan.

Setelah sembuh, Ulul mengaku mengubah 180 derajat pola hidupnya agar lebih sehat. Misalnya saja, dia selalu berolahraga setiap hari, seperti jalan kaki dan bersepeda atau olahraga fisik ringan. Dia juga menjaga imunitas tubuh dengan cukup beristirahat dan mengonsumsi makanan sehat.

*Ini adalah konten kerja sama Tempo.co dengan #SatgasCovid-19 demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tegakkan protokol kesehatan, ingat selalu #pesanibu dengan #pakaimasker, #jagajarakhindarikerumunan, dan #cucitanganpakaisabun.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT