4 Hal yang Perlu Diperhatikan bila Sembuh dari Covid-19
TEMPO.CO | 07/12/2020 14:52
Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock
Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Apakah orang yang pernah terinfeksi Covid-19 dan sembuh kebal terhadap virus corona? Bisakah keluar di tempat umum tanpa #pakaimasker dan masih perlu mempraktikkan #jagajarak?

Pakar penyakit menular MD Anderson Center Universitas Texas, Roy Chemaly, memberikan empat anjuran dan larangan penting bagi yang telah sembuh dari Covid-19.

Jangan anggap kebal dari COVID-19
Hal terpenting yang harus dilakukan adalah jangan berasumsi orang yang telah sembuh jadi kebal terhadap virus corona. Ini karena banyak pakar masih mempelajari pola penularan virus corona.

“Jadi, meskipun pernah mengidap Covid-19 dengan gejala parah dan sembuh total tanpa komplikasi, kami tidak tahu apakah kekebalan alami akan melindunginya atau untuk berapa lama,” ungkap Chemaly, seperti dikutip MD Anderson Center.

Para ahli masih berspekulasi berapa lama kekebalan berasal dari vaksin atau paparan virus yang sebenarnya dapat bertahan lama atau mungkin hanya sementara. Jika hanya bersifat sementara, orang mungkin membutuhkan vaksin penguat setiap tahun untuk mempertahankan antibodi yang cukup untuk memberikan perlindungan yang berkelanjutan.

“Jika sistem kekebalan memperlakukan virus corona lebih seperti flu daripada gondongan, kekebalan mungkin tidak bertahan lebih dari 4-5 bulan,” tambah Chemaly.

Jadi, lebih penting lagi untuk tidak menganggap seseorang aman dari infeksi ulang jika termasuk dalam salah satu kelompok ini.

Tetap terapkan tindakan pencegahan Covid-19
Penyintas Covid-19 juga disarankan untuk terus mempraktikkan semua perilaku yang direkomendasikan para ahli untuk mencegah kemungkinan infeksi ulang, seperti #cucitangan, menjaga jarak, dan memakai masker.

Ini bukan hanya menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Penting juga untuk melindungi orang lain jika ada kemungkinan kecil penyintas Covid-19 masih dapat tertular.

Chemaly mengatakan sangat penting untuk terus menerapkan strategi pencegahan, terutama jika berada di dekat orang lain dengan gangguan kekebalan.

"Lakukan tindakan pencegahan yang sama seperti jika tidak terkena Covid-19. Hindari pertemuan besar dengan orang-orang dan bertindak seolah-olah infeksi ulang masih memungkinkan karena mungkin saja," ujar Chemaly

Lakukan disinfeksi di rumah
Pastikan untuk membersihkan dan mendisinfeksi rumah secara menyeluruh setelah seseorang keluar dari karantina. Tindakan ini akan membantu melindungi orang-orang yang tinggal bersama dari virus yang mungkin tertinggal di permukaan.

Namun, Anda tidak perlu memakai masker atau menjaga jarak dari orang yang tinggal serumah setelah memenuhi kriteria CDC untuk menghentikan karantina," lanjutnya.

Jangan pikir panjang untuk melakukan karantina jika kembali terpapar Covid-19
Salah satu ciri khas virus adalah bermutasi. Jika seseorang telah mengembangkan antibodi terhadap satu strain virus corona, tidak selalu berarti antibodi tersebut akan efektif melawan virus yang telah bermutasi.

“Sudah ada indikasi bahwa Covid-19 bermutasi. Kami memiliki bukti strain di Houston memperoleh mutasi spesifik yang mungkin membuatnya lebih menular, tetapi tidak lebih ganas,” papar Chemaly.

Hal ini menjadi alasan mengapa seseorang masih harus melakukan isolasi mandiri jika merasa telah terpapar virus atau mengalami gejala mengidap Covid-19, terutama jika sudah lebih dari tiga bulan sejak orang tersebut sendiri sembuh

“Ini semua adalah wilayah baru, jadi tidak ada jaminan, Karantina diri sampai masa inkubasi berlalu, hanya untuk berjaga-jaga," jelasnya.

*Ini adalah artikel kerja sama Tempo.co dengan #SatgasCovid-19 demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tegakkan protokol kesehatan, ingat selalu #pesanibu dengan #pakaimasker, #jagajarakhindarikerumunan, dan #cucitanganpakaisabun.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT