Manajeman Diabetes Tidak Hanya Penting Untuk Tenaga Kesehatan, tapi Juga Pasien
TEMPO.CO | 16/11/2020 23:52
Ilustrasi diabetes. Freepik.com
Ilustrasi diabetes. Freepik.com

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan, Subuh, mengatakan penting bagi penderita diabetes dan tenaga kesehatan untuk menguasai manajemen diabetes selama pandemi COVID-19. "Serta melaksanakan standar pelayanan minimal kesehatan terkait diabetes melitus secara baik," kata Subuh dalam acara Edukasi tenaga kesehatan dari level Puskesmas hingga Rumah Sakit mengenai manajemen diabetes selama pandemi COVID-19 oleh Nutrifood, BPOM dan, ADINKES pada 10 November 2020.

Subuh mengatakan data yang diperoleh ADINKES dari BPJS Kesehatan, sepanjang pandemi COVID-19 terjadi penurunan pemenuhan rasio pasien Program Pengelolaan Penyakit Kronis (prolanis) terkendali termasuk diabetes melitus. Data antara Februari hingga Mei 2020, penurunan itu terjadi hampir 50 persen di seluruh Indonesia. Sedikitnya pelayanan untuk pasien penyakit kronis itu terjadi salah satu faktornya adalah menurunnya angka kontak peserta Jaminan Kesehatan Nasional ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga 42 persen.

Di sisi lain, mayoritas fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan cukup terfokus untuk menangani pasien positif COVID-19, sehingga kapasitas pelayanan untuk penderita diabetes tidak semaksimal sebelumnya. Hal ini ditambah Riset Kesehatan Dasar menunjukkan sekitar 70 persen pasien diabetes melitus tidak terdiagnosis, angka ini sangat tinggi untuk perlu manajemen deteksi ke depan. "Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, maka kondisi kesehatan penyandang diabetes bisa terus memburuk serta komplikasi penyakit akibat diabetes melitus akan semakin tinggi," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kutai Kertanegara, Kalimatan Timur, Martina Yulianti, menjelaskan tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam memonitor kondisi kesehatan pasien diabetes di masa pandemi ini. Manajemen diabetes yang dapat dilakukan oleh para tenaga kesehatan bisa membuat gula darah pasien diabetes tetap terkontrol. Manajemen diabetes itu pun bisa membuat pasien diabetes terhindar dari komplikasi serius COVID-19. "Salah satu caranya adalah melakukan pemeriksaan gula darah minimal setahun sekali pada penduduk usia produktif 15-59 tahun, serta pada semua ibu hamil," kata Martina.

Pemeriksaan gula darah itu sesuai amanat Permenkes No 4 Tahun 2019 yang berkenaan dengan standar teknis pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan kepada seluruh sasaran standar pelayanan minimal Kesehatan. "Puskesmas bersama Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) lainnya juga harus mencapai rasio pasien prolanis terkendali diabetes melitus-nya minimal 5 persen dari seluruh total pasien diabetes melitus di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama tersebut. Hal ini tentu memerlukan manajemen yang baik oleh Puskesmas dan seluruh FKTP lainnya,” kata Martina.

Manajemen diabetes juga perlu dilakukan oleh penderita diabetes itu sendiri. Selama pandemi COVID-19, kesehatan pasien diabetes bisa memburuk dengan adanya perubahan pola hidup seiring dengan peraturan PSBB oleh beberapa pemerintah daerah. Kurangnya aktivitas fisik, diet tidak seimbang, level stres yang tinggi serta menurunnya kunjungan kontrol ke FKTP akibat pandemi juga dapat memperburuk kesehatan pasien diabetes yang menjadi tantangan Puskesmas dan FKTP lainnya untuk segera memperbaiki penanganan pasien diabetes melitus.

Menurut Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Mardi Santoso pasien kencing manis atau diabetes melitus
dianjurkan untuk menjalani manajemen diabetes mandiri selama pandemi COVID-19 dan harus beraktivitas serta tinggal di rumah saja. Beberapa hal yang dianjurkan dilakukan pasien adalah sebagai berikut :

1. Siapkan nomor telepon dokter atau tim medis untuk konsultasi berkala mengenai pengelolaan penyakit DM, antara lain tentang pengobatan, pemantauan gula darah, perubahan pada asupan makanan, aktivitas fisik, keluhan dan lain-lain.
2. Siapkan list obat dan dosisnya (termasuk vitamin dan suplemen).
3. Siapkan karbohidrat sederhana cepat serap seperti gula pasir, madu, selai manis, permen untuk menjaga jika mendadak kadar gula darah turun/hipoglikemi pada diabetesi yang berisiko gula darah turun karena sukar makan. Misalnya pada pasien lansia, pasien gangguan pencernaan atau penyakit-penyakit lain yang menimbulkan asupan makanan berkurang.
4. Siapkan strip dalam jumlah cukup untuk glukometer (alat periksa gula darah mandiri), terutama pasien-pasien dengan kadar gula darah naik-turun tidak stabil.
5. Siapkan stok obat-obat kencing manis tablet/insulin yang biasa dikonsumsi atau yang diresepkan dokter dalam jumlah cukup, minimal untuk 2 minggu ke depan.
6. Gunakan layanan telehealth atau telemedicine untuk konsultasi dokter dan pembelian obat jarak jauh, sehingga diabetesi tidak harus meninggalkan rumah. Kecuali kondisi fisik sangat menurun sehingga perlu pemeriksaan dokter di RS.

Kasubdit Standardidasi Pangan Olahan Tertentu, Direktorat Standardisasi Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan, Yusra Egayanti, meengatakan kondisi kesehatan diabetesi yang memburuk juga bisa dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi gula garam dan lemak berlebih. Salah satunya karena kurang mencermati informasi nilai gizi pada label pangan olahan. "Untuk menjaga kadar gula darah normal, diabetesi harus menerapkan pola hidup sehat di antaranya dengan membatasi konsumsi gula garam lemak, yaitu 50 gram gula per hari; 5 gram garam per hari; dan 67 gram lemak per hari. "Salah satu upaya membatasi asupan tersebut, diabetesi harus mencermati informasi nilai gizi sebelum mengonsumsi pangan olahan, agar dapat mengonsumsi produk sesuai kebutuhan nutrisi harian. Tentunya aktifitas fisik yang cukup, dan pengendalian stress juga perlu dilakukan,” katanya.

Head of Corporate Communication Nutrifood, Angelique Dewi mengatakan Nutrifood aktif berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam rangka mengedukasi #BatasiGGL serta risiko diabetes dan cara pencegahannya. Nutrifood percaya kolaborasi strategis adalah kunci memperbesar dampak positif bagi masyarakat. Menurut Angelique, penting bagi masyarakat untuk menjalani gaya hidup sehat agar terhindar dari diabetes. Sedangkan bagi diabetesi diharapkan lebih waspada selama masa pandemi COVID-19. "Baik orang tanpa diabetes maupun penderita diabetes dianjurkan untuk terus menjaga pola makan sehat, menjaga berat badan, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan tinggi serat, memperhatikan porsi dan waktu makan, serta membatasi GGL sesuai anjuran Kementerian Kesehatan," katanya.

Angelique pun mengingatkan untuk mencegah risiko terinfeksi COVID-19, disarankan untuk menjaga kebersihan diri termasuk sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, beraktivitas di rumah saja, istirahat cukup, dan jaga jarak serta gunakan masker saat berada di tempat umum.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT