Tidak Hanya Masalah Kesehatan Jiwa, Ini Sebab Kekerasan Anak Naik Saat Pandemi
TEMPO.CO | 09/10/2020 19:34
Ilustrasi kekerasan pada anak. shutterstock.com
Ilustrasi kekerasan pada anak. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Kak Seto atau yang bernama asli Seto Mulyadi mengatakan bahwa kekerasan terhadap anak meningkat selama pandemi virus corona. "Dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia memang menunjukkan angka bahwa kekerasan terhadap anak meningkat, baik itu kekerasan psikologis, kekerasan fisik maupun yang ini sangat memprihatinkan yaitu kekerasan seksual," kata Kak Seto dalam bincang-bincang virtual 'Parents Talk Dompet Dhuafa', Jumat 9 Oktober 2020.

Kekerasan terhadap anak selama pandemi justru banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti keluarga. Faktor penyebab dari tindak kekerasan ini pun beraneka ragam, mulai dari orang tua yang stres karena kondisi saat ini, tidak sabar dalam mengajarkan anak atau masalah ekonomi. "Para ayah dan bunda jaga kesehatan jiwa atau mental kita. Kita juga manusia biasa yang bisa marah. Marah ini mohon dikendalikan dengan cara-cara yang cerdas, tidak membanting pintu, tidak membanting piring atau maki-maki tapi ungkapkan saja," kata Kak Seto.

"Misalnya, 'Sayang bunda marah, waktu itu kita janji mau main sama-sama sambil marah'. Ungkapkan marah tapi tidak merusak persahabatan dengan anak," lanjut Kak Seto.

Mengungkapkan marah juga bisa dilepaskan dengan berbagai cara seperti melukis, menulis buku harian, bercerita dengan teman dekat atau menulis puisi. "Bersih-bersih mainan anak, waktu bersih-bersih energinya keluarkan dari situ. Bikin puisi, bikin lagu kalau perlu teriak dengan nada indah. Jadi tidak dilepas ke anak sehingga menyebabkan anak jadi sakit hati," kata Kak Seto.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT