Kecintaan Anak dalam Membaca Buku Bisa Berawal dari Kebiasaan Bercerita
TEMPO.CO | 30/09/2020 23:53
Ilustrasi wanita membaca buku. shutterstock.com
Ilustrasi wanita membaca buku. shutterstock.com

TEMPO.CO, JakartaMembaca adalah inti dari pendidikan. Sayangnya budaya membaca di Indonesia masih sangat rendah. Data The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan, budaya membaca di Indonesia termasuk yang paling rendah dari tahun ke tahun. Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mengatakan untuk mengejar kemampuan membaca saja, Indonesia butuh 45 tahun. Sedangkan untuk mengejar ketertinggalan di bidang sains, Indonesia membutuhkan waktu 75 tahun lamanya.

Penggagas Gerakan Literasi Sekolah, Dharma, mengatakan perlu ada kesadaran akan pentingnya penguasaan literasi membaca sejak dini, oleh semua pihak. “Reading is the heart of education. Anak yang tiap hari sekolah tapi tidak membaca, sebenarnya dia tidak mendapat pendidikan. Tidak ada gunanya guru berbicara dan mengajar setiap hari, karena dengan hanya mendengar maka anak-anak tidak mendapat pendidikan,” katanya dalam diskusi bertema ‘Manfaat Storytelling untuk Perkembangan Karakter Anak pada Rabu 30 September 2020.

Dampak dari budaya literasi yang rendah, menurut Satria Dharma bisa dilihat dari status Indonesia sebagai pengirim buruh migran terbesar. Tenaga Kerja asal Indonesia sudah mencapai 9 juta orang. Banyak dari TKI ini hanya lulus SD atau SMP saja. “Karena kemampuan literasi kita rendah, kita tidak mampu menggerakkan roda perekonomian negara kita sendiri,” kata Dharma.

Literasi rendah juga mengakibatkan hoax dan hate speech merajalela. Menurut Dharma, sebenarnya anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang sama besarnya dengan negara lain. Lalu apa masalahnya? Ternyata sejak kecil, dan selama sekolah, anak-anak Indonesia tidak diwajibkan membaca buku.

Bandingkan dengan di Thailand. Siswa SMA di sana wajib membaca 5 judul buku, di Amerika Serikat 32 judul buku. “Di SMA Indonesia, 0 judul. Ini fakta yang sangat menyakitkan. Jadi anak-anak kita rabun membaca dan tidak menulis. Prestasinya rendah. Dari 41 negara, kita hanya peringakt 39 PISA,” ujar Dharma.

Pendiri Kampung Dongeng Indonesia, Awam Prakoso mengatakan pembiasaan membaca bisa dimulai dari tingkat keluarga. “Seperti membakar obat nyamuk, dari tengah lama-lama meluas sampai tingkat kelurahan, kecamatan, dan seluruh negeri,” ujarnya. Hal itu pula yang dilakukannya. Awam dan istrinya sering secara bergantian membacakan buku kepada anak-anaknya. Lama kelamaan, Awam membacakan buku untuk anak-anak di lingkungan rumahnya. Kemudian, ia pun keliling Indonesia, bahkan dunia, dengan membacakan buku sekaligus mendongengkan berbagai kisah untuk anak-anak.

Buku, lanjut Awam, bisa menjadi satu alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan edukasi pada anak-anak. Orang tua bisa membacakan buku cerita, atau bahkan mendongeng sejak untuk anaknya di usia sedini mungkin.

Head of Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation Eddy Hendry menjelaskan ketika berbicara soal literasi sebenarnya bukan hanya kemampuan membaca yang penting dilihat, tapi juga memahami bacaan. Saat ini belum banyak diterapkan kebiasaan membaca di usia dini. Apalagi sekarang anak-anak lebih akrab dengan gadget. Kebiasaan mendongeng pun semakin berkurang. “Kami ingin ada gerakan literasi Indonesia Cinta Membaca, memastikan agar anak-anak punya kebiasaan membaca usia dini,” katanya.

Salah satu kegiatan Indonesia Cinta Membaca adalah mengadakan kompetisi membaca di mana kegiatan membaca bisa menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Eddy berharap anak Indonesia bisa mencapai potensi penuh belajar mereka. "Hal ini selaras dengan dukungan kami pada pemerintah untuk menekan angka stunting. Bicara stunting bukan soal gizi saja tapi juga aktifnya pola asuh dan kualitas pengasuhan orangtua dan di sekolah,” kata Eddy.

Otak manusia berkembang sangat pesat di usia 1.000 hari pertama kehidupan. Ini adalah masa-masa krusial dalam tumbuh kembang anak karena sinaps yang terbentuk pada usia ini sangat cepat. Jadi sebenarnya usia dini adalah investasi yang sangat besar. Kegiatan membaca adalah salah satu stimulasi untuk memaksimalkan perkembangan otak anak. Di negara-negara maju, minat baca sudah dimulai jauh sebelum mereka bisa membaca. "Hasilnya, anak-anak yang suka membaca tidak memiliki kesulitan ketika bersekolah. Sebaliknya, anak yang tidak suka membaca ternyata dikaitkan dengan tingkat kriminalitas yang cenderung lebih tinggi ketika mereka dewasa," katanya.

Untuk meningkatkan minat baca, Tanoto Foundation ikut melatih storytelling bagi pengajar Pendidikan Anak Usia Dini di beberapa kota, seperti Jakarta, Kutai Kartanegara dan Pandeglang. Kegiatan itu bekerja sama dengan Nila Tanzil, Pendiri Taman Bacaan Pelangi, dan organisasi-organisasi lain untuk ikut melakukan gerakan antara lain storytelling di sosial media seperti Intagram Live setiap Ahad.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT