Menyiapkan Warisan untuk Keluarga, Cukupkah Hanya Berupa Tabungan?
TEMPO.CO | 29/09/2020 05:30
Ilustrasi perencanaan keuangan (pixabay.com)
Ilustrasi perencanaan keuangan (pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur AXA Financial Indonesia Niharika Yadav mengatakan pemahaman masyarakat akan perencanaan keuangan masih rendah di Indonesia. Akibatnya, banyak yang lebih fokus pada perencanaan keuangan jangka pendek, bukan jangka panjang. "Maka penting sekali menjadi mandiri secara finansial," katanya pada workshop Perencanaan Keuangan untuk Persiapan Warisan Keluarga 24 September 2020.

Direktur AXA Financial Indonesia Cicilia Nina Triana mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang perlu dilakukan saat merencanakan keuangan. Ia mengatakan seseorang memikirkan manajemen risiko, manajemen arus keuangan, investasi, pendidikan, pajak, serta rumah.

Cicilia mengatakan ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan masyarakat saat menangani keuangan mereka. Kesalahan pertama terlihat dari jangka perencanaan keuangannya. Setuju dengan Niharika, Cicilia mengatakan masyarakat terlalu sering memikirkan perencanaan keuangan jangka pendek. "Masyarakat kita lebih banyak berencana, tapi eksekusinya tidak ada," katanya.

Masalah lain, masyarakat pun sering telat memulai perencanaan keuangan. Ketika telat mulai merencanakan keuangan, telat pula nanti mendapatkan hasilnya. Ia pun menyayangkan ketika ada orang baru mulai merencanakan keuangan saat usianya sudah 50 tahun. Pada usia itu, tentu investasi untuk pensiun sulit dilakukan.

Beberapa masyarakat juga mengacuhkan inflasi, terlalu konservatif dalam investasi serta jarang memikirkan proteksi. "Masyarakat kita juga lebih banyak menyisakan, bukan menyisihkan. Padahal, sebaiknya saat ingin menabung, sisihkan dulu dari gaji, lalu belanjakan sisanya. Bukan malah tabung sisa gaji setelah belanja," kata Cicilia.

Kesalahan perencanaan keuangan bisa berdampak panjang untuk dirinya dan keluarga. Ia mencontohkan bila tulang punggung keluarga sakit atau bahkan meninggal, keluarga tercinta bisa mengalami berbagai hal buruk. Keluarga bisa saja saling bertengkar entah karena tidak memiliki warisan atau bahkan harus berbagi warisan. "Banyak kasus sengketa yang terjadi karena mendapat warisan besar. Warna asli anggota keluarga jadi muncul," kata Cicilia.

Tidak jarang pula anggota keluarga bertengkar tentang landasan pembagian warisan. Anak laki-laki mungkin ingin menggunakan pembagaian hak waris dari segi Hukum Agama, karena jenis hukum itu menuntungkan para lelaki. Anak lain pun bisa saja meminta landasan pembagian berdasar Hukum Waris Nasional, karena biasanya nilai perempuan dan laki-laki sama nilainya. Anak lain mungkin lebih suka menggunakan landasan Hukum Waris Adat, karena bagi suku berdasar garis keturunan ayah atau Patrilineal para lelaki akan diuntungkan. Sebaliknya, masyarakat dengan adat Matrilineal, jumlah keuntungan akan diberikan kepada pihak perempuan. "Hukum Agama, Hukum Nasional dan Hukum Adat berlaku semua di Indonesia," katanya.

Masalah lain, ketika ditinggalkan keluarga tanpa warisan, pihak keluarga mungkin akan sulit membayarkan hutang yang belum terbayar. Salah satu contohnya saat kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga meninggal, ada hutang pembayaran mobil atau rumah. Tanpa warisan, keluarga bisa jadi terbebani dengan hutang itu.

Tabungan dan investasi menjadi bagian dari perencanaan keuangan, tapi seringkali orang melupakan bahwa ada juga asuransi. "Asuransi bisa menjadi proteksi aset Anda," katanya.

Cicilia mengatakan bahwa orang yang sudah memiliki asuransi tidak perlu kehabisan aset ketika sakit atau mengalami celaka. Saat meninggalpun, pihak keluarga yang ditinggalkan bisa mendapat berbagai keuntungan dari asuransi.

Keluarga, kata Cicilia, tidak perlu bertengkar memilih landasan hukum apa yang perlu digunakan untuk pembagian warisan. Karena biasanya nama mereka sudah langsung tertera sesuai dituliskan di kontrak.

Keluarga yang ditinggalkan pun tidak perlu kesulitan berpikir soal pembayaran hutang yang belum terbayar. "Karena uang asuransi itu mudah dicairkan dan bisa langsung digunakan untuk membayar berbagai hutang," katanya.

"Jadi asuransi ini akan tepat sasaran dan bebas sengketa," kata dia.

Selain itu, asuransi bukanlah objek pajak dan bebas bea sebab tak ada proses balik nama. Berbeda halnya jika warisan dalam bentuk aset yang memang memerlukan proses balik nama. Di sisi lain, asuransi turut berguna untuk membiayai kebutuhan perawatan jika pemilik asuransi mengalami risiko, seperti sakit atau kecelakaan. Sebab, biaya rumah sakit bisa saja sangat besar nilainya, yang mungkin sulit tercukupi jika hanya mengandalkan tabungan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT