Berbagai Cara Umat Muslim Sambut Tahun Baru 1 Muharram
TEMPO.CO | 20/08/2020 09:58
Puluhan warga mengikuti pawai obor di kaki Gunung Manglayang, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Rabu, 19 Agustus 2020. Pawai obor tersebut digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1442 Hijriyah. ANTARA/Raisan Al Farisi
Puluhan warga mengikuti pawai obor di kaki Gunung Manglayang, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Rabu, 19 Agustus 2020. Pawai obor tersebut digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1442 Hijriyah. ANTARA/Raisan Al Farisi

TEMPO.CO, Jakarta - Tahun Baru Islam diperingati setiap 1 Muharram dan biasanya menjadi waktu untuk merenung bagi sebagian umat muslim. Mereka biasanya ke masjid, berdoa untuk kesejahteraan, dan menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat.

Di Jeddah, Arab Saudi, para muslim memiliki tradisi menyajikan segelas susu di pagi hari. Tujuannya agar sisa tahun tetap bersih dan putih. Lalu di siang hari, mereka menyajikan makanan yang didominasi warna hijau (Mulukhia) dengan harapan sisa tahun tahun akan diberkati.

Di Indonesia, sebagian muslim berkirim ucapan selamat tahun baru dan saling mendoakan kebaikan melalui pesan elektronik ataupun cuitan di media sosial. Masyarakat di Semarang umumnya menyajikan tumpeng dengan berbagai lauk pauk dan menggelar perayaan. Tumpeng akan disantap bersama-sama dalam balutan tradisi "Kembul Bujana".

Lalu, ada juga muslim yang memperingati hari penting 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Asyura, yakni saat pertempuran Karbala terjadi pada 61 H dari kalender Islam. Pertempuran itu mempertemukan tentara Kalifah Umayyah kedua Yazid I dan pasukan kecil yang dipimpin Hussein Ibn Ali, cucu Nabi Muhammad SAW. Hussein terbunuh di pertempuran itu.

Muslim di Timur Tengah yang menganut Syiah biasanya saat itu menunjukkan kesedihan atas meninggalnya Hussein, sementara muslim Sunni akan mengucapkan doa pujian kepada nabi untuk menghormatinya.

Di Indonesia, sebagian muslim di berbagai daerah biasanya menyajikan kuliner khas di tanggal itu. Umat Islam di Gorontalo, misalnya, menyajikan kue apangi atau apem yang berbahan dasar tepung beras dan gula merah. Gula merah melambambangkan keberanian atau pengorbanan sementara kue apem berwarna putih sebagai simbol kesucian.

Di sisi lain, muslim Ki Gede Ing Suro Kota Palembang umumnya menyajikan bubur suro. Bubur ini ditambah berbagai bumbu, seperti bawang putih, bawang merah, ketumbar, merica, garam, kecap, bumbu sup, dan minyak makan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT