Mengenang Desainer Anne Rufaidah, Pelopor Tren Hijab di Indonesia
TEMPO.CO | 09/07/2020 21:20
Desainer Anne Rufaidah (Dok. APPMI)
Desainer Anne Rufaidah (Dok. APPMI)

TEMPO.CO, Jakarta - Kabar duka datang dari industri fashion Tanah Air. Desainer busana muslim senior, Anne Rufaidah, mengembuskan napas terakhir di usia 58 tahun, Kamis 9 Juli 2020. Putri dari E. Agah Badjuri ini tutup usia di Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. 

Desainer yang dikenal dengan karya busana muslimah kontemporer ini memulai perjalanan kariernya sejak 1981, saat usianya 17 tahun. Pada 1979 Anne Rufaidah menjadi finalis Lomba Perancang Mode (LPM) Majalah Femina, bersama rekannya sesama desainer dan anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Corrie Kastubi.

"Sudah lama dia berkarya dan menjadi salah satu pelopor busana muslim bersama dengan Ida Royani, koleksi Anne lebih ke anak muda. Kebetulan Anne dan Ida sama-sama satu divisi muslim di APPMI, dan dia aktif sekali berkarya baju muslim," ucap Corrie saat dihubungi Tempo.co, Kamis, 9 Juli 2020.

Ketua APPMI Poppy Dharsono mengatakan desainer kelahiran 15 Juni 1962 ini punya dedikasi tinggi. Dia manjadi salah satu anggota di awal APPMI dan mulai mempopulerkan busana muslim yang saat itu masih dipandang sebagai tren yang kurang menarik. Sampai kemudian Anne memimpin sebagai Ketua Divisi Busana Muslim.

"Saat itu saya melihat passion Anne di busana muslim cukup kuat, meski masa itu busana muslim belum fenomenal seperti sekarang. Saat busana muslim bisa muncul di panggung peragaan busana juga belum banyak yang melirik. Saat itu saya optimis kalau beberapa tahun lagu busana muslim bisa jadi tren," ungkap Poppy kepada Tempo.co, Kamis 9 Juli 2020.

Salah satu rekannya sesama desainer busana muslim, Irna Mutiara, juga turut mengungkapkan dukacita mendalamnya melalui laman Instagram, Kamis, 9 Juli 2020. Anne Rufaidah bagi Irna adalah salah satu idola ketika baru mengenal dunia fashion. Anne adalah Pemenang Gadis Remaja Berbakat (majalah Gadis) yang prestasinya banyak.

"Lalu aku tambah ngefans ketika beliau kuliah di FSRD ITB dan banyak membuat desain busana muslimah yang saat itu masih langka. Majalah Gadis sempat menampilkan Teh Anne dengan busana pengantin berhijab yang saat itu belum ada," kata Irna.

Karya-karya Anne juga pernah ditampilkan dalam peragaan busana ajang tahunan bergengsi yang dihelat APPMI, Indonesia Fashion Week 2017 yang bertema Celebration of Culture. Salah satu gelaran yang mencuri perhatian ialah Tenoen Etnik dengan nuansa batik. Pada acara yang disponsori oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), enam desainer kenamaan menampilkan karya terbaik, salah satunya Anne Rufaidah.

Pada kesempatan itu, mereka berkolaborasi menampilkan kreasi tenun khas beberapa daerah di Indonesia. Anne Rufaidah turut meramaikan pergelaran ini dengan menghadirkan 16 koleksi busana yang mengangkat kekayaan alam dari Timur menggunakan tenun Tana Toraja yang didominasi warna gold, marun, dan hitam.

Selain merancang busana, Anne juga menerbitkan buku berjudul Anggun Berkerudung di Segala Kesempatan dan Padu Padan Busana Muslim untuk Remaja. Buku yang bertajuk Anggun Berkerudung di Segala Kesempatan ini berisi ide-ide kreatif dari Anne untuk mengenakan kerudung yang sesuai syariat, yaitu yang menutup kepala, leher, dan telinga. Meskipun menutup rapat kepalanya, pengguna kerudung-kerudung ini tetap dapat terlihat modis, anggun, dan manis.

Cara pemakaian kerudung di dalam buku ini dapat diterapkan pada scarf segi empat, selendang, dan juga selendang panjang. Perlengkapnya bisa berupa scarft lain, selendang kecil, bando, topi, bros, hingga aksesoris lain yang sebelumnya tak terpikirkan untuk dikenakan bersama kerudung.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT