Risi Bicara tentang Seksualitas pada Anak? Simak Tips dari Ahli
TEMPO.CO | 01/07/2020 08:45
Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com
Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak hidup dalam masyarakat di mana pembicaraan seksual adalah hal yang tabu atau tidak pantas. Padahal menurut ahli, memulai percakapan memulai tentang seksualitas sejak dini dan melanjutkan percakapan ketika anak tumbuh remaja adalah strategi pendidikan seks terbaik.

Psikolog Anak dan Keluarga Samanta Ananta mengatakan, berbicara perkara seksualitas masih membuat orang tua risi dan tidak nyaman. Sebab, seksualitas adalah hal yang personal sangat erat dengan tubuh seseorang, hal yang sifatnya rahasia, privasi, dan sama sekali tidak boleh diketahui.

"Bicara seksualitas tak ubahnya seperti melepas lapisan topeng hingga berlapis-lapis. Buat membahas dan membicarakan menjadi satu topik itu memang susah, walau kampanye atau acara yang terkait seksualitas sering kita akses, tapi begitu sama anak malah jadinya berubah," ucap Samanta dalam Live Instagram Parenting Indonesia, Selasa 30 Juni 2020.  

Berbicara seksualitas adalah hal yang privasi jadi kembali lagi ke orang tua, nyaman atau tidak, mau membuka diri.

Namun, menurut Samanta, jika suatu keluarga terbiasa terbuka dengan pasangan, maka kebiasaan itu akan terbawa ketika mereka punya anak, termasuk pembicaraan soal seksualitas.

Jadi bagaimana agar membicarakannya bisa lebih mudah? Menurut Samantha, kebiasaan ini bisa dimulai sedari anak masih bayi.

Pertama, sejak kecil penting sekali kita minta izin untuk membersihkan area genital. "Permisi ya sayang, mama dan papa bersihkan dulu kotoran pupnya"

"Dia ngerti tidak? Iya dia mengerti dan dari situ anak mengerti bahwa dia diperlakukan penuh respek, sehingga merasa di level nyaman. Setiap kali lakukan sampai dia sudah bisa lulus toilet training dan tidak minta bantuan ke kita. Kecuali atas izin dia misalnya sedang sakit," ucap Samanta. 

Kedua, jangan telanjang di depan anak juga tidak boleh dilakukan termasuk ketika orang tua melakukan aktivitas seksual, walau di boks dan di tempat tidur utama. Akan mempengaruhi alam bawah sadar dan bisa terbawa ketika dia dewasa.

Ketiga, saat anak berusia mulai 2 hingga 3 tahun dan sudah bisa diajak bicara anak bisa mandi bersama dan sekaligus menjelaskan fungsi organ tubuh. Mandi bareng bukan berarti tidak pakai baju.

"Orang tua bisa menerangkan dengan jelas nama alat vital disebutkan namanya tanpa kata ganti yang lain. Lalu anak akan tanya untuk apa? Sebut hanya fungsinya, kalau alat genital untuk pipis ya sebutkan untuk pipis. Perlu diperhatikan bahwa anak juga tidak boleh membantu membersihkan tubuh orang tua," ucap Samanta.

Jadi, lanjut Samanta ada modeling orang tua dengan mengajarkan cara membersihkan alat genital juga, selain saat mandi bersama orang tua juga bisa mencotohkan dengan gambar atau boneka.

Keempat, seiring anak tumbuh pastikan jika mereka selalu percaya kepada orang tua terutama hal-hal yang bersifat privasi. Semakin sering kita membicarakan hal-hal yang terkait seksual akan memudahkan proses perubahan dia, karena saat transisi anak mengalami krisis. 

Sebab mereka ada tuntutan untuk menjaga genital lebih bersih, terlihat rapi dan bagus dalam penampilan. Belum lagi perubahan kepribadian dan tuntutan sosial dalam pergaulan mereka. "Jadi pastikan anak mendapat informasi bagaimana mereka menjalani masa pubernya," imbau Samanta.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT