Begini Cara Menikmati Clubbing Usai Pandemi
TEMPO.CO | 01/06/2020 12:37
Pengjung antusias menyaksikan penampilan penyanyi Casey Donovan yang tampil dalam konser drive-in yang diselenggarakan untuk memungkinkan orang menonton musik secara live walau hanya berada di dalam mobil, di tengah pembatasan sosial untuk mencegah penyeb
Pengjung antusias menyaksikan penampilan penyanyi Casey Donovan yang tampil dalam konser drive-in yang diselenggarakan untuk memungkinkan orang menonton musik secara live walau hanya berada di dalam mobil, di tengah pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Virus Corona di Sydney, Australia, 21 Mei 2020. REUTERS/Loren Elliott

TEMPO.CO, Jakarta - Di klub malam di seluruh dunia, lantai dansa yang dulu penuh sesak, kini jadi tempat kosong selama berbulan-bulan. Padahal, clubbing adalah aktivitas kontak yang rapat: pengunjung berbagi minuman, pelukan, ciuman, dan umumnya saling menyerbu ruang pribadi masing-masing hingga dini hari.

Ada rencana clubbing juga bakal dibuka kembali, setelah karantina wilayah di seluruh dunia. Situasi saat ini menimbulkan masalah bagi kehidupan malam. Bagaimana orang bisa dengan aman menyentuh lantai dansa sambil menghormati langkah-langkah protokol kesehatan baru atau bisakah clubbing di mana pengunjung saling berjauhan?

Dinukil dari CNN, di Cina, tempat klub malam telah dibuka kembali. Pengunjung menjalani pemeriksaan suhu sebelum memasukkan dan mendaftarkan informasi pribadi mereka, untuk mempermudah pelacakan kontak. Tempat-tempat menawarkan tindakan pencegahan ekstra seperti gelas sekali pakai dan disinfektan kamar mandi setiap jam.

"Ketakutan adalah tantangannya," kata Shane Davis, salah satu pendiri dan direktur kreatif venue Brooklyn Public Records, melalui obrolan video dengan CNN. "Ini adalah ketakutan akan hal yang tidak diketahui, rasa takut berada di antara orang-orang yang tidak perlu kau percayai."

Di Korea Selatan, sekelompok kasus baru yang dikaitkan dengan klub malam memaksa semua bar dan klub di Seoul ditutup, hanya beberapa minggu setelah langkah-langkah sosial jarak fisik mereda. Lalu di Munster, Jerman, sekelompok anak muda menikmati pesta dengan musik elektronik pertama yang disetujui di Eropa, sejak gelombang infeksi memaksa klub malam ditutup.

Selama beberapa dekade, klub malam telah memberikan rasa kebersamaan dalam masa pergolakan sosial atau politik, yang sering berkembang di bawah keterbatasan dan pengekangan.

DJ Hannah, menyiarkan langsung aktivitasnya melalui media sosial di tempat tinggalnya di Denpasar, Bali, Rabu, 15 April 2020. Sejumlah DJ dan penyanyi telah melakukan konser secara live streaming untuk menghibur penggemarnya di masa isolasi mandiri. ANTARA/Fikri Yusuf

Pada 1970-an, diskotik Kota New York menawarkan tempat yang aman untuk para LGBTQ. Pada tahun 1988, para pemberontak dari acid house (subgenre house music) dan hedonistik menyapu Inggris dan melahirkan gerakan musik yang sama sekali baru. Lalu pada 1990-an, musik tekno di Jerman berkembang setelah jatuhnya Tembok Berlin, menyatukan pemuda negara yang dulu terpisah.

Kini klub-klub alam di  banyak tempat berjuang untuk tetap bertahan – mengabaikan kapasitas maksimal mereka. Para pengelola berharap desain, teknologi dan beberapa kecerdikan kreatif dapat membantu agar orang kembali ke klub malam, bahkan jika sentuhan tidak diizinkan.

Jadi, beginilah pemandangan klub malam usai pandemi dan menjadi tren baru klub malam pada 2020 dan seterusnya, dinukil dari CNN Life Style.

Gelombang baru gaya subkultur

Satu studio yang berbasis di LA telah membayangkan alat pelindung yang sepertinya terinspirasi dari film "Tron." Konsep baju yang dibuat Micrashell adalah setelan tubuh bagian atas dan helm dengan filtrasi partikel N95, yang dapat dikenakan pada pakaian pengunjung.

Untuk menjaga desain kedap udara dan - secara teori - bebas virus, pemakai minum dari tabung alkohol yang terpasang dalam setelan. Mereka berkomunikasi melalui pengeras suara yang terpasang dalam baju. Production Club, yang juga merancang tur dunia untuk DJ dan seniman elektronik, saat ini sedang membuat prototipe konsep dan mencari pendanaan untuk setelan tersebut. Mereka berharap dapat menawarkannya secara massal ke tempat-tempat yang hanya dapat beroperasi dengan kapasitas terbatas.

"Kami memutuskan perlu menemukan solusi untuk membawa kembali keramaian clubbing - bukan dalam satu tahun tapi besok," kata direktur kreatif Miguel Risueno. "Kami datang dengan ide menciptakan jas yang memungkinkan Anda bersosialisasi." Menyadari sejarah budaya dan kostum klub, Risueno dan timnya memilih desain futuristik yang lebih canggih.

"Apa yang kami rancang tidak akan menjadi peralatan medis," katanya. "Karena dengan begitu itu adalah kesalahan daripada sesuatu yang membuatmu bahagia."

Stelan untuk clubbing produksi Production Club. Foto: Production Club, Inc/CNN

Peralatan pelindung pribadi (APD) dapat dimulai sebagai suatu keharusan - klub yang baru dibuka mendorong pemakaian masker - tetapi masker bedah polos dan sarung tangan sekali pakai tidak mungkin bertahan dalam norma untuk waktu yang lama. Rumah mode telah mendesain masker wajah yang mengikuti fashion.

Bagaimana dengan masker? Masker memiliki sejarah di kancah klub malam dan subkultur tertentu di dalamnya - geng cyber memanfaatkan tema sci-fi dengan masker PVC atau gas. Masker wajah telah muncul dalam manik-manik berwarna-warni. Pada sebuah festival, peserta sering memakai bandana untuk melindungi diri dari unsur-unsur yang tak diharapkan. Masker wajah telah digunakan anak-anak klub malam New York pada tahun 90-an, sebagai tanda agar orang asing menjauh.

Menari di ruang terbuka

Tempat terbuka lebih mungkin berkembang setelah pandemi berkurang. Pada acara di Munster, staf acara di Coconut Beach membuat lingkaran di lantai, yang memisahkan pengunjung sejauh 2 meter. Sementara itu, klub-klub malam di Spanyol maksimal hanya menerima 80 tamu – yang biasanya digunakan ratusan orang. Untuk ruang terbuka, izin hanya diberikan untuk maksimal 800 orang, yang biasanya ribuan. Akibatnya harga tiket bisa naik. Dalam kasus pesta Coconut Beach, yang hanya menawarkan masuk ke 100 orang, tiket masing-masing seharga 70 Euro (US$ 77).

Keterbatasan ini memicu pesta underground, yang marak di Inggris pada 1980-an – dihelat di tengah hutan atau ladang. Hal ini tentu berisiko besar. Di Leeds, Inggris, tiga orang ditangkap karena menghadiri pesta dengan 200 peserta di cagar alam yang dilindungi.

Sementara itu, di Schuttorf, Jerman, para promotor menggunakan bioskop drive-in untuk pesta dansa jenis baru - dan lebih aman. Semua peserta pesta, terisolasi dalam mobil masing-masing.

Penyanyi Cass Hopetoun tampil menghibur warga dalam konser drive-in yang diselenggarakan untuk memungkinkan orang menonton musik secara live walau hanya berada di dalam mobil, di tengah pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Virus Corona di Sydney, Australia, 21 Mei 2020. REUTERS/Loren Elliott

Streaming virtual dan ruang untuk mendengar

Di seluruh dunia, klub-klub malam menampilkan penari di rumah masing-masing warga secara virtual. Di New York, dengan lebih dari 25.000 restoran dan tempat hiburan malam terganggu oleh virus.

Hal itu mendorong klub-klub Brooklyn menyelenggarakan pesta dansa dengan Zoom atau melengkapi situs web mereka dengan streaming langsung. Di Tokyo, kafe-kafe suara dan tempat-tempat kecil untuk menikmati hiburan kembali menjamur.

Di Berlin, kehidupan malam mengalami perubahan drastis. Mereka menampilkan pertunjukan musik di ruang terbuka kecil, namun tak mengizinkan pengunjung menari di lantai dansa. 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT