Amankah Berbagi Ventilator pada Pasien Virus Corona?
TEMPO.CO | 25/05/2020 17:46
Ilustrasi Ventilator. REUTERS/Piroschka van de Wouw
Ilustrasi Ventilator. REUTERS/Piroschka van de Wouw

TEMPO.CO, Jakarta - Ventilator adalah mesin yang membantu orang bernapas dengan mengirimkan oksigen melalui tabung yang diletakkan di mulut atau hidung. Para ilmuwan, termasuk salah satu yang berasal dari India, muncul dengan pendekatan baru untuk berbagi ventilator antarpasien, yang mereka percaya dapat digunakan sebagai upaya terakhir untuk mengobati pasien virus corona dalam kesulitan pernapasan akut.

Para peneliti, termasuk Shriya Srinivasan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat, mencatat semakin banyak pasien Covid-19 mengalami kesulitan pernapasan akut dan ada banyak perdebatan mengenai gagasan berbagi ventilator.

Dikutip dari timesofindia.com, berbagi ventilator ini membutuhkan pemisahan tabung udara menjadi beberapa cabang, sehingga dua atau lebih pasien dapat dihubungkan ke mesin yang sama. Begitu kata Srinivasan, penulis utama penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Translational Medicine.

Beberapa asosiasi dokter telah mencegah praktik ini, mengatakan hal itu menimbulkan risiko bagi pasien karena kesulitan dalam memastikan bahwa setiap pasien menerima jumlah udara yang tepat. Sekarang, sebuah tim di MIT dan Brigham and Women's Hospital mempunyai pendekatan baru untuk ventilator yang terpisah, yang mereka yakini dapat mengatasi banyak masalah keamanan ini.

Mereka telah menunjukkan efektivitasnya dalam tes laboratorium tetapi masih mengingatkan bahwa itu harus digunakan hanya sebagai upaya terakhir selama keadaan darurat, ketika nyawa pasien dipertaruhkan.

"Kami berharap pendekatan ini, yang membutuhkan komponen yang tidak tersedia, pada akhirnya dapat membantu pasien yang sangat membutuhkan dukungan ventilator," kata Giovanni Traverso, asisten profesor MIT.

"Kami menyadari berbagi ventilator bukan standar perawatan dan intervensi seperti ini hanya akan direkomendasikan sebagai jalan terakhir," kata Traverso.

Negara-negara di seluruh dunia telah berjuang untuk mendapatkan ventilator yang cukup untuk menangani wabah Covid-19. Tim MIT memasukkan katup aliran, satu untuk setiap cabang pasien, yang memungkinkan mereka untuk mengontrol jumlah udara yang diterima masing-masing.

"Katup aliran ini memungkinkan Anda untuk mempersonalisasikan aliran ke setiap pasien berdasarkan kebutuhan mereka," kata Srinivasan. "Mereka juga memastikan bahwa jika satu pasien membaik atau memburuk, cepat atau lambat, ada cara untuk beradaptasi untuk itu."

Pemasangan juga termasuk katup pelepas tekanan yang dapat mencegah terlalu banyak udara masuk ke paru satu pasien serta langkah-langkah keamanan, termasuk alarm yang berbunyi ketika asupan udara pasien berubah. Untuk membuat pengaturan, para peneliti menggunakan bagian-bagian yang biasanya tersedia di rumah sakit. Bagian-bagian itu juga dapat diperoleh di toko-toko perangkat keras dan disterilkan.

Ventilator menghasilkan tekanan udara yang cukup untuk memasok enam hingga delapan pasien sekaligus. Tetapi, tim peneliti tidak merekomendasikan penggunaan satu ventilator untuk lebih dari dua orang karena pemasangannya menjadi lebih rumit. Para peneliti pertama kali menguji berbagi ventilator pada hewan dan paru-paru buatan.

Dengan mengubah sifat-sifat paru-paru buatan, peneliti dapat membuat banyak model yang mungkin berubah pada pasien. Mereka juga menunjukkan pengaturan ventilator dapat disesuaikan untuk mengimbanginya. Selain itu, mereka juga membuktikan ventilasi dua hewan pada satu ventilator dan mempertahankan aliran udara yang diperlukan untuk keduanya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT