Tips Mengontrol Makan saat Lebaran, Jangan Lupa Sarapan
TEMPO.CO | 24/05/2020 05:45
ilustrasi hidangan lebaran (ayam) (Pixabay.com)
ilustrasi hidangan lebaran (ayam) (Pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Lebaran biasanya identik dengan banyaknya hidangan yang menggugah selera, mulai dari kue kering hingga opor ayam dan rendang. Jangan kalap menikmati semua yang tersaji. Kontrol makan Anda agar kesehatan tak terganggu.

Nutrition & Wellness Consultant Nutrifood, Moch. Aldis Ruslialdi mengatakan, agar tak kalap saat makan siang, kuncinya adalah sarapan. Saat sarapan sebaiknya konsumsi karbohidrat yang kompleks ketimbang sederhana. Jumlahnya sebaiknya tak lebih dari 1/3 piring, sesuai anjuran para pakar kesehatan.

"Karbohidrat kompleks, misalnya nasi merah. Lontong atau ketupat mending buat siang atau malam, ini agar kenyangnya awet," kata dia dalam diskusi media "Nutrifood X Kulwap Media", Jumat, 22 Mei 2020.

Selain asupan karbohidrat, jangan lupa konsumsi sayuran, lauk pauk lainnya semisalnya sambal goreng hati yang menjadi favorit sebagian orang saat Lebaran atau lauk lainnya.

Perbanyak juga asupan air minum agar perut tidak mudah meronta minta diisi saat mata terpapar sederet hidangan Lebaran di atas meja.

"Bisa juga menu dikontrol misalnya rendang kurangi bumbunya," tutur Aldis.

Sebaiknya, tutup lauk pauk dan kue-kue, jangan memperlihatkannya sepanjang waktu agar mata tidak selalu terpapar dan memunculkan rasa lapar. Di sisi lain, jika godaan menyantap kue kering misalnya nastar tak terhindarkan, ingatlah batasannya yakni 2 buah kue saja dalam sehari. Satu buah kue nastar setidaknya mengandung sekitar 40 kalori.

Saat Lebaran, rasa begah dan kekenyangan kerap dialami sebagian orang dan ini tanda khusus porsi makan Anda sudah berlebihan. Jadi, kalau bisa berhentilah makan sebelum kenyang, sebelum hal buruk terjadi pada kesehatan Anda.

"Efeknya santan ke asupan lemak jenuh meningkat, tetapi tidak bisa dipungkiri kolestrol akan makin buruk, risiko plak di pembuluh darah tinggi. Makanan manis, gula sederhana, gula darah tinggi, asupan tepung, asupan kalori banyak deposit lemak tinggi," demikian tutur Aldis.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT