Aturan Makan di Angkringan Yogyakarta Saat Pandemi Covid-19
TEMPO.CO | 19/04/2020 22:12
Angkringan kopi joss di seputaran Stasiun Tugu, Yogyakarta, tetap beroperasi di masa pandemi Covid-19. Tak terlalu banyak pembeli yang nongkrong seperti sebelum wabah. TEMPO | Pribadi Wicaksono
Angkringan kopi joss di seputaran Stasiun Tugu, Yogyakarta, tetap beroperasi di masa pandemi Covid-19. Tak terlalu banyak pembeli yang nongkrong seperti sebelum wabah. TEMPO | Pribadi Wicaksono

TEMPO.CO, Yogyakarta - Selama pandemi Covid-19, makan di angkringan pun ada aturan mainnya. Angkringan yang merupakan tempat makan dan kongkow-kongkow di pinggir jalan menjadi favorit karena menu makanannya begitu beragam dan murah.

Hidangan yang tersaji di gerobak angkringan antara lain nasi kucing, aneka sate, gorengan, wedang jahe, wedang uwuh, serta kopi joss. Bagi masyarakat Yogyakarta, cara asyik menghabiskan malam seringkali dilewatkan sambil duduk-duduk di warung angkringan yang tersebar di sudut kota.

Di masa pandemi Covid-19 ini, ada protokol yang membuat pecinta angkringan terpaksa menahan diri untuk tidak nongkrong dan berkumpul berdekatan demi mencegah penularan virus corona. Kendati gencar meminta masyarakat tidak banyak ke luar rumah saat pandemi, Pemerintah Kota Yogyakarta tidak melarang usaha mikro seperti angkringan untuk tetap beroperasi.

Gerobak angkringan di Kota Yogyakarta menawarkan aneka makanan dan minuman yang murah meriah. TEMPO | Pribadi Wicaksono

Untuk angkringan, sama seperti jenis usaha lain seperti cafe dan restoran, dihimbau beroperasi maksimal pukul 23.00 WIB. Pengelola juga diimbau mengatur pelanggannya untuk mengikuti protokol pencegahan penyebaran virus corona, yakni dengan memakai masker dan menjaga jarak satu sama lain.

"Di angkringan, serta cafe dan restoran, harus juga dilakukan pengaturan tempat duduk pelanggan," ujar Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi yang juga Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta, Minggu 19 April 2020. Jarak aman tempat duduk yang dimaksud adalah separuh dari kapasitas tempat duduk yang tersedia. Contoh, satu kursi di angkringan yang biasanya diduduki oleh empat orang, maka kini hanya boleh terisi tak lebih dua orang. Jarak antar kursi juga diatur agar tidak terlalu rapat.

Heroe memaklumi angkringan menjadi tempat favorit interaksi masyarakat. Selama masa pandemi Covid-19 ini, angkringan tetap diserbu masyarakat karena menjadi tempat yang selalu menyediakan wedang jahe. Menurut Heroe, wedang jahe ini menjadi salah satu minuman rempah tradisional yang diburu karena dipercaya meningkatkan daya tahan tubuh.

Angkringan menjadi lokasi favorit masyarakat dan wisatawan di Yogyakarta saat menghabiskan malam dengan aneka jajanan yang murah meriah. TEMPO | Pribadi Wicaksono

Pemerintah Kota Yogyakarta juga menyebar petugas untuk mengedukasi protokol pencegahan penularan virus corona kepada penjual maupun pembeli di angkringan. Mereka menjelaskan pentingnya mengenakan masker saat beraktivitas, mencuci tangan sesering mungkin, menjaga higienitas makanan yang dijual dengan cara menutupinya dengan plastik transparan atau bahan lain. "Yang ditekankan sebenarnya menghindari aktivitas nongkrong dulu," ujar Heroe.

Dari pantauan Tempo, sebagian pelaku usaha angkringan di Yogyakarta masih berjualan. Terutama di tempat favorit nongkrong masyarakat, seperti di sekitar Jalan Mangkubumi juga pusat angkringan kopi jos di seputaran Stasiun Tugu. Tak banyak pembeli yang nongkrong di angkringan itu selama pandemi Covid-19 ini.

Rahardjo, warga Gowongan Kota Yogyakarta mengatakan tak bisa melepaskan diri dari kebiasaan mampir angkringan dan makan atau sekadar minum wedang jahe seusai bekerja. Namun di masa pandemi Covid-19 ini, pria 47 tahun itu mampir ke angkringan hanya untuk membeli jajanan dan membawanya pulang. "Yang penting menjaga kebersihan dan kalau tak mendesak lebih baik dimakan di rumah," ujarnya.

Beragam makanan murah meriah yang dijual di angkringan Yogyakarta. TEMPO | Pribadi Wicaksono


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT