3 Mitos dan Fakta Seputar Metastasis Kanker
TEMPO.CO | 01/04/2020 06:55
Ilustrasi sel kanker. shutterstock.com
Ilustrasi sel kanker. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Bob Hasan meninggal dunia pada Selasa, 31 Maret 2020. Ia wafat pada usia 89 tahun usai mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta. Bob Hasan menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang melawan kanker paru yang menyebar hingga tulang.

Penyebaran kanker atau yang dikenal dengan istilah metastasis adalah masalah kesehatan yang sangat berbahaya. Sebab kanker tidak hanya menyerang satu organ, namun bagian tubuh lainnya.

Masih banyak yang kurang tahu soal metastasis kanker. Agar tidak salah informasi, situs Times of India dan Cancer.gov membagikan beberapa mitos yang perlu diluruskan. Apa saja?

  1. Mitos pertama: Perawatan harus dilakukan dengan cepat
    Perawatan pada metastasis kanker memang harus ditangani sedini mungkin. Sebab penyebaran sel kanker ke berbagai organ bisa meningkatkan risiko kematian. Namun perlu dipahami bahwa perawatan tidak asal cepat sehingga melupakan tata laksana pengobatan. Serahkan semua pada dokter yang lebih tahu berapa lama pengobatan dapat dilakukan.

  2. Mitos kedua: Biopsi memperparah penyebaran kanker
    Tak jarang banyak pasien metastasis kanker yang takut untuk melakukan biopsi. Sebab, mereka menganggap bahwa ini bisa memperparah penyebaran kanker ke organ-organ lainnya. Padahal yang harus dipahami, biopsi berguna untuk mengecek tipe, stadium dan tingkat agresif sel kanker. Biopsi juga berguna untuk menentukan perawatan apa yang baik diterapkan oleh dokter kepada Anda.

  3. Mitos ketiga: Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengendalikan penyebaran kanker
    Ketika dinyatakan stadium akhir dan kanker bermetastasis, tak sedikit orang yang putus harapan. Mereka berpikir bahwa waktu hidup mereka pasti tinggal sedikit lagi sehingga enggan berusaha. Padahal, penyebaran kanker bisa dikendalikan asalkan pasien mengikuti perintah dokter. Ini termasuk menjalankan pengobatan tanpa terputus yang meliputi kemoterapi, terapi target, terapi radiasi, terapi biologi, dan operasi.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA | TIMESOFINDIA | CANCER.GOV

REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT