Imbauan Epidemiolog agar Wabah Corona Tak Semakin Parah
TEMPO.CO | 28/03/2020 14:59
Ruang tunggu penumpang yang diberi peringatan untuk menjaga jarak saat mewabahnya virus corona di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat, 27 Maret 2020.  TEMPO/Hilman Fathurrahman W
Ruang tunggu penumpang yang diberi peringatan untuk menjaga jarak saat mewabahnya virus corona di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat, 27 Maret 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai angka 1.000 dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan karena penyebaran virus corona terbukti semakin cepat.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada yang bisa dikerjakan untuk menanggulangi hal ini. Epidemiolog Tifauzia Tyassuma mengatakan ada harapan bagi negeri ini untuk menyetop kasus asalkan beberapa anjuran dilakukan. Pertama bagi pemerintah, lockdown harus diterapkan.

“Lockdown Indonesia sudah tidak mungkin. Yang paling benar saat ini adalah lockdown daerah. Dua daerah yang harus di-lockdown adalah daerah steril seperti Papua dan daerah yang termasuk zona merah seperti Jakarta,” katanya.

Direktur Eksekutif Clinical Epidemiology dan Evidence Based Medicine FKUI-RSCM itu juga berpesan agar pemerintah pusat dan daerah mempersiapkan kondisi kesehatan masyarakat dan negara sebab berdasarkan ilmu prediksi dan analisa kesehatan, bencana COVID-19 akan berlangsung lama.

“Mulai dari persebaran virus di Indonesia yang masih sampai satu tahun ke depan dan dampak ekonomi maupun sosial yang mungkin sampai dua tahun kemudian. Ini semua harus dipersiapkan sedini mungkin,” jelasnya.

Wanita yang akrab disapa Tifa itu juga meminta agar pemerintah, khususnya di daerah, untuk segera membuat rumah-rumah isolasi. Misalnya, rumah sakit yang disediakan khusus untuk pasien COVID-19 atau berupa asrama, hotel, dan kompleks perumahan kosong.

“Karena kejadian saat ini baru awal. Saya prediksi 50 hari kedepan bisa sampai 1,2 juta pasien,” ujarnya.

Terakhir, bagi masyarakat, menjaga jarak seperti imbauan WHO tetap wajib dijalankan. Tifa mengatakan aktivitas ini dasar untuk menjaga diri sendiri supaya tidak terjangkit dan menginfeksi orang lain.

“Sebab pada dasarnya setiap orang bisa jadi ODP (orang dalam pemantauan),” jelasnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT