Tips Mengatur Keuangan saat Wabah Virus Corona
TEMPO.CO | 25/03/2020 14:35
Ilustrasi perencanaan keuangan (pixabay.com)
Ilustrasi perencanaan keuangan (pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak hal berubah selama mewabahnya virus corona, dari segi sosial maupun ekonomi. Pandemi virus corona yang mengubah kehidupan sebagian besar masyarakat di Indonesia turut berdampak pada kondisi ekonomi.

Ada orang-orang yang masih mendapatkan gaji dengan besaran normal di tengah krisis tapi ada pula yang pemasukannya berkurang drastis karena pekerjaan tertunda akibat pembatasan sosial yang membuat pola hidup akhir-akhir ini berubah.

Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie dalam video live di Instagram bersama psikolog Analisa Widyaningrum memberikan kiat-kiat mengatur keuangan di tengah pandemi COVID-19. Menurut Prita, pandemi COVID-19 berdampak besar bagi mereka yang penghasilannya terhalang akibat pembatasan sosial, misalnya dokter yang mengandalkan pemasukan dari praktik atau pemilik restoran yang sepi pengunjung karena orang berdiam diri di rumah.

Hal penting yang harus dilakukan adalah mengevaluasi penghasilan yang didapat selama wabah virus corona masih tersebar. Catatlah besaran penghasilan yang didapat secara rapi.

Pekerja lepas bisa mengevaluasi aset yang mereka punya dalam bentuk uang hingga perhiasan emas. Hitung juga pemasukan dari proyek-proyek yang sudah dikerjakan. Kemudian, buat hitung pengeluaran apa saja selama tiga bulan ke depan.

"Ada pengeluaran wajib, ada pengeluaran kebutuhan," kata Prita.

Pengeluaran wajib yang dia maksudkan adalah cicilan, uang sekolah anak, hingga gaji untuk asisten rumah tangga. Sementara pengeluaran kebutuhan bisa disesuaikan dengan kondisi, seperti uang untuk makan. Dalam situasi sulit, setiap orang bisa menyesuaikan menu agar pengeluaran lebih irit.

Yang patut diingat adalah mengetahui mana prioritas. Aturlah pengeluaran sesuai dengan kesanggupan. Jangan berfoya-foya saat pemasukan terbatas.

"Selama tiga bulan, yang sifatnya keinginan tunda dulu karena kita tidak punya kemewahan untuk membeli keinginan. Fokusnya kewajiban dan kebutuhan," ia menegaskan.

Jika besaran pengeluaran lebih besar dari penghasilan, selisihnya bisa diatasi dari tabungan atau dana darurat.

"Kalau tidak yakin bagaimana penghasilan, mau tidak mau harus ada penyesuaian gaya hidup," ujarnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT