Mungkinkah Ratusan Manuskrip Keraton Yogyakarta Kembali?
TEMPO.CO | 09/03/2020 22:59
Sejumlah manuskrip kuno turut dipamerkan di Pameran Sekaten yang mengusung tema Sri Sultan HB I di Keraton Yogya, 1-9 November 2019. Tempo/Pribadi Wicaksono
Sejumlah manuskrip kuno turut dipamerkan di Pameran Sekaten yang mengusung tema Sri Sultan HB I di Keraton Yogya, 1-9 November 2019. Tempo/Pribadi Wicaksono

TEMPO.CO, Jakarta - Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima dijadwalkan menyambangi Keraton Yogyakarta. Mereka bersilaturahmi dengan Raja Keraton Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rabu 11 Maret 2020.

Raja dan Ratu Belanda itu diperkirakan berada di Keraton Yogya selama lebih dari satu jam, yang dimulai pukul 11.00 hingga 13.00 WIB. Lantas apa saja hal yang akan dibahas serta agenda kerajaan dari dua negara berbeda itu?

Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura atau Sekjen Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono menuturkan, sejauh informasi yang diterima pihaknya tak ada hal khusus dalam pertemuan antara raja dan ratu Belanda itu.

"Kunjungan ini dalam rangka silaturahmi saja, tidak ada pembicaraan khusus," ujar Condro kepada TEMPO, Senin, 9 Maret 2020.

Pertemuan itu juga tidak membahas permintaan Keraton Yogyakarta, mengenai pengembalian naskah kuno milik Keraton yang kini berada di Belanda dan belum kembali sejak masa penjajahan, "Saya tidak tahu apakah (soal manuskrip kuno milik Keraton) itu akan dibicarakan atau tidak. Semua tergantung Ngarso Dalem (Sultan HB X)," ujar Condro.

Pada pertengahan 2019 lalu, perwakilan Universitas Leiden, Belanda bertemu Raja Keraton Sultan Hamengkubuwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu pihak Universitas Leiden menyatakan akan membantu mendigitalisasi naskah-naskah kuno Keraton Yogyakarta, yang selama ini masih ada di Belanda.

Juru bicara Universitas Leiden, Marrik Bellen saat itu mengatakan program digitalisasi naskah kuno Keraton Yogyakarta. Program tersebut menjadi pembuka kerja sama dalam perawatan naskah dan dokumen kuno keraton.

"Untuk digitalisasi naskah kuno Keraton Yogyakarta di Belanda ini, kami membutuhkan bantuan dari pihak keraton untuk mendata berapa jumlah pasti naskah-naskah keraton yang ada di Belanda," kata Marrik Bellen yang kala itu didampingi Rektor Universitas Leiden, Carel Stolker dan Direktur Perpustakaan Universitas Leiden, Kurt de Belder.

Dalam pertemuan tersebut, rombongan dari Universitas Leiden membawa beberapa dokumen kuno dari era Hamengkubuwono VIII dan Hamengkubuwono IX kemudian ditunjukkan kepada Sultan HB X.

Naskah Kuno Keraton Yogyakarta diketahui banyak tersebar dan disimpan di berbagai negara. Sri Sultan Hamengkubuwono X telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, untuk mendapatkan manuskrip leluhur itu meski dalam bentuk digital.

Salah satunya kerjasama dengan British Library di London, Inggris, yang telah mendigitalisasi naskah-naskah kuno yang hilang selama masa penjajahan.

"Ada 75 manuskrip kuno yang telah dikembalikan British Library kepada keraton dalam bentuk digital," ujar putri bungsu Sultan Hamengkubuwono X, yang juga Kepala Divisi Kebudayaan atau Penghageng Widyo Budoyo Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Bendoro.

Manuskrip yang disimpan di Museum Universitas Leiden. Foto: Nurdin Ranggabarani

Bendoro menuturkan salah satu manuskrip penting yang hilang adalah naskah yang berkisah tentang kepemimpinan Hamengkubuwono I. Naskah itu akhirnya dapat dilacak dan ditemukan di British Library.

Saat ini ada 600 naskah kuno yang tersimpan di Keraton Ngayogtakarta. Sebanyak 400 naskah berisi tentang pemerintahan berada di Perpustakaan Widyo Budoyo dan 200 naskah tentang kesenian di Perpustakaan Krido Mardowo Keraton Yogyakarta.

PRIBADI WICAKSONO


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT