Nagita Slavina Keguguran, Apa Penyebab Bumil Kehilangan Janin?
TEMPO.CO | 01/03/2020 05:15
Nagita Slavina berfoto dengan menyenderkan kepalanya ke pundak Raffi Ahmad di sela menikmati pemandangan Gunung Bromo. Raffi Ahmad yang memutuskan vakum dari dunia hiburan, sedang gencar-gencarnya liburan ke berbagai kota di Indonesia.  instagram.com/raff
Nagita Slavina berfoto dengan menyenderkan kepalanya ke pundak Raffi Ahmad di sela menikmati pemandangan Gunung Bromo. Raffi Ahmad yang memutuskan vakum dari dunia hiburan, sedang gencar-gencarnya liburan ke berbagai kota di Indonesia. instagram.com/raffinagita1717

TEMPO.CO, JakartaNagita Slavina mengalami keguguran setelah pulang dari liburan panjangnya bersama suami, Raffi Ahmad, dan putranya, Rafathar. Kehamilan Nagita saat itu baru berusia satu bulan.

 

Hal itu dikabarkan melalui kanal YouTube Rans Entertainment pada Sabtu, 29 Februari 2020. Gigi, sapaan Nagita, mengaku mengalami flek saat akan berkonsultasi ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilannya.

“Kemarin udah testpack, udah positif, mungkin kacapekan juga sih, tapi mungkin memang yang paling pasti belum dikasih, belum rezekinya,” kata Gigi.

Raffi menambahkan bahwa sesampainya di Jakarta, dia dan Gigi langsung pijat. “Karena kita nggak tahu, aku juga teledor, lupa. Jadi begitu sampai sini langsung pijat pagi-pagi,” kata dia.

Keguguran atau aborsi spontan yang dialami Nagita Slavina terjadi ketika janin memiliki masalah genetik yang cukup fatal. Namun, selain faktor genetik, seorang ibu hamil atau bumil bisa mengalami keguguran karena beberapa hal, di antaranya infeksi, kondisi medis pada ibu seperti diabetes atau penyakit tiroid, masalah hormon, masalah pada sistem imun, dan masalah fisik pada ibu.

Pemicu lainnya adalah kelainan pada uterus dan insufisiensi serviks, yakni kondisi serviks lemah yang dapat mengakibatkan keguguran pada trimester kedua.

Selain itu, seorang wanita memiliki risiko keguguran lebih tinggi ketika hamil pada usia lebih dari 35 tahun. Terlebih jika bumil tersebut memiliki penyakit tertentu, seperti diabetes atau tiroid. Risiko keguguran juga lebih tinggi terjadi pada wanita yang telah mengalami tiga atau lebih keguguran.

Lalu, adakah cara untuk mencegah keguguran? Sayangnya, tak ada metode khusus untuk mencegah terjadinya aborsi spontan.

Namun, jika teridentifikasi masalah spesifik pada ibu, melakukan perawatan mungkin dapat mengurangi risiko terjadinya keguguran.


SEHATQ


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT