Susah Kendalikan Emosi? Coba 6 Langkah Ini agar Sabar dan Ikhlas
TEMPO.CO | 21/02/2020 06:45
ilustrasi meditasi (pixabay.com)
ilustrasi meditasi (pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Seberapa baik Anda mengendalikan emosi Anda? Saat rintangan yang mampir di hidup seolah tak kunjung berkurang, stok kesabaran yang ada di dalam diri pun kian lama kian menipis. Untuk kembali memenuhinya, Anda bisa coba menerapkan cara menjadi orang sabar, seperti mulai mengubah cara pandang, hingga mempraktikkan teknik relaksasi pikiran dengan meditasi.

Kesabaran bukanlah hal yang saklek. Jadi, melatih diri dengan cara-cara tertentu dianggap efektif untuk kembali memupuk sifat baik ini.

Cara melatih kesabaran sebenarnya sudah diajarkan sejak kita kecil, bahkan saat masih sekolah di taman kanak-kanak. Masih ingat saat kita diajarkan untuk bergantian saat ingin menaiki ayunan di sekolah? Dulu, kita mungkin merasa kesal saat harus menunggu untuk melakukan hal yang disuka. Namun ternyata, ajaran tersebut bermanfaat hingga kita dewasa.

Tentu, semakin dewasa, permasalahan yang membutuhkan kesabaran jauh lebih rumit dari sekedar menunggu giliran main. Pada saat-saat yang berat, Anda bisa melakukan beberapa cara melatih kesabaran di bawah ini agar hati lebih tenang.

1. Melakukan relaksasi
Tidak mudah memang untuk bisa sabar menghadapi berbagai karakter orang. Tidak jarang, ekspektasi kita tidak bisa terpenuhi, bahkan dalam hal-hal sederhana sekalipun. Hal ini bisa membuat kita tidak sabar dan cara paling sederhana untuk menghadapinya adalah dengan menarik napas dalam-dalam.

Ini adalah salah satu cara relaksasi yang paling sederhana. Anda cukup tarik napas dan buang secara perlahan. Lakukan rangkaian ini selama tiga hingga empat detik dan buat jeda sebelum Anda mengambil napas berikutnya.

2. Melihat permasalahan dari berbagai sisi
Ada kalanya kita mendapat ketidakpastian dari orang lain. Saat melamar pekerjaan, misalnya. Setelah menunggu lebih dari satu minggu untuk mendengar jawaban balik dari perusahaan, Anda mungkin menjadi tidak sabar untuk mengetahui hasil wawancara.

Namun, sebelum menyimpulkan bahwa perusahaan tersebut menolak Anda, sebaiknya lihat dulu dari berbagai sisi. Bisa saja, panggilan belum diterima sebab orang yang menentukannya sedang dinas ke luar kota, atau mungkin karena pelamar yang masuk sangat banyak, jadi butuh waktu lebih panjang untuk menyortirnya.

3. Menggali situasi lebih dalam
Saat menghadapi situasi yang memicu rasa cemas dan kegelisahan, Anda disarankan untuk menggali situasi lebih dalam. Misalnya, Anda merasa benar-benar gusar dan tidak sabar apabila menunggu seseorang yang datang lebih belakangan. Maka, cobalah gali lebih dalam tentang situasi tersebut dengan menanyakan:

-Apa sebenarnya yang membuat Anda begitu benci keterlambatan, walaupun hanya sebentar?
-Dalam situasi ini, apakah ada kerugian yang bisa didapatkan jika menunggu sebentar lagi?
-Apa hal yang kira-kira bisa dilakukan untuk membunuh waktu saat menunggu?

4. Menerima ketidaknyamanan dengan terbuka
Dalam situasi yang menguji kesabaran, seperti macet misalnya, tidak banyak yang bisa Anda lakukan untuk mengubahnya. Jadi, daripada menekan klakson berkali-kali berharap kendaraan di depan bisa maju, lebih baik terima keadaan dengan menunggu dengan tenang. Toh, memang Anda sudah terlanjur terjebak macet di jalur itu.

5. Mengganti kata “tidak” dengan “belum”
Meski terdengar sederhana, mengganti kata tidak dengan belum bisa mengubah cara pandang kita saat menghadapi sesuatu dan membuat kita menjadi lebih sabar. Ini bisa jadi sugesti positif untuk diri Anda.

Pikirkan bahwa saat ini Anda bukannya tidak berhasil tapi belum berhasil. Bukannya tidak bisa sampai tujuan tapi belum sampai tujuan. Bukan tidak bisa menemukan pasangan yang cocok, tapi belum bertemu dengan yang cocok.

6. Mengalihkan perasaan frustrasi
Ketika terpaksa menghadiri rapat dan malah harus menunggu si pengundang tiba, Anda mungkin merasa jengkel. Mengeluh dan marah akan situasi ini memang manusiawi, tapi tidak akan memperbaiki situasi.

Sehingga, sembari menunggu, lebih baik Anda alihkan perhatian dan waktu Anda untuk mengerjakan hal lain yang lebih berguna. Balaslah email pekerjaan lain yang belum sempat dibalas atau lanjutkan mengetik pekerjaan sambil menunggu. Dengan begitu, Anda telah mengubah hambatan menjadi mencoret satu pekerjaan dari daftar kewajiban hari itu.

SEHATQ

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT