Putri Angkie Yudistia Idap Shock Sepsis, Sempat Dikira DB
TEMPO.CO | 20/02/2020 21:30
Angkie tampil mengenakan atasan putih dilapisi jumpsuit cokelat berpotongan leher tinggi saat melakukan sesi pemotretan ditemani kedua anaknya. Wanita kelahiran 5 Juli 1987 ini kehilangan pendengaran di usia 10 tahun. Instagram/@angkie.yudistia
Angkie tampil mengenakan atasan putih dilapisi jumpsuit cokelat berpotongan leher tinggi saat melakukan sesi pemotretan ditemani kedua anaknya. Wanita kelahiran 5 Juli 1987 ini kehilangan pendengaran di usia 10 tahun. Instagram/@angkie.yudistia

TEMPO.CO, Jakarta - Angkie Yudistia selalu membagi waktu untuk kedua anaknya di sela-sela kesibukannya sebagai Staf Khusus sekaligus Juru Bicara Bidang Sosial Presiden Joko Widodo. Baru-baru ini, ia mengisahkan anak pertamanya Kayla Almahyra mengidap shock sepsis akibat infeksi paru-paru.

Angkie mulai membagikan kisah sakit anaknya mulai dari proses opname di Instagram pada 7 Februari 2020. Menurut Angkie, awalnya Kayla demam langsung di atas 39 derajat, tapi tidak ada kejang hanya lemas. Kondisi lemas itu yang membuatnya khawatir, karena membuat anaknya tidur seharian.

"Dikasih paracetamol naik turun, takut dikira typus/DB (atau bahkan flu singapore, karena adek Kinan lagi flu singapore) dibawa ke dokter anak di hari ke-2 pun diberi paracetamol karena tidak ada tanda 3 kecurigaan tadi," tulis Angkie di Instagram pada Selasa, 18 Februari 2020.

Memasuki hari ke-3 Kayla dibawa ke IGD karena panasnya 39-40 derajat Celcius terus-menerus. Lalu menjalani tes darah, hasilnya negatif demam berdarah dan typus. Kondisi berangsur membaik selama tujuh hari dengan infus makanan tanpa kepastian jenis penyakitnya.

"Anehnya batuk Kayla berlebihan. Pernah kita lepas infus karena demamnya turun di 37 derajat, lalu 2 jam kemudian naik lagi langsung ke 40 derajat. Buru-buru pasang infus lagi lengkap dengan paracetamol," jelas Angkie.

Kemudian dokter melakukan tes darah di hari ke-10. Hasilnya, shock sepsis karena di atas batas normal. Angkie mengaku rasanya pingsan sebab sepsis merupakan infeksi darah yang dapat menyebabkan kematian.

"Maka kita harus segera mencari infeksinya. Setelah di-rontgen, infeksi paru Kayla bermasalah karena ada flek, diakibatkan dari virus yang entah terbawa dari cuaca mana, karena daya imun Kayla rendah sekali jadi mudah kena," tulis Angkie.

Kemudian Kayla diarahkan ke dokter paru dan diberi antibiotik. Bagi Angkie, Kayla anak yang kuat jadi obatnya bisa bekerja dengan baik. Akhirnya, Kayla diizinkan pulang di hari ke-15 di rumah sakit namun tetap harus kontrol secara berkala.

"Batuk-nya karena paru belum sembuh total, jadi musti sering kena udara segar, kena matahari, makanan sehat. Dan parents kerja keras bagai kuda lagi, karena biaya rumah sakit 2 minggu plus cek laboratorium. Sehat-sehat ya kita semua," harap Angkie diakhiri emoji hati.

Penyakit sepsis masih terdengar awam di sejumlah orang, melansir dari laman Healthline, Selasa 18 Februari 2020, sepsis adalah akibat dari infeksi yang menyebabkan perubahan drastis dalam tubuh. 

Kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, atau virus dapat menyebabkan sepsis. Infeksi dapat dimulai di rumah atau saat Anda di rumah sakit untuk perawatan kondisi lain. Sepsis biasanya berasal dari beragam infeksi mulai dari perut atau sistem pencernaan, infeksi paru-paru seperti pneumonia, infeksi saluran kemih hingga sistem reproduksi.

Penyakit ini bisa sangat berbahaya dan berpotensi mengancam jiwa. Sebab, bahan kimia yang melawan infeksi dengan memicu reaksi peradangan dilepaskan ke dalam aliran darah.

Seperti yang dialami anak Angkie Yudistia, berikut gejala shock sepsis yang harus diwaspadai. Gejala utamanya adalah demam biasanya lebih tinggi dari 101 derajat Fahreinhet atau 38 derajat Celcius, lalu suhu tubuh rendah atau hipotermia, detak jantung yang cepat, serta pernapasan cepat atau lebih dari 20 napas per menit

Sepsis berat didefinisikan sebagai sepsis yang menyerang ginjal, jantung, paru-paru , atau otak. Gejala-gejala sepsis berat antara lain jumlah urin yang sangat sedikit, kebingungan akut, pusing, masalah pernapasan parah, dan perubahan warna kebiru-biruan pada digit atau bibir (sianosis).

EKA WAHYU PRAMITA


REKOMENDASI BERITA