Tentukan Destinsi Wisata Halal, Coba Ajak Pelancong ke Gereja
TEMPO.CO | 21/12/2019 09:06
Seorang pemandu wisata menerangkan kepada wisatawan mencanegara tentang Gereja Katedral jelang perayaan Natal di gereja tersebut, Jakarta, 23 Desember 2017. ANTARA/Sigid Kurniawan
Seorang pemandu wisata menerangkan kepada wisatawan mencanegara tentang Gereja Katedral jelang perayaan Natal di gereja tersebut, Jakarta, 23 Desember 2017. ANTARA/Sigid Kurniawan

TEMPO.CO, Jakarta - Wisata halal menjadi salah satu primadona pariwisata. Dalam menerapkan wisata halal ini, ada empat hal yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara wisata.

CEO Cheria Halal Network, Ananto Pratikno mengatakan empat hal itu adalah jaminan makanan dan minuman halal; sarana ibadah yang memadai, seperti tempat wudu dan salat; menghindari kunjungan ke tempat-tempat hiburan malam, semisal diskotek; dan menyasar objek wisata yang ramah muslim.

"Yang ditekankan dalam wisata halal adalah fokus ke kebutuhan dasar tamu, bukan pada destinasi atau objek wisatanya," ujar Ananto di Jakarta, Jumat 20 Desember 2019.

Sebab itu, menurut dia, sah-sah saja jika wisatawan muslim diajak berkunjung ke gereja atau katedral yang menjadi ikon di kota atau wilayah tujuan wisatanya. Dari kunjungan ke tempat ibadah agama lain, Ananto mengatakan, wisatawan bisa belajar tentang sejarah dan memiliki pengetahuan tentang kepercayaan orang lain.

Data Cheria Halal Holiday dalam tiga tahun terakhir mencatat peningkatan jumlah tamu yang menginginkan wisata halal. Jumlahnya mencapai 200 persen per tahun. "Wisata halal sedang booming karena yang meminta adalah kalangan menengah ke atas," kata dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, kelas menengah di Indonesia akan mencapai 85 juta orang pada 2020. Dari angka itu, sekitar 80 persen di antaranya adalah muslim.

Untuk destinasi wisata halal, saat ini Singapura, Thailand, dan Malaysia menempati urutan teratas tujuan wisatawan muslim. Negara berikutnya adalah Korea Selatan, Hong Kong, Turki, Mesir, Palestina (Masjidil Aqsa), dan Yordania, kemudian Eropa Barat, Jepang, dan Beijing.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT