Waspada Pria, Yuk Kenali Bahaya Menjilat Vagina
TEMPO.CO | 17/12/2019 06:40
Ilustrasi seks
Ilustrasi seks

TEMPO.CO, Jakarta - Menjilat vagina atau cunnilingus adalah bagian dari oral seks, yang mungkin disukai oleh sebagian pasangan suami-istri. Walau dianggap sebagai aktivitas seks oral yang lebih aman, dibandingkan dengan hubungan seks vaginal atau anal, menjilat vagina tetap saja berisiko terkena penyakit menular seksual. Tentunya para pria dan wanita perlu lebih waspada tentang kesehatan seksual.

Beberapa penyakit menular seksual bisa menghampiri pasangan yang melakukan cunnilingus. Sebab, virus ini bisa menempel di lapisan vagina. Maka dari itu, sebelum melakukannya, ada baiknya mengetahui bahaya menjilat vagina, agar Anda dan pasangan tercinta bisa terbebas dari penyakit menular seksual.

Saat pasangan menjilat vagina, virus-virus yang menempel di lapisan vaginanya, bisa menular pada pasangan yang melakukan cunnilingus. Beberapa virus dari penyakit menular seksual ini bisa dengan mudah menular. Apa saja penyakit menular seksual yang bisa terjadi akibat menjilat vagina atau cunnilingus?

1. Herpes
Herpes simplex virus (HSV) adalah penyebab dari penyakit herpes. Penyakit menular seksual ini dapat menimbulkan gejala di beberapa bagian tubuh, tapi yang paling umum adalah mulut dan alat kelamin. Ada 2 tipe herpes, yaitu:

HSV-1: Jenis herpes ini juga disebut dengan herpes oral. HSV-1 dapat ditularkan lewat ciuman, hingga saling berbagi benda seperti lip balm dan lipstik. Gejala yang paling terlihat adalah luka melepuh di sekitaran mulut.

HSV-2: Herpes HSV-2 dapat ditularkan lewat hubungan seksual dengan pengidapnya. Jenis herpes ini ditularkan melalui kontak dengan luka herpes. Menjilat vagina yang telah terinfeksi herpes HSV-2 juga bisa menyebabkan tertularnya herpes. Gejala dari HSV-2 adalah sakit saat buang air kecil hingga gatal-gatal dan timbul luka melepuh di sekitar alat kelamin.

Sampai saat ini, belum ada obat untuk menyembuhkan herpes. Akan tetapi, ada obat-obatan yang bisa meredakan luka hingga munculnya gejala herpes. Dokter juga bisa merekomendasikan beberapa obat-obatan seperti acyclovir, famciclovir, sampai valacyclovir, untuk menurunkan risiko penularan virus herpes. Obat-obatan itu juga meredakan gejala serta meminimalisir timbulnya wabah herpes.

Ilustrasi seks. queen.gr

2. Human papillomavirus (HPV)
Human papillomavirus atau HPV adalah penyakit menular seksual paling umum yang sering terjadi pada pria serta wanita. Setidaknya, 14 juta kasus HPV ditemukan setiap tahunnya.

Gejala dari HPV mungkin tidak akan langsung muncul, sesaat virus itu masuk ke dalam tubuh penderitanya. Namun, beberapa tahun kemudian, gejala-gejalanya akan muncul. Perlu diingat, HPV memiliki beberapa gejala yang bisa berbeda pada setiap penderita. Apa saja gejala tersebut?

kutil
Kutil adalah gejala umum dari HPV, terutama HPV alat kelamin. Awalnya, HPV bisa muncul sebagai benjolan kecil, sekelompok benjolan, atau tonjolan seperti batang. Pada wanita, kutil yang diakibatkan HPV akan muncul di vulva (bagian terluar dari alat kelamin wanita). Jika pasangan menjilat vagina yang vulvanya sudah menunjukkan gejala kutil HPV ini, maka bisa saja virusnya menular. Pada pria, kutil biasanya akan muncul di penis, kantung skrotum, anus, atau pangkal paha.

Kanker
HPV juga bisa menyebabkan kanker, baik pada pria maupun wanita. Walau begitu, kanker yang diderita bisa berbeda-beda. Pada pria, kanker penis, kanker anus, hingga kanker tenggorokan bisa diderita akibat HPV. Sementara itu pada wanita, kanker leher rahim, kanker vagina, kanker anus, sampai kanker tenggorokan berisiko menyerang. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya HPV menyebabkan kanker pada penderitanya.

HPV adalah penyakit menular seksual yang ditularkan melalui sentuhan saat berhubungan seksual atau sentuhan yang terjadi saat alat kelamin bersentuhan. Beberapa hal dapat mencegah tertularnya HPV adalah mendapatkan vaksin HPV, melakukan seks aman, hingga menghindari hubungan seks saat gejala kutil HPV sudah terlihat.

Sama seperti herpes, sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan infeksi HPV. Namun ada obat-obatan yang bisa meredakan gejalanya. Biasanya, podofilin, imiquimoid, podofilox, hingga asam trikloroasetat digunakan untuk menghilangkan kutil HPV.

3. Sipilis
Sipilis adalah infeksi akibat bakteri T. pallidum, yang bisa ditularkan akibat hubungan seks oral, anal, ataupun vaginal. Gejala awal dari sipilis adalah munculnya luka tanpa rasa sakit pada alat kelamin, dubur, mulut, hingga bagian kulit lainnya.

Luka sipilis ini akan menghilang dengan sendirinya. Namun, bukan berarti bakteri yang menyebabkan sipilis, telah hilang begitu saja dari tubuh penderitanya. Jika tidak segera ditangani, sipilis dapat merusak organ dalam tubuh, termasuk otak.

Beberapa gejala lain seperti mudah lelah, pusing, sakit tenggorokan, demam, nyeri otot, menurunnya berat badan yang tiba-tiba, hingga pembengkakan kelenjar getah bening juga bisa timbul, jika sipilis sudah semakin parah. Sipilis yang tidak ditangani sampai 10-30 tahun, dapat merusak organ-organ penting tubuh, termasuk jantung, pembuluh darah, hati, tulang, hingga sendi.

Untuk menyembuhkannya, penderita harus menjalani pengobatan penisilin, yang digunakan untuk menyembuhkan infeksi akibat bakteri. Tingkat keberhasilan pengobatan sipilis sangatlah tinggi jika dilakukan saat sipilis masih dalam tahap awalnya.

Ilustrasi pasangan dengan masalah seks. shutterstock.com

4. Gonorea
Gonorea adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gonorea menyerang area-area tubuh yang hangat dan lembap, seperti mata, tenggorokan, vagina, anus, uretra, hingga saluran reproduksi wanita (saluran tuba, leher rahim, dan uterus). Gonorea dapat ditularkan lewat hubungan seks oral, anal dan vaginal yang tidak aman. Orang yang memiliki banyak pasangan dan tidak memakai kondom saat berhubungan seksual, berisiko tinggi terkena gonorea.

Pada pria, gejala berupa keinginan kencing yang sering muncul, cairan seperti nanah yang keluar dari penis, pembengkakan pada lubang penis dan testis, hingga sakit tenggorokan, dapat terjadi jika gonorea telah menyerang. Pada wanita, gejala gonorea terhitung lebih banyak, meliputi cairan berwarna kehijauan dari vagina, rasa sakit saat buang air kecil, sering ingin buang air kecil, sakit tenggorokan, rasa sakit saat berhubungan seksual, rasa nyeri tajam di perut bawah, maupun demam.

Gonorea dapat disembuhkan dengan obat antibiotik azithromycin yang diminum atau Ceftriaxone yang disuntikkan. Dalam beberapa hari, gejala akan mulai mereda. Namun, daripada mengobati, lebih baik mencegahnya dengan melakukan hubungan seks aman.

SEHATQ


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT