Gelombang Panas di Jakarta, BMKG Anjurkan Minum Air Putih
TEMPO.CO | 27/10/2019 19:15
Ilustrasi gelombang panas. Sumber: Reuters / Pascal Rossignol / rt.com
Ilustrasi gelombang panas. Sumber: Reuters / Pascal Rossignol / rt.com

TEMPO.CO, Jakarta - Suhu udara di Jakarta kian memprihatinkan. Sebuah pesan berantai yang diterima masyarakat menyebutkan bahwa ini disebabkan oleh fenomena gelombang panas di Jakarta. Benarkah demikian?

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Miming Saepudin, membantahnya. Ia menjelaskan bahwa apa yang dialami oleh ibukota dan daerah sekitar hanya suhu panas.

“Jangan percaya. Itu hoaks,” katanya dalam acara “Temu Media” oleh Kementerian Kesehatan di Jakarta pada 25 Oktober 2019.

Memang, tidak bisa dipungkiri jika suhu udara di Jakarta dalam beberapa hari terakhir terasa lebih menyengat. Terik matahari juga terasa lebih panas daripada biasanya. Namun Miming menegaskan bahwa Indonesia tidak mungkin mengalami gelombang panas.

Secara meteorologi, gelombang panas terjadi karena dinamika cuaca yang berbeda. Umumnya, ini merupakan kondisi atmosfer di wilayah kutub yang mengarah ke lintang menengah dan tinggi, sedangkan Indonesia menganut arus ekuatorial.

“Kita kondisinya dari Selatan dan Utara di Samudra Atlantik. Jadi berbeda sekali,” katanya.

Tak heran, Miming menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menerima pesan. Ia juga mengatakan mengimbau agar tetap menjaga kesehatan selama suhu panas yang mungkin terjadi hingga akhir Oktober 2019.

BMKG selalu mengingatkan agar masyarakat minum air putih dan jangan keluar ruangan tanpa pelindung,” katanya. 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT