Plafon PBB, Kapel Sistine Abad 21
TEMPO.CO | 17/10/2019 08:16
Langit-langit di ruang Hak Asasi Manusia dan Aliansi Peradaban karya seniman Spanyol Miquel Barcelo. Foto: Maina Kiai/Atlas Obscura
Langit-langit di ruang Hak Asasi Manusia dan Aliansi Peradaban karya seniman Spanyol Miquel Barcelo. Foto: Maina Kiai/Atlas Obscura

TEMPO.CO, Jakarta - Kapel Sistina di dalam lingkungan Istana Apostolik -- kediaman resmi Paus di Vatikan. Kapel ini terkenal karena arsitekturnya melukiskan kisah Sulaiman atau Salomo dari kisah Perjanjian Lama. Tentu, yang mengesankan adalah plafon di Kapel Sistina yang dilukis oleh seniman-seniman besar era Renaissance seperti Michelangelo, Raphael, dan Sandro Botticelli. 

Atas perintah Paus Yulius II, Michelangelo melukis langit-langit kapel seluas 12.000 kaki persegi antara tahun 1508 hingga tahun 1512. Konon, ia jengkel dengan tugas itu dan menganggapnya bekerja hanya untuk kebesaran Paus. Kini langit-langit kapel ini dianggap sebagai mahakarya Michelangelo.

Berabad-abad kemudian, Pada 18 November 2008, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meresmikan ruang pertemuan yang telah diperbarui di kantor pusatnya di Jenewa, Swiss. Langit-langit ruangan tersebut, langsung menarik perhatian media global. Beberapa mengagumi upaya artistik, menyebut ruangan itu "Sistine Chapel abad ke-21." Yang lain mengecam proyek yang mahal itu, dan mengkritik cara pendanaannya.

Lukisan di plafon itu ada di ruang Hak Asasi Manusia dan Aliansi Peradaban, sebelumnya dikenal sebagai Kamar XX, adalah salah satu ruang konferensi terbesar di Markas PBB. Desain ulangnya, merupakan sumbangan Spanyol kepada PBB. Para desainer dan pekerja seni membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk menyelesaikannya. 

Kapel Sistina di dalam lingkungan Istana Apostolik merupakan ruang untuk mengangkat Paus. Foto: @tejard

Setelah proyek selesai, ruangan itu diresmikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Raja dan Ratu Spanyol, dengan sekitar 700 tamu yang hadir. Para hadirin yang menyukai teknologi, tentu terpesona dengan kecanggihan teknologi ruang pertemuan ini: layar, wifi, audio visual yang hebat, dan kehebatannya dalam menangani konferensi jarak jauh.

Namun di tengah kian canggihnya teknologi abad 21, semua orang terpana dengan langit-langit ruang Hak Asasi Manusia dan Aliansi Peradaban. Di atas mereka, kubah tua telah diubah menjadi lautan warna, yang tampak meneteskan stalaktit berwarna merah, biru, dan kuning.

Ini adalah karya Miquel Barcelo, salah satu seniman kontemporer terkemuka Spanyol. Selama dua tahun, Barcelo telah bekerja untuk mengubah kubah elips 16.000 kaki persegi menjadi sesuatu yang benar-benar istimewa. Dia dan 20 asistennya — termasuk juru masak dan ahli gua — menggunakan lebih dari 100 ton cat untuk menghiasi langit-langit, dengan sengaja memilih pigmen dari seluruh dunia.

Dan di antara lautan warna-warna cerah yang berstalaktit cat itu, yang awalnya membuat takut beberapa dari mereka yang berdiri di bawah – dengan bercanda bahwa stalaktit itu mungkin menjatuhi kepala saingan politik mereka.

Barcelo memastikan tidak bakal ada stalaktit yang jatuh. Barcelo menggantung stalaktit resin, beberapa di antaranya hampir tiga kaki panjangnya, dari sarang lebah aluminium yang dibuat khusus. Semua bahan-bahan itu dibuat untuk memastikan hiasan itu tidak bisa jatuh.

Inspirasi Barcelo untuk langit-langit berasal dari hari yang panas di wilayah Sahel di Afrika, “Saya ingat dengan kejernihan fatamorgana menganai visual dunia yang menetes ke langit. Pohon, bukit pasir, keledai, makhluk beraneka warna ... menetes setetes demi setetes. Dan sedang digunakan oleh umat manusia."

Karya Barcelo dipandang oleh hadirin sebagai kemenangan artistik. Sebagian mereka menyamakan Kapel Sistine modern. Proyek ini menelan biaya sekitar 20 juta euro (US$ 25,25 juta), dengan sebagian besar uang berasal dari ONUART Foundation, kemitraan publik-swasta nirlaba Spanyol yang didirikan oleh Kementerian Luar Negeri Spanyol. Dari uang publik, € 500.000 (US$ 633.000) berasal dari anggaran untuk bantuan pembangunan luar negeri dan organisasi internasional (seperti PBB).

Biaya yang dianggap mahal itu, menurut para kritikus dapat dihabiskan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan perawatan kesehatan di negara-negara miskin. Perdebatan terus berkobar, dengan berbagai klaim dan bantahan datang dari kedua belah pihak.

Javier Garrigues, duta besar Spanyol untuk PBB, berpendapat bahwa proyek itu dibenarkan mengingat lokasinya: "Mendanai markas besar hak asasi manusia jelas termasuk dalam kategori bantuan pembangunan," katanya.

Sementara Miquel Barcelo, ia menanggapi kontroversi dengan kepala dingin, dengan cara tak banyak beretorika dan lebih banyak memanfaatkan waktunya bekerja di bengkel.

Proyek ini menelan biaya sekitar 20 juta euro (US$ 25,25 juta), dengan sebagian besar uang berasal dari ONUART Foundation, kemitraan publik-swasta nirlaba Spanyol. Foto: United States Mission Geneva

Lantas bagaimana cara mengunjunginya? Ruang Hak Asasi Manusia dan Aliansi Peradaban (rumah dari langit-langit karay Miquel Barcelo) terletak di Markas Besar PBB (Palais des Nations ) di Jenewa, Swiss.

Tur-tur wisata di kantor tersebut -- yang mencakup Hak Asasi Manusia dan Ruang Aliansi Peradaban -- berlangsung hampir setiap hari. Pengunjung harus masuk melalui Gerbang Pregny istana pada pukul 14, avenue de la Paix. Anda dapat memeriksa jadwal dan biaya masuk terbaru di situs UNOG.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT