Bahaya Komentar di Media Sosial buat Penderita Alzheimer
TEMPO.CO | 07/10/2019 20:31
Ilustrasi demensia/Alzheimer. Wisegeek.com
Ilustrasi demensia/Alzheimer. Wisegeek.com

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang belum memahami kekuatan media sosial untuk melampaui komunikasi interpersonal, tatap muka, yang biasa dilakukan manusia. Para peneliti mencatat dalam satu laporan tahun 2012 bahwa sikap negatif mengenai penyakit Alzheimer dan demensia bisa menyebabkan rasa malu, bersalah, keputusasaan dan pengucilan sosial di antara individu yang terdampak stigma, yang kemudian mengakibatkan penundaan diagnosis, kemampuan untuk mengatasi, dan penurunan kualitas hidup.

Komentar yang mungkin tidak akan pernah disampaikan seseorang dalam percakapan tatap muka seringkali disalurkan via media sosial ke puluhan, ratusan, atau pada akhirnya ribuan orang yang sebenarnya tidak dituju.

"Sebagai bagian dari masyarakat kita sepertinya mempelajari keahlian baru dalam komunikasi tertulis, dan kita tidak sepenuhnya memahami atau merefleksikan kekuatannya untuk mempengaruhi begitu banyak orang dengan cara yang tidak kita inginkan," kata Nels Oscar, mahasiswa pasca-sarjana di Fakultas Teknik Universitas Negeri Oregon di Amerika Serikat.

"Media sosial itu instan, dalam beberapa kasus bisa menjangkau jutaan orang dalam sekali waktu, dan bahkan bisa memprovokasi perilaku. Kita bahkan seringkali tidak tahu siapa yang mungkin membacanya dan bagaimana itu mempengaruhi mereka," kata Oscar, penulis utama studi itu.

Ketika berkaitan dengan penyakit Alzheimer, komentar tidak bijak atau merendahkan via media sosial secara luar biasa membuat masalah yang sudah serius itu bertambah parah. Topik itu dipelajari oleh Oscar dan koleganya, yang mempublikasikan makalah mereka di Journals of Gerontology: Psychological Sciences.

Ilustrasi Media Sosial. Kredit: Forbes

Jumlah individu penderita demensia yang secara global diproyeksikan bertambah menjadi tiga kali lipat dalam dekade mendatang, dari 43 juta sekarang menjadi 131 juta pada 2050. Dalam riset, perangkat lunak dirancang mengenali dan menginterpretasikan penggunaan beragam kata kunci yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer seperti demensia, kehilangan ingatan, atau pikun.

Sistem itu diperbaiki dengan membandingkan hasilnya dengan komentar serupa yang dievaluasi oleh para peneliti dan pada akhirnya mencapai tingkat keakuratan sekitar 90 persen dalam menentukan apakah satu komentar bersifat informatif, lelucon, metafora, ejekan, atau sesuai dengan dimensi yang lain.

Para peneliti menggunakan perangkat untuk menganalisis 33.000 cuitan yang merujuk ke penyakit Alzheimer dan sistem itu mengindikasikan bahwa orang-orang yang memperhatikan masalah ini mungkin lebih baik dibanding komentar mereka di media sosial dan juga lebih berminat terlibat dengan orang lain yang menggunakan bahasa yang tidak sensitif dan berpotensi menyakiti.

Namun demikian, "Sangat mengejutkan bagi saya bagaimana banyak orang mencap penyakit Alzheimer dan menguatkan stereotip yang lebih lanjut bisa mengasingkan orang-orang dengan kondisi ini," kata Karen Hooker dari Pusat Studi Gerontologi dan Keluarga di Universitas negeri Oregon.

"Ini bisa menciptakan apa yang kami sebut 'ekses kecacatan', ketika orang yang menghadapi stigma kondisinya memburuk hanya karena ekspektasi negatif akibat stereotip yang merusak,” tambahnya.

"Jenis stigma seperti ini bisa membuat orang kemungkinan tidak akan mengungkap masalah dan menjalani perawatan ketika mereka seharusnya bisa menjalani hidup dengan nyaman, bermakna, dan produktif," kata Hooker dalam siaran pers universitas.

"Sikap kita, hal yang kita katakan, mempengaruhi orang lain. Dan media sosial sekarang memperkuat kemampuan kita menjangkau orang lain dengan komentar-komentar tak bijak atau menyakitkan," lanjutnya lagi.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT