Mitos soal Gula Semut yang Perlu Diluruskan
TEMPO.CO | 06/09/2019 12:33
Ilustrasi - Gula semut (brown sugar). Manfaatkan kulit manggis dan nira, mahasiswa Unpad kreasikan gula semut mengandung antioksidan dan rendah kalori. Doc KOMUNIKA ONLINE
Ilustrasi - Gula semut (brown sugar). Manfaatkan kulit manggis dan nira, mahasiswa Unpad kreasikan gula semut mengandung antioksidan dan rendah kalori. Doc KOMUNIKA ONLINE

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak yang menganggap gula pasir dengan molase atau brown sugar (gula semut) lebih menyehatkan dari gula putih. Penderita diabetes biasanya dianjurkan untuk memilih gula semut daripada gula putih.

Seperti dilansir dari Medical Daily, gula semut dan gula putih terbuat dari tanaman tebu atau bit. Walaupun keduanya memiliki warna yang berbeda, nilai gizinya kurang lebih sama.

Faktanya, gula semut hanyalah gula putih yang dibuat dari campuran gula putih halus dan molase untuk memberikan warna gelap serta sejumlah kecil vitamin dan mineral. Gula semut juga memiliki kandungan karbohidrat dan kalori yang lebih rendah daripada gula putih, meskipun perbedaannya sangat kecil.

Ilustrasi gula pasir. shutterstock.com

Ada lebih banyak kalium, zat besi, dan kalsium dalam gula semut dibanding gula putih. Namun, perbedaan ini terlalu kecil sehingga tidak mungkin mempengaruhi kesehatan dalam jumlah yang signifikan.

Penderita diabetes tidak akan lebih baik jika memilih gula semut daripada gula putih. Kedua jenis gula itu tidak hanya berhubungan dengan risiko penyakit jantung dan kondisi lain yang lebih tinggi tetapi juga meningkatkan kadar gula darah sehingga sangat berbahaya bagi penderita diabetes.

Ada juga berbagai penelitian yang menunjukkan, asupan gula dapat mengganggu sensitivitas insulin, yang merupakan hormon yang membantu mengatur kadar gula darah. Jadi, penderita diabetes harus membatasi dan mengontrol asupan gula, baik itu coklat ataupun putih.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT