Komplikasi Hipertensi, Awas Masalah Mata Hingga Disfungsi Seksual
TEMPO.CO | 19/08/2019 07:50
Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)
Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)

TEMPO.CO, JakartaHipertensi atau tekanan darah tinggi, tentu sudah sering Anda dengar. Namun bukan berarti Anda malah menyepelekannya. Sebab, ada beragam komplikasi hipertensi, yang mengganggu kualitas hidup, bahkan mengancam nyawa Anda. Hipertensi terjadi ketika tekanan atau dorongan yang diberikan darah terhadap pembuluh darah, terlalu kuat atau kelewat tinggi. Umumnya, tekanan darah disebut tinggi apabila mencapai angka 130/80 Milimeter Merkuri alias mmHg atau lebih.

Hipertensi bisa meningkatkan risiko penderitanya terhadap penyakit yang lebih serius. Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ jantung, otak, mata, hingga mengganggu aktivitas seksualitas Anda. Berikut penjelasannya seperti dilansir SehatQ.

1. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah
Ada beberapa penyakit jantung yang menjadi komplikasi hipertensi, termasuk penyakit jantung koroner, pembesaran jantung sebelah kiri, serangan jantung, dan gagal jantung. Hipertensi yang tidak ditangani, bisa menyebabkan pembuluh darah rusak, mengeras, dan mengencang. Keadaan ini menghalangi aliran darah menuju jantung, dan mengakibatkan nyeri pada bagian dada (angina), serta sesak napas. Keadaan inilah yang disebut sebagai penyakit jantung koroner.

Ilustrasi gagal jantung (Pixabay.com)

Terhalangnya aliran darah tersebut juga dapat memicu detak jantung yang tidak teratur, bahkan serangan jantung.

Hipertensi juga memaksa jantung bekerja lebih keras dari kondisi normal, untuk memompa darah. Keadaan ini menyebabkan bilik kiri jantung, yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh menjadi tebal dan tegang (pembesaran jantung kiri). Apabila terus dibiarkan, kondisi ini meningkatkan risiko Anda terkena serangan jantung, henti jantung mendadak, dan gagal jantung.

Selain itu, tekanan darah tinggi juga menyebabkan otot jantung menjadi lemah, serta bekerja dengan kurang efisien. Pada akhirnya, jantung akan kewalahan, dan mengalami aus. Kondisi ini menyebabkan terjadinya gagal jantung.

2. Penyakit ginjal
Hipertensi yang terus-menerus terjadi juga dapat mengakibatkan komplikasi, berupa penyakit ginjal kronis dan gagal ginjal. Tekanan darah tinggi bahkan menjadi penyebab kedua seseorang menderita gagal ginjal.

Ginjal berfungsi untuk menyaring darah. Apabila pembuluh darah kecil di organ ini rusak karena hipertensi yang tidak terkontrol, maka ginjal akan kesulitan menyaring zat yang tidak lagi diperlukan tubuh.

3. Gangguan pada otak, seperti stroke dan demensia
Kondisi stroke terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik), atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik), pada area otak. Keadaan tersebut dapat menimbulkan terganggunya persediaan darah dan oksigen di otak, sehingga memicu matinya sel-sel di otak. Hipertensi yang tidak terkontrol membuat pembuluh darah di otak menyempit, pecah, atau bocor. Tekanan darah tinggi juga memicu gumpalan darah di sepanjang pembuluh darah menuju otak, sehingga menghalangi aliran darah dan menyebabkan stroke.

Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)

Selain stroke, komplikasi hipertensi juga dapat berupa penyakit demensia. Ini merupakan penyakit otak yang membuat penderitanya sulit berpikir, berbicara, bernalar, mengingat, melihat, maupun bergerak. Ada beberapa penyebab kondisi ini, dan salah satunya adalah demensia vaskular. Demensia vaskular terjadi akibat penyempitan pembuluh darah, yang membuat tersumbatnya suplai darah ke otak. Demensia vaskular bisa disebabkan oleh stroke, maupun hipertensi.

4. Gangguan pada mata
Tekanan darah tinggi atau hipertensi juga bisa menyerang mata, dan disebut sebagai retinopati hipertensi. Sesuai namanya, hipertensi pada mata terjadi pada pembuluh darah bagian retina, yang berfungsi untuk mengubah cahaya yang masuk ke mata, menjadi sinyal saraf untuk disampaikan ke otak.

Hipertensi yang tidak terkendali dapat membuat pembuluh darah retina menebal, lalu menyempit, dan menghambat aliran darah di sekitar retina. Pada beberapa kasus, retina juga dapat mengalami pembengkakan. Rusaknya pembuluh darah di retina memicu gangguan pada fungsi bagian mata tersebut. Selain itu, hipertensi juga dapat memberikan tekanan pada saraf mata yang disebut neuropati optik. Keadaan ini dapat membunuh sel-sel saraf di mata dan mengganggu kemampuan penglihatan, bahkan menyebabkan kebutaan.

Ilustrasi disfungsi ereksi. Shutterstock

5. Disfungsi seksual
Komplikasi hipertensi juga dapat berupa disfungsi seksual, baik pada pria, maupun wanita. Tekanan darah tinggi dapat menghambat aliran darah, termasuk darah yang menuju organ penis. Sehingga, pria dengan tekanan darah tinggi, berisiko untuk mengalami disfungsi ereksi, atau kesulitan mempertahankan ereksi penis. Wanita dengan hipertensi juga berisiko mengalami disfungsi seksual. Sebab, tekanan darah tinggi mengurangi aliran darah ke vagina, yang mengurangi hasrat seksual, membuat vagina menjadi kering, hingga kesulitan mencapai orgasme.

Penting penderita hipertensi untuk mampu mengendalikan hipertensi. Terapkan gaya hidup sehat mulai dari sekarang, untuk mengendalikan tekanan darah yang tinggi. Gaya hidup sehat tersebut, termasuk dengan menghindari berat badan berlebih, berolahraga teratur, serta mengonsumsi makanan yang sehat. Kurangi asupan garam dari menu sehari-hari, serta kurangi makanan yang diproses. Anda juga harus menghindari konsumsi alkohol, atau setidaknya bisa mengurangi minuman keras tersebut. Berhenti merokok, mengendalikan stres, dan memonitor tekanan darah secara berkala, juga perlu Anda lakukan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT