Perbedaan Tabir Surya Mineral dan Kimia, Mana yang Lebih Aman?
TEMPO.CO | 14/08/2019 05:30
Ilustrasi perempuan sedang memilih berbagai jenis tabir surya. shutterstock.com
Ilustrasi perempuan sedang memilih berbagai jenis tabir surya. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Tabir surya atau sunscreen merupakan produk yang wajib digunakan untuk menangkal sinar UVA dan UVB matahari. Suncreen saat ini hadir dalam dua formula, yaitu mineral dan kimia. Lalu mana yang lebih aman digunakan?

Melansir Harper's Bazaar, tabir surya kimia ini lebih mudah dan lebih mewah untuk diterapkan, karena ringan, mudah diserap, dan tidak meninggalkan gips putih. Namun, sebenarnya tabir surya kimia ini memiliki dampak negatif untuk kesehatan dan lingkungan Anda.

Tabir surya ini menggunakan seng atau titanium dioksida untuk membelokkan sinar ultarviolet (UV) matahari yang terpapar pada kulit. Selain itu, tabir surya dari bahan kimia juga diketahui mengandung avobenzone, homosalate, octisalate, octocrylene, atau oxybenzone untuk menciptakan reaksi kimia pada kulit Anda.

Lebih jauh lagi, berbagai studi yang diterbitkan baru-baru ini menunjukkan bahwa bahan oxybenzone diduga kuat sebagai pengganggu hormon estrogenik yang mengakibatkan berat lahir bayi rendah dan cacat lahir 'Hirschsprung'. Pada Mei 2019, badan pangan dan obat-obatan Amerika Serikat mengkonfirmasi bahwa "penyerapan sistemik" oxybenzone dan filter kimia lain dari tabir surya melebihi ambang yang disarankan, yang khususnya bermasalah untuk anak-anak.

Selain berbahaya untuk kesehatan, tabir surya kimia juga berdampak buruk untuk lingkungan. Tabir surya tidak hanya merasuk ke tubuh kita dan menguap ke udara. Saat Anda berenang atau mandi, tabir surya kimia ini ikut luruh ke dalam saluran air hingga pasokan air.

“Studi telah mengidentifikasi filter UV seperti oxybenzone, octocrylene, octinoxate, dan ethylhexyl salicylate di hampir semua sumber air di seluruh dunia dan berkomentar bahwa filter ini tidak mudah dihilangkan dengan teknik instalasi pengolahan air limbah umum,” para penulis menyimpulkan pada Januari 2019 studi yang dipublikasikan di JAMA.

Bahkan, studi terbaru menunjukkan bahwa bahan-bahan kimia tersebut juga ditemukan bersemayam di biota laut, termasuk terumbu karang, ikan, dan lain-lainnya. "Oxybenzone juga dapat bereaksi dengan klorin, menghasilkan produk sampingan berbahaya yang dapat berkonsentrasi di kolam renang dan pabrik pengolahan air limbah," menurut sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan dalam Jurnal Cosmetic Dermatology.

Sedangkan, tabir surya mineral ternyata cenderung lebih lembut dan alami. Oleh karena itu lebih aman digunakan untuk yang memiliki kulit sensitif.

Untuk digunakan sehari-hari, Anda bisa memilih tabir surya mineral yang mengandung seng atau titanium oksida dengan nilai SPF 30. Hindari tabir surya yang memiliki tambahan formula penolak serangga dan turunan vitamin A (retinyl palmitate, retinol, retinyl acetate, retinyl linoleate, dan asam retinoat), yang dapat menyebabkan peningkatan foto sensitifitas kulit dan kerusakan oksidatif.

Sayangnya, semakin alami formula tabir surya, semakin tidak nyaman pula tekstur tabir suryanya. Untuk mendapatkian tabir surya yang aman kalian harus membayarnya dengan tekstur yang tebal, lengket, dan terlihat noda putih pula saat pengaplikasiannya.

 

GALUH PUTRI RIYANTO


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT