Kisah Toko Musik Album Fisik yang Terus Terusik
TEMPO.CO | 28/07/2019 21:00
Benda koleksi berupa piringan hitam di Pasar Koleksi Bandung di Bandung, 8 April 2018. Festival jual beli produk industri musik khususnya CD, kaset, dan piringan hitam ini digelar sebagai bagian dari peringatan hari toko rilisan fisik sedunia. TEMPO/Prima
Benda koleksi berupa piringan hitam di Pasar Koleksi Bandung di Bandung, 8 April 2018. Festival jual beli produk industri musik khususnya CD, kaset, dan piringan hitam ini digelar sebagai bagian dari peringatan hari toko rilisan fisik sedunia. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Jakarta - Penikmat musik, khususnya para pehobi album fisik, terperanjat saat mendengar kabar toko musik Aquarius Mahakam yang berlokasi di Blok M, Jakarta Selatan, tutup selamanya pada 2013. Berselang dua tahun, giliran toko musik Duta Suara ikut serta menutup satu per satu cabangnya. Kini, hanya satu toko di bilangan Sabang, Jakarta Pusat, saja yang masih mengusung nama Duta Suara.

Nasib lebih tragis dialami Disc Tarra menyusul penutupan 40 gerai di seluruh Indonesia. Alasannya, penjualan album fisik musik terus menurun dari tahun ke tahun.

Terompet sangkakala seakan mengalun lebih cepat bagi toko-toko musik yang pernah menjadi saksi kejayaan musikus era 80-90an di Tanah Air. Sebutlah, Slank, Iwan Fals, Chrisye, Nike Ardila, Rhoma Irama, Gobless, dan sederet nama-nama legenda pemusik Indonesia yang moncer berkat toko-toko musik di berbagai kota.

Sebaliknya, layanan musik digital seperti Spotify, SoundCloud, YouTube, Apple Music, Joox, dan teman-teman mereka yang menjadi semakin meroket sekaligus menjadi penyebab minat pasar yang terus anjlok untuk mengoleksi lagu-lagu dalam berbalut kemasan fisik.

Nilai praktis, cepat, dan tidak membutuhkan ruang yang ditawarkan layanan-layanan itu terus menggerogoti laba bahkan pendapatan toko-toko musik album fisik secara global. Meskipun di sisi lain, layanan secara daring (online) menyimpan kekurangan seperti adanya akses internet cepat dan aman tanpa serangan siber.

Perusahaan riset media sosial asal Kanada dan Inggris, Hootsuite dan We Are Social, pada awal Januari 2019, melaporkan data statistik tentang durasi akses internet orang Indonesia yang rata-rata mencapai delapan jam 36 menit. Secara acak, mereka menghabiskan tiga jam dengan mengakses media sosial, dua jam melihat video, dan satu jam setengah untuk streaming musik.

Toko-toko musik album fisik juga berguguran di Amerika Serikat. Ambil contoh jaringan toko musik terbesar di Negeri Paman Sam, RadioShack. Perusahaan yang didirikan Milton Deutschmann dan Theodore Detuschmann pada 1921 itu terpaksa menutup 1.100 cabang pada 2014. Memang, segelintir toko musik seperti Musik Plus dan Harika Music masih membuka gerai mereka di pusat-pusat perbelanjaan. Hanya saja, jumlah mereka dapat terhitung dengan jari kedua tangan.

Sepi pengunjung

Bertahan degan hanya satu toko musik fisik, Duta Suara masih setia membuka pintu toko mereka setidaknya para kolektor album fisik nusantara serta mancanegara.

Gerai satu-satunya di Jalan Agus Salim, atau akrab dikenal jalan Sabang, Jakarta Pusat itu telah menjual album fisik selama lebih dari 40 tahun.

Duta Suara, dalam perjalanan bisnisnya, sempat memiliki 14 cabang di berbagai tempat termasuk di pusat-pusat perbelanjaan ternama di Jakarta dan terpaksa gulung tikar pada pertengahan periode 2000-an.

Rak-rak berisi aneka album genre musik masih menyambut setiap pengunjung yang melangkah ke dalam toko di dekat kawasan kuliner BSM Sabang, Jakarta itu. Kemasan album kaset, compact disc (CD), video compact disc (VCD), hingga piringan hitam musikus dalam dan luar negeri masih tertata rapi untuk dikoleksi

Selain album musik fisik, para pengunjung toko juga dapat memilih beragam judul film lebar yang terbungkus digital versatile disc (DVD). Begitu pula, aksesoris perangkat musik seperti pengeras suara di kepala (headset).

Hary, salah satu staf toko musik Duta Suara, mengakui penurunan jumlah pembeli, bahkan pengunjung ke toko yang populer pada 1980an itu. Pada masa jayanya, Duta Suara menjadi rujukan dan lokasi berkumpul kawula muda Jakarta, apalagi saat album baru musisi ternama tiba di pasar.

Duta Suara, menurut Hary, tidak menampik kehadiran layanan musik digital sebagai mengubah kebiasaan pendengar musik yang berujung pada kemerosotan penjualan album fisik di toko itu. "Makanya, sekarang sih masih ada (pembeli). Cuma, (mereka) yang datang kebanyakan (adalah) orang-orang kolektor," ujar Hary.

Sejumlah produsen dan label musik yang tidak lagi merilis album fisik menjadi ancaman ain bagi Duta Suara untuk menyajikan koleksi bagi para penggemarnya demi eksistensi toko. "Dari major label sudah kurang, tapi kebanyakan sekarang dari indie label," kata Hary tentang kehadiran album fisik musik di tokonya.

Setidaknya, Duta Suara masih merasa beruntung walau menyisakan satu toko di kawasan Sabang Jakarta. Kepemilikan bangunan toko itu masih satu nama dengan pemilik nama toko sehingga tidak perlu merogoh ongkos sewa.

Salah satu pengunjung setia yang mengaku sudah lama berlangganan di Duta Suara adalah Mia Sumiati. Wanita yang tinggal di kawasan Setiabudi tersebut masih rutin datang untuk membeli album fisik, seperti CD musik dan VCD karaoke. "Saya sih enggak mau pakai (album) bajakan (karena) setiap beli selalu ke tempatnya (album resmi). Di sini (Jakarta) kan sudah tahu, dari dulu (ada) Duta Suara. (Saya) sudah langganan. Jadi saya enak, bisa milih-milih yang bagus," kata Mia.

Kenangan dengan toko musik Duta Suara juga diingat oleh penyanyi Marcello Tahitoe, atau akrab disapa Ello, yang mengaku sudah sejak SD menjadi pelanggan.

Saat itu, Ello sering datang guna membeli album fisik dari musikus idolanya. Bahkan, dia tidak ragu untuk menghabiskan banyak waktu hanya demi mencari album penyanyi serta grup musik idolanya. "Sebenernya dari dulu, gue suka musik rock, lebih tepatnya rock 'n roll. Gue waktu kecil sering ke Duta Suara di Jalan Sabang. Itu toko kaset, di temboknya, gua inget banget kelas 2 SD. Gua langsung nyari 'Rock n Roll 50 Top Compilations'," ujar penyanyi yang populer dengan lagu "Kisah Kita Tlah Usai" itu.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT