Bekas Bandara Kemayoran Sebaiknya Jadi Apa?
TEMPO.CO | 18/07/2019 10:34
Pengunjung beraktivitas saat pameran konservasi seni rupa relief di Eks Bandara Kemayoran, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Relief ini dibuat dengan mengusung tema tentang kekayaan Indonesia atas gagasan Presiden Soekarno yang merupakan karya dari seniman Har
Pengunjung beraktivitas saat pameran konservasi seni rupa relief di Eks Bandara Kemayoran, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Relief ini dibuat dengan mengusung tema tentang kekayaan Indonesia atas gagasan Presiden Soekarno yang merupakan karya dari seniman Harijadi Sumodidjojo, Soedjojono dan Surono. TEMPO/Muhammad Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Bangunan gedung bekas Bandar Udara Internasional Kemayoran rupanya menyimpan banyak cerita. Pernah jadi ruang untuk pendaratan sekutu pada Perang Dunia II dan kian mendunia karena masuk plot komik Tintin.

Salah satu bandara tertua di Indonesia itu pernah menjadi bagian perjalanan cerita tokoh komik Tintin, dalam judul 'Penerbangan 714 ke Sydney' atau dalam bahasa Prancis 'Vol 714 pour Sydney', album serial Kisah Petualangan Tintin yang ke-22.

"Ada relief gambaran kekayaan Nusantara," kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pusat Pengelolaan Kompleks Kemayoran Riski Renando di Eks-Bandar Udara Internasional Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 17 Juli 2019.

Adapun dalam bekas ruangan Very Important Person (VIP) Bandar Udara Internasional Kemayoran itu terdapat relief karya Sindoedarsono Soedjojono, Harijadi Sumodidjojo, dan RM Soerono Hendronoto, yang dulu tergabung dalam organisasi Seniman Indonesia Muda.

Salah satu lukisan dinding yang masih tersisa di bekas kantor Bandara Kemayoran, Jakarta, Selasa (16/7). TEMPO/Yosep Arkian

Tiga relief itu mengusung tema kekayaan Indonesia, berdasarkan gagasan Presiden Soekarno pada 1957. Saat ini ruangan VIP itu tampak paling terurus dibandingkan bangunan lainnya.

"Relief yang pernah menjadi saksi sejarah penerbangan Indonesia," ucap Riski. "Masyarakat mungkin belum sepenuhnya mengetahui keberadaan karya seni tersebut."

Maka, dengan usia bangunan Bandar Udara Internasional Kemayoran yang sudah lebih 50 tahun, pihaknya bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ingin menjadikan sebagai situs cagar budaya.

Kemudian, kata dia, mempertimbangkan lagi pengelolaan ke depannya. "Kalau ruang ini dibuka tanpa fungsi, orang tidak tertarik. Misalnya, ini (ruangan VIP) dijadikan ruang seniman-seniman yang memamerkan karyanya di sini. Atau misalnya musik sore," katanya.

Namun rencana membuka tempat itu untuk umum masih dalam pertimbangan yang panjang. Alasannya, karena agar relief dan bangunan ruangan VIP itu bisa bermanfaat untuk nilai edukasi. "bukan hanya dibiarkan seperti ini saja," ujarnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT