Telinga Berdenging Bukan Tanda Sedang Digosipkan, Ini Sebabnya
TEMPO.CO | 12/07/2019 07:45
Ilustrasi mengusap telinga. Lovemerubme.com
Ilustrasi mengusap telinga. Lovemerubme.com

TEMPO.CO, Jakarta - Pernah mengalami telinga berdenging? Banyak yang mengaitkan kondisi ini dengan mitos, misalnya akan kedatangan tamu atau sedang digosipi atau dibicarakan orang lain. Tapi tentu ini tidak memiliki penjelasan ilmiah. Telinga berdenging sebenarnya bisa jadi tanda suatu penyakit, seperti tumbuhnya tumor neuroma akustik. 

Baca juga: Angka Gangguan Pendengaran Pria Lebih Tinggi, Ini Penyebabnya

Istilah medis untuk telinga berdenging adalah kondisi tinnitus atau persepsi suara yang Anda dengar pada organ telinga. Jenis suara yang mungkin Anda dengar bermacam-macam, misalnya siulan, kicauan, dengungan, atau desisan. Telinga berdenging bisa menyerang siapa saja, namun kerap dialami oleh para lansia.

Neuroma akustik merupakan tumor jinak. Tumor ini tumbuh pada saraf penghubung otak dan telinga bagian dalam, yang disebut sebagai saraf pendengaran dan keseimbangan (saraf vestibulokoklear). Walaupun jinak, neuroma akustik tetap dapat menimbulkan komplikasi, apabila tidak ditangani dengan baik.

Penyebab tumor ini adalah malfungsi gen di kromosom 22. Dalam keadaan normal, gen ini menghasilkan protein untuk menekan pertumbuhan sel Schwann, yang menutupi saraf.

Selain telinga berdenging, ada tanda-tanda lain yang menjadi gejala neuroma akustik. Gejala tersebut seperti gangguan pendengaran, sensasi berputar atau vertigo, dan mati rasa pada wajah.

Telinga berdenging juga bisa disebabkan oleh kondisi medis lain, berikut beberapa di antaranya.

1. Meniere 

Penumpukan cairan di telinga bagian dalam (labirin) dapat mengakibatkan perasaan pengap, pusing berlebihan, sensasi berputar atau vertigo, penurunan fungsi pendengaran, dan tentunya telinga berdenging.

Penyebab gangguan ini belum dapat dipastikan. Namun para ahli percaya, kondisi ini disebabkan oleh perubahan cairan di telinga bagian dalam, alergi, faktor genetik, atau penyakit autoimun. Orang dengan usia 40-50 tahun paling sering mengalami kondisi ini.

2. Presbikusis 

Presbikusis adalah gangguan telinga yang umum dialami lansia. Kondisi ini berupa menghilangnya kemampuan mendengar secara perlahan-lahan, seiring pertambahan umur. Kehilangan pendengaran ini dapat menyerang kedua telinga, dan umumnya terjadi secara perlahan.

Pertambahan usia memang menjadi faktor risiko utama. Faktor risiko lainnya seperti kebiasaan merokok, paparan suara bising secara berulang, faktor keturunan, dan diabetes atau peyakit lainnaya bisa mempengaruhi.

3. Otosklerosis

Kondisi ini terjadi ketika tulang telinga tumbuh memanjang, membentuk spons dengan tidak normal. Pertumbuhan tersebut menyulitkan tulang telinga untuk bergetar, dan merespons gelombang suara. Akibatnya, penderita otosklerosis mengalami kehilangan pendengaran.

Kondisi ini kerap diderita oleh orang dewasa muda, dan cenderung lebih menyerang perempuan daripada pria. Selain itu, osteklerosis lebih sering dialami oleh orang berkulit terang, dibandingkan ras lain.

4. Labirinitis

Pada kondisi ini, bagian telinga dalam yang disebut labirin, mengalami peradangan. Labirinitis dapat menimbulkan gejala seperti sensasi vertigo, mual dan muntah, kehilangan keseimbangan, serta telinga berdenging.

Penyebab dari labirinitis juga tidak diketahui dengan pasti. Faktor-faktor yang mungkin berkontribusi membuat labirin meradang adalah alergi, infeksi virus, infeksi bakteri, tumbuhnya tumor di telinga bagian tengah, atau kondisi fisik seperti flu.

Baca juga: Cegah Tuli, Hitung Kekuatan Bunyi yang Masuk ke Telinga

Beberapa penyebab dan kondisi medis lain, seperti bunyi-bunyian yang berisik dan terlalu menumpuknya kotoran telinga, juga dapat menjadi arti telinga berdenging. Kondisi ini juga bisa dipicu oleh berbagai penyakit lainnya, seperti tekanan darah tinggi, sindrom fibromyalgia, atau luka pada leher dan kepala.

SEHATQ.COM

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT