Kata Peneliti, Guru yang Depresi Berdampak pada Murid
TEMPO.CO | 10/07/2019 21:42
Ilustrasi guru. shutterstock.com
Ilustrasi guru. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Dalam sebuah penelitian, guru yang menunjukkan gejala depresi, seperti nafsu makan menurun, tidur tidak nyenyak, menangis, dan merasa gagal, kemungkinan akan menghasilkan suasana kelas yang kurang berkualitas.

"Studi kami menunjukkan bahwa guru yang depresi bukan hanya masalah personal, tapi juga berpotensi dapat berpengaruh pada pengalaman belajar murid-muridnya," kata Leigh McLean psikolog dari Arizona State University di Amerika Serikat, seperti yang diberitakan LiveScience.

Baca juga:
4 Kiat buat Generasi Milenial untuk Menghindari Depresi

Sebanyak 27 guru dan 523 murid kelas tiga sekolah dasar di delapan sekolah di distrik Florida menjadi subjek penelitian. Para guru diminta mengisi kuesioner risiko depresi berdasarkan gejala yang mereka alami. Peneliti juga memasang kamera di kelas untuk menilai kualitas lingkungan belajar.

Tim observator sebelumnya tidak mengetahui gejala depresi yang guru alami. Salah satu temuan mereka adalah murid yang lemah dalam matematika cenderung lebih terpengaruh oleh guru yang stres dan kualitas lingkungan belajar yang kurang baik. Hal sebaliknya terjadi pada siswa yang lebih mahir matematika.

Sementara itu, gejala stres pada guru tidak berpengaruh pada kemampuan membaca murid-muridnya. Para peneliti berpendapat guru lebih percaya diri ketika mengajar membaca.

Artikel lain:
3 Hal yang Bisa Dilakukan saat Depresi

Guru rentan terpapar stres karena harus mengatasi masalah di ruang kelas hingga menangani orang tua yang sulit. McLean menyarankan ada konseling untuk guru di sekolah, program mentoring yang fokus pada cara menangani stres akibat pekerjaan dan asuransi kesehatan yang mencakup kesehatan mental. Meski sampel studi masih harus diperbesar, McLean berpendapat tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk mengembangkan intervensi dan program profesional untuk membantu guru mengatasi tekanan sehari-hari yang disebabkan pekerjaan.

Ia mencontohkan profesi tersebut berbeda dengan insinyur atau arsitek yang mungkin dapat beristirahat sebentar saat stres berlebihan. Guru sering tidak memiliki kesempatan ini.

"Mereka harus di kelas dan terus mengajar sambil menghadapi stres berat," kata McLean.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT