Tradisi Mabuug-buugan di Bali, Tradisi Berlumpur Seusai Nyepi
TEMPO.CO | 09/03/2019 08:23
Peserta Mabuug-buugan menjadi objek foto oleh wisatawan di pantai Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Tradisi Mabuug-buugan digelar sehari setelah Nyepi, Jumat, 8 Maret 2019. TEMPO | Made Argawa
Peserta Mabuug-buugan menjadi objek foto oleh wisatawan di pantai Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Tradisi Mabuug-buugan digelar sehari setelah Nyepi, Jumat, 8 Maret 2019. TEMPO | Made Argawa

TEMPO.CO, Badung - Ratusan pemuda dan remaja di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali berkumpul di Prapat Agung atau kawasan mangrove yang berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Bay Pass Ngurah Rai. Melalui instruksi panitia acara, pada Jumat, 8 Maret 2019, sekitar pukul 16.00 Wita masyarakat dari enam banjar serempak terjun dalam sungai kecil berlumpur di hutan mangrove yang masih dalam area Desa Adat Kedonganan.

Baca: Nikmatnya Berwisata Saat Nyepi di Pulau Bali

Hanya menggunakan udeng dan kain, para pemuda mulai mengambil lumpur dan mengoleskan pada bagian wajah, dada serta punggung. Lumpur juga diusapkan kepada orang terdekat hingga menimbulkan suasana riuh. Prosesi mandi lumpur berlangsung sekitar 30 menit, selanjutnya para peserta Mabuug-buugan menuju Pantai Kedongonan.

Tubuh peserta Mabuug-buugan penuh dengan lumpur di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Tradisi ini digelar sehari setelah Nyepi, Jumat, 8 Maret 2019. TEMPO | Made Argawa

Tiba di pantai Kedonganan sekitar pukul 16.45 Wita, para peserta beristirahat dan sebagian memainkan permainan tradisional Galo-galoan. Inilah tradisi Mabuug-buugan yang bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan ke Bali. "Tradisi Mabuug-buugan diharapkan bisa memberikan pilihan bagi wisatawan untuk melihat atraksi. Jadi mereka ke sini bukan hanya untuk makan,” kata Bendesa Adat Kedonganan I Wayan Merta.

Baca juga: Nyepi 2019: Intip 5 Budaya Unik Lain di Bali

Pria 56 tahun ini melanjutkan, untuk menggenjot target kunjungan wisata sebanyak 20 juta orang pada 2019 di Indonesia, perlu diperbanyak atraksi wisata. “Pada September nanti kami akan menggelar festival ikan,” ujarnya. Desa Kedonganan juga bakal mengembangkan objek wisata hutan bakau atau eko mangrove.

Panitia acara memberikan instruksi kepada peserta tradisi Mabuug-buugan di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Tradisi ini digelar sehari setelah Nyepi, Jumat, 8 Maret 2019. TEMPO | Made Argawa

Sebelum tradisi Mabuug-buuugan berakhir dengan mandi di laut untuk membersihkan lumpur, para peserta dihibur dengan tontonan tari Joged Bungbung. Sejumlah wisatawan yang sedang menikmati keindahan pantai Kedonganan turut menyaksikan tari Joged Bungbung bersama peserta Mabuug-buugan. Peserta yang berlumuran lumpur juga menjadi objek foto wisatawan.

Seorang wisatawan asal Australia, Sandra, 60 tahun mengatakan baru pertama kali menyaksikan tradisi Mabuug-buugan. “Ini menarik sekali," kata dia. Tradisi Mabuug-buugan kembali digelar dengan semarak pada 2015. Sebelum itu, tradisi ini menghilang karena adanya peristiwa G30S pada 1965. “Karena situasi politik tidak menentu, akhirnya Mabuug-buugan ditiadakan,” ujar I Wayan Merta. Meski begitu, menurut dia, masih ada satu dua orang yang masih melakukan tradisi tersebut.

Peserta Mabuug-buugan membersihkan diri di laut di pantai Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Tradisi Mabuug-buugan digelar sehari setelah Nyepi, Jumat, 8 Maret 2019. TEMPO | Made Argawa

Kata Mabuug-buugan berasal dari kata bug atau becek dan berhubungan dengan lumpur. Lumpur dianggap sesuatu yang kurang baik. Tradisi Mabuug-buugan sebagai simbol manusia yang melepas kotoran di tubuhnya. “Setelah Nyepi dan melakukan tradisi ini, seorang manusia sudah bersih di tahun baru Saka,” ujarnya. Untuk tempat pelaksanaan Mabuug-buugan, I Wayan Merta mengatakan tak ada perubahan sejak dulu hingga kini karena meneruskan apa yang telah dilakukan leluhur.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT