Media Sosial Tingkatkan Kasus Bunuh Diri Anak? Cek Kata Pakar
TEMPO.CO | 01/02/2019 06:45
Ilustrasi Media Sosial. Kredit: Forbes
Ilustrasi Media Sosial. Kredit: Forbes

TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak di era digital lebih rentan mengalami depresi dan gangguan kesehatan mental akibat penggunaan media sosial berlebihan. Apalagi jika hal tersebut tidak diimbangi dengan koneksi yang baik dengan orang tua maupun lingkungan di kehidupan nyata.

Baca juga: Tips Menggunakan Media Sosial Pengamat Gaya Hidup Ini

Marlon Morgan, Direktur Eksekutif Wellness Together, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kesehatan mental anak dan remaja usia sekolah di California, Amerika Serikat, mengatakan bahwa depresi terjadi karena anak-anak kewalahan menerima informasi namun kekurangan koneksi.

Sejak 2007 hingga saat ini angka kasus bunuh diri pada anak usia 0-14 tahun meningkat dua kali lipat. Marlon Morgan menyebutkan saat ini satu dari lima anak mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk depresi.

Menurut Marlon Morgan, salah satu perubahan terbesar dari meningkatnya penggunaan media digital adalah kurangnya interaksi bermakna di antara anak-anak. Hal itu dapat menyebabkan perasaan terisolasi yang lebih besar. “Mereka kesulitan menjawab dua pertanyaan yang dihadapi setiap anak: ‘Siapa saya?’ dan ‘Apakah saya berharga?’” kata Marlon Morgan.

Untuk itu orang tua tidak boleh lengah. Marlon Morgan mengingatkan agar tidak membiarkan anak terlalu asyik dengan media sosial dan kehidupan di dunia maya. Ajak anak berinteraksi di dunia nyata. Jadilah tempat berkeluh kesah tanpa menghakimi anak. Pastikan mereka menghayati eksistensi dan mengetahui jati diri mereka di lingkungan tempat tinggal.

Baca juga: Ketagihan Informasi Media Sosial Bisa Ganggu Keseimbangan Hidup

TABLOID BINTANG

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT