Generasi O Rentan Terserang Penyakit Kronis, Ini Sebabnya
TEMPO.CO | 24/11/2018 15:41
Ilustrasi perempuan sakit. Shutterstock
Ilustrasi perempuan sakit. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Mungkin belum banyak masayarakat yang familiar dengan istilah Generasi O. Padahal fenomena Generasi O sebetulnya sangat banyak, jumlahnya pun terus meningkat, bahkan mungkin kita satu diantaranya.

Istilah tersebut muncul dari hasil riset Sun Life Financial Asia Health Index 2014, yang menemukan adanya satu kelompok usia produktif yang tergolong dalam kategori Generasi O, yaitu generasi yang terlalu banyak bekerja dan terlalu banyak makan tidak sehat sehingga menyebabkan kegemukan dan obesitas, serta overwhelmed yang hidupnya semakin kewalahan sehingga menyebabkan stres.

Baca juga:
3 Penyakit yang banyak Menyerang Bayi, Ayo Jaga Kebersihan Tangan
Kenali 3 Penyakit yang Lebih Sering Diderita Perempuan

Studi tersebut dilakukan di delapan negara Asia, termasuk Indonesia, terhadap 600 responden yang berada dalam kelompok usia produktif antara 17 hingga 49 tahun. Shierly Ge, Chief Marketing Officer Sun Life Financial Indonesia mengatakan setelah dilakukan survei lanjutan pada 2017 ditemukan bahwa populasi generasi O kian meningkat. Hal tersebut muncul seiring dengan gaya hidup masyarakat yang cenderung menjalani pola hidup tidak teratur dan mengabaikan asupan makanan sehat.

Selain itu, dengan semakin banyaknya beban dan tekanan pekerjaan membuat orang sangat sibuk bekerja sehingga tidak memiliki waktu untuk berolahraga karena waktunya sudah habis berkutat dengan kesibukan yang membuatnya kewalahan.

Dalam survei tersebut ditemukan bahwa 51 persen generasi muda Indonesia belum rutin berolahraga. Adapun yang tidurnya kurang dari 6 jam per hari sebanyak 34 persen. Sementara itu, 32 persen di antaranya memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat. Masyarakat yang memiliki kebiasaan merokok lebih dari 1 kali per hari juga cenderung lebih tinggi presentasinya dari negara lain, yaitu 22 persen, dibandingkan dengan 13 persen secara regional.

“Jika ini dibiarkan terus menerus akan sangat membahayakan karena memicu timbulnya berbagai penyakit tidak menular. Karena itu, tak heran jika sekarang semakin banyak kelompok usia lebih muda yang terkena penyakit tidak menular,” ujarnya.

Hal ini sejalan dengan hasil data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 yang baru saja dirilis oleh Kementerian Kesehatan. Dari hasil tersebut ditemukan bahwa prevalensi penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi mengalami kenaikan dibandingkan dengan Riskesdas 2013.

ilustrasi sakit kepala (pixabay.com)

Prevelensi stroke naik dari 7 persen menjadi 10,9 persen. Penyakit ginjal kronis naik dari 2 menjadi 3,8 persen. Begitu pula dengan hasil pemeriksaan gula darah, jumlah penderita diabetes melitus naik dari 6,9 menjadi 8,5 persen. Kenaikan tertinggi terjadi pada penderita hipertensi yang melonjak dari 25,8 menjadi 34,1 persen.

Kenaikan prevelensi penyakit tidak menular ini pun tak lepas dari pola hidup yang seperti dilakukan oleh para Generasi O, yaitu merokok, kurangnya aktivitas fisik, stres, dan jarang mengonsumsi buah dan sayur.

Di samping itu, gaya hidup tak sehat dan jarang bergerak serta banyak mengonsumsi berbagai makanan tak sehat ikut menyumbang naiknya proporsi obesitas pada dewasa (overweight). Sejak 2007, jumlah populasi yang mengalami obesitas hanya 10,5 persen, kemudian naik menjadi 14,8 persen pada 2013 dan pada 2018 ini jumlahnya melompak ke angka 21,8 persen.

Dwi Sutarjantono, Pengamat Gaya Hidup mengatakan perubahan pola perilaku tersebut tak lepas dari gaya hidup modern yang serbateknologi serta semakin masifnya perkembangan media sosial. Hal ini membuat mereka terpacu untuk mencapai sesuatu untuk dipamerkan di media sosial, untuk kemudian mereka pamerkan kembali kesenangan tersebut di media sosial.

Misalnya saja, hanya sekadar untuk berfoto di depan ikon lokasi wisata, baik di dalam maupun luar negeri, menikmati berbagai kuliner dengan memotret menu tersebut sebelum dimakan, membeli barang-barang bermerek untuk dipamerkan di media sosial, dan lainnya.

“Ini membuat mereka seolah hidup untuk dunia maya. Ada permasalahan identitas yang kerap dialami akibat perkembangan media sosial ini,” tuturnya.

Akibatnya, generasi tersebut akan sangat ambisus dan terpacu dalam meraih keinginannya sehingga apapun akan dilakukan. Terlebih mereka juga sangat menyukai tantangan baru, bekerja cepat, dan ambisius dalam meraih keinginannya.

Namun di sisi lain, semangat tersebut justru membawa mereka pada kondisi kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Belum lagi ketatnya persaingan sehingga dapat memicu stres.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Generasi O ini cenderung memilih cara yang instan untuk menyelesaikan masalahnya. Misalnya saja, dengan bekerja hingga larut malam, mengonsumsi makanan cepat saji, apalagi dengan banyaknya kemudahan yang ditawarkan ojek online, sehingga semakin mudah memesan makanan tanpa harus bergerak, bahkan di malam hari.

Artikel lain:
Mengenal Penyakit Rinitis yang Sering Menyerang Anak
Cara Mudah Cegah Penyakit Kronis, Hindari Dehidrasi

Di samping itu, Generasi O ini pun terlalu menyibukkan dirinya dengan gawai dan berada pada posisi yang sama dalam waktu berjam-jam atau tidak banyak bergerak.

“Tanpa disadari kebiasaan tersebut justru memunculkan berbagai penyakit baru,” ungkapnya.

Memang, sambungnya, saat ini sudah banyak Generasi O yang memahami pentingnya pola hidup sehat. Sayangnya, pemahaman tersebut belum diimplementasikan sebagai pola hidup sehari-hari, hanya sekadar mengikuti tren untuk dipamerkan di media sosial.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT