Gerhana Matahari Total 1901 di Padang, Astronom Amerika Dianggap Tukang Ramal Hingga Bayangan Kiamat
LANGGAM.ID | 11/02/2020 14:00
Gerhana Matahari Total 1901 di Padang, Astronom Amerika Dianggap Tukang Ramal Hingga Bayangan Kiamat
Efek cincin saat berakhirnya gerhana matahari total do Madras, Oregon, 21 Agustus 2017. Courtesy Aubrey Gemignani/NASA/Handout via REUTERS

Langgam.id – Meski gerhana matahari cincin, Kamis (26/12), tidak memamerkan kemolekan sempurna di langit Padang (baca Sumatra Barat), tapi kibasan gelap sesaatnya bisa dikatakan berdaya magis, bukti kekusaan Yang Maha Kuasa.

Gerhana matahari cincin merupakan fenomena alamiah di jagat raya. Terjadi tatkala bulan tidak cukup besar untuk menutupi seluruh matahari, sehingga matahari tampak sebagai “cincin” cahaya di sekeliling bulan.

Disaat gerhana matahari berlangsung, kerucut bayangan bulan (umbra dan penumbra) akan jatuh ke sebagian permukaan bumi. Pelan-pelan, seluruh piringan matahari tertutup oleh bayangan bulan, hal yang kemudian disebut gerhana matahari total.

Sementara pengamat di wilayah penumbra, hanya bisa melihat piringan matahari tertutup sebagian oleh bulan. Kondisi di area penumbra ini disebut dengan gerhana matahari sebagian.

Pada 26 Desember 2019, sebagaimana data yang dilansir dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), gerhana matahari cincin sempurna terlihat di sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra.

Fenomena gerhana matahari cincin atau pun gerhana bulan lainnya adalah siklus alam. Ia terjadi berulang-ulang. Pola dan gesturenya sama. Yang membedakan hanya cara pandang dari mereka yang awam soal ketatasuryaan dan orang-orang yang bergiat di bidang itu (astronom).

Gerhana bulan bagi ilmuwan astronomi atau astronom, adalah fenomena yang terukur. Bisa ditebak kapan waktunya, bahkan posisi lintasannya.

Lebih seabad yang lalu, taksiran serupa juga telah ditunjukkan oleh para astronom. Awal abad 20, atau persisnya 18 Mei 1901, para astronom jauh-jauh hari telah tahu, dan telah memetakan wilayah perlintasannya.

Kepiawaian astronom menebak laku alam seperti gerhana tentunya bukan lantaran mereka ahli nujum, melainkan belajar, lalu paham dengan ilmu astronomi.

Sesungguhnya semua itu rasional. Dan bisa dipelajari.
Narasi tentang tata surya di jagat raya mungkin terlalu ‘tinggi ilmunya’ untuk dipahami orang awam. Apalagi di masa lalu, kala ilmu yang dipahami ya alam takambang jadi guru.

Kembali ke cerita gerhana di awal abad ke-20, masa itu yang terjadi adalah gerhana matahari total. Padang dan Mentawai menjadi salah satu jalur yang dilewati GMT.

Berdasarkan catatan National Aeronautics and Space Administration (NASA), total durasi gerhana matahari saat itu, 6 menit 27 detik. Magnitudonya mencapai 1.034.

Selain Padang, gerhana matahari total ini juga terlihat di Bukittinggi, Sawahlunto, dan beberapa daerah lain di Sumatra. Untuk Indonesia, gerhana matahari total juga melintasi Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku. Gerhana matahari total juga melewati Mauritanius, Papua Nugini.

Oleh sebagian astronom, Padang menjadi salah satu tujuan utama untuk pengamatan dan penelitian.

James W. Gould dalam buku Americans in Sumatra menyebutkan, pemilihan Hindia Belanda utamanya pulau Sumatra, karena aksesnya mudah dan dirasa lebih aman.

Alkisah, astronom Charles Dillon Perrine serta staffnya R.H Curtiss yang bekerja di Lick Observatory, University of California, pemimpin ekspedisi gerhana dari lembaga tersebut, memilih Padang sebagai tempat pengamatan dan penelitian.

Perrine dan Curtiss bertolak dengan kapal dari San Fransisco pada tanggal 19 Februari 1901. Selama 45 hari mengarungi samudera dengan persinggahan di Honululu, Jepang, Hongkong, Singapura, Batavia, mereka akhirnya sampai di Pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven) tanggal 5 April.

Sejenak mereka berkeliling kota untuk melihat lokasi yang pas. Gelanggang pacuan kuda di pinggir kota, sekitar Tunggul Hitam sekarang, mereka pilih sebagai tempat pengamatan.

“Tempat pengamatan dibangun oleh tukang dengan konstruksi bambu dan atap ijuk. Bangunan itu dilengkapi gudang penampungan barang dan pagar,” cerita Perrine dalam The Popular Science Monthly yang terbit bulan Agustus 1905.

Mereka juga menyewa penduduk setempat untuk menjadi penjaga bangunan yang menyerupai perkemahan tersebut.

Perrine punya waktu sekitar enam minggu untuk persiapan sebelum gerhana matahari total pancar pada 18 Mei. Selama itu pula, ia berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar, lalu mempersiapkan alat penunjang pengamatan seperti kamera dan teleskop.

Dari interaksi dengan penduduk sekitar, terungkap kisah-kisah nan menggelitik. Masyarakat setempat memberi tahu Perrine, kalau lokasi camp itu angker.

Aura ketakutan dari sang penjaga di hari pertama, semakin menguatkan cerita penduduk lokal soal tempat itu.

“Setelah menanyainya, diberitahu bahwa pacuan kuda itu angker. Bahwa tidak penduduk asli yang berani tinggal sendirian, karena sering mendengar suara-suara aneh di tengah malam,” kisah Perrine.

Namun Perrine dan Curtiss tak lantas percaya. Bersama dengan sang penjaga, hari-hari mereka pun lebih banyak disana.

“Enam minggu sebelum gerhana kami sangat sibuk. Ada sepuluh teleskop
yang dipasang dan disesuaikan dengan pas. Pengamatan waktu sering dibuat, sembari melakukan percobaan untuk menentukan metode terbaik untuk mendokumentasikan gerhana dengan fotografi,” jelasnya.

Sementara masyarakat pribumi, dikatakan Perrine, awalnya merasa terganggu. Mereka berpikir sebagai orang asing, dengan ras hampir sama dengan Belanda, dianggap sebagai mata-mata. (OSH)

Baca kisah selanjutnya di LANGAM.ID


BERITA TERKAIT