Fenomena Langit, Komet K2 Dari Luar Tata Surya Mendekati Bumi
DARILAUT.ID | 27/07/2022 10:40
Fenomena Langit, Komet K2 Dari Luar Tata Surya Mendekati Bumi
Sebuah komet C/2020 atau "Neowise" yang terlihat di langit di kawasan Mies, Swiss, 19 Juli 2020. REUTERS/Denis Balibouse

Darilaut – Komet K2 yang diduga berasal dari suatu lokasi di bagian luar tata surya akan mendekati planet Bumi.

K2 berbeda dengan Komet Halley yang secara periodik sekitar 83 tahun melintas. Tidak diketahui kapan komet ini akan melintas lagi di dekat Bumi.

Komet merupakan anggota Tata Surya yang turut mengitari Matahari, seperti halnya Bumi, yang dalam perjalanannya dari area luar Tata Surya (outer solar system) ke area dalam Tata Surya (inner solar system), baru saja melintasi Bumi.

Komet C/2017 K2 (PanSTARRS) atau disingkat menjadi K2, diduga berasal dari suatu lokasi di bagian luar Tata Surya yang dinamakan Awan Oort (Oort Cloud).

Initial C dari komet tersebut bertipe non-periodik, angka 2017 menunjukkan tahun ditemukannya, dan kombinasi huruf dan angka K2 menunjukkan urutan ditemukannya pada tahun 2017.

“Komet ini melintas terdekat dengan Bumi pada 13 Juli 2022 pada jarak sekitar 2 kali jarak Bumi ke Matahari. Saat ini K2 sedang menuju jarak terdekatnya ke Matahari yang diperkirakan terjadi pada Desember tahun ini,” kata Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang juga Koordinator Balai Pengelola Observatorium Nasional (BPON) Kupang, Abdul Rachman.

“Karena termasuk dalam golongan komet non-periodik, K2 tidak rutin melintas di dekat Bumi seperti halnya komet-komet periodik misalnya Komet Halley yang periodenya sekitar 83 tahun, sehingga tidak diketahui kapan ia akan melintas di dekat Bumi lagi.”

Abdul mengatakan K2 ditemukan oleh sistem pemantau komet bernama Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (PanSTARRS) yang berlokasi di Hawaii pada 21 Mei 2017.

Penampakan K2 saat melintas dengan jarak paling dekat dengan Bumi, menampilkan ekor debu dan ekor gas. Semakin dekat ke Matahari, ekor gas akan terlihat semakin jelas.

Saat melintas dekat Bumi, menurut Abdul, K2 hanya bisa dilihat jika memakai teleskop apalagi karena saat itu bertepatan dengan Bulan Purnama. Akan tetapi seiring makin dekatnya komet tersebut dengan Matahari maka ia akan bisa dilihat dengan binokular.

“Seluruh daerah di permukaan bumi berkesempatan untuk melihat komet itu pada malam hari yang cerah,” ujar Abdul.

Pengamatan K2 dapat dilakukan dalam beberapa bulan, terutama saat komet itu melintas dekat Bumi, dalam perjalanannya menuju titik terdekatnya dengan Matahari. Hingga beberapa bulan setelah itu.

Abdul mengatakan, dengan fenomena komet melintas bumi, melalui riset dapat dipelajari kemungkinan jatuhnya komet tersebut ke bumi.

Untuk kasus K2 ini, komet melintasi bumi pada jarak lebih dari 270 juta km sehingga tidak berdampak apa-apa ke bumi.

Karena melintasnya cukup jauh dari Bumi yakni sekitar 2 kali jarak Matahari-Bumi, maka tidak ada efek negatif yang ditimbulkan.

Menurut Abdul pengamatan Komet K2 di BPON dilakukan di Kantor Operasional dan Pusat Sains di Desa Oelnasi selama beberapa hari sejak 13 hingga 16 Juli 2022.

Setiap hari pengamatan itu, dilakukan akuisisi hingga beberapa jam. Data yang terkumpul selain bisa dianalisis untuk keperluan riset, bisa juga digunakan untuk astrofotografi.

“Untuk pengamatan digunakan teleskop yang memakai cermin berukuran 25 cm dan detektor CCD yang dilengkapi dengan beberapa buah filter warna,” ujarnya.

Kepala Pusat Riset Antariksa, Emanuel Sungging, mengatakan data hasil pengamatan ini dapat dimanfaatkan untuk riset. Tidak hanya oleh peneliti BRIN, tetapi semua yang tertarik untuk mempelajari dinamika benda-benda di dalam Tata Surya.

Wujud kedua ekor komet (debu dan gas) yang bisa diamati, dapat diperoleh pemahaman pada sifat intrinsik komet, serta pada bagaimana kondisi cuaca antariksa pada saat itu.

Selain itu, kata Emanuel, dari perjalanan komet, setidaknya sampai Desember 2022, bisa dilihat apakah komet tersebut mengakhiri hidupnya dengan menghujam ke Matahari? Ataukah melanjutkan lintasannya keluar dari Tata Surya? Lalu bagaimanakah perjalanannya kemudian?

Fenomena melintasnya komet ini merupakan kesempatan yang baik bagi para ilmuwan untuk mengamati komet ini lebih dekat dan bagi para penggiat astofotografi untuk memotretnya.

Setiap komet memiliki keunikan yang menarik untuk dikaji secara ilmiah dan untuk diabadikan melalui bidikan kamera.

Menurut Emanuel harapan terbesar dari pengamatan singkat seperti ini adalah memberikan wawasan dan informasi kepada masyarakat Indonesia, bahwa bangsa Indonesia sudah mempunyai sebuah observatorium astronomi di wilayah Nusa Tenggara Timur yang bisa dimanfaatkan untuk riset keantariksaan, bersama dengan BRIN.

Kejadian benda langit seperti komet melintasi planet bumi tidak dapat disaksikan setiap saat. Butuh waktu yang lama, bahkan bisa berpuluh-puluh tahun.

Berbagai fenomena alam ini sangat menarik perhatian bagi masyarakat.

 

**


BERITA TERKAIT