Histori Pendidikan Pelayaran di Indonesia
DARILAUT.ID | 12/12/2021 09:18
Histori Pendidikan Pelayaran di Indonesia
Pemerintah Investigasi Tragedi Raja Ampat

Darilaut – Pendidikan pelayaran (pelaut) di Indonesia sudah berkembang lama, sejak masa kerajaan di masa lalu.

Diawali masa kerajaan tertua di Nusantara, yaitu sejak Kerajaan Kutai pada 400 Masehi. Kemudian dilanjutkan di abad ke-13 melalui Kerajaan Samudera Pasai di Kota Lhokseumawe, Aceh.

Dilanjutkan kembali pada awal abad ke-16 di Sulawesi Selatan melalui Kerajaan Gowa dan Tallo atau lebih dikenal dengan Kerajaan Makassar.

Selanjutnya tercatat pada 1915, Belanda yang pada saat itu berkuasa di Indonesia mendirikan sekolah di Makassar yang diberi nama “Kweekschool voor Inlandsche Schepelingente Makassar” atau Sekolah Kejuruan untuk Awak Kapal Pribumi di Makassar.

Pada Agustus 1946, sekolah ini berganti nama menjadi “Opleiding Scheepvaartschool Celebes” untuk tingkat rendah dan “Middelbare Zeevaart School” untuk tingkat menengah.

Kemudian tahun 1950 berganti nama lagi menjadi Sekolah Latihan Penyeberangan Laut Sulawesi (SLPS). Sekolah ini memiliki dua jurusan yaitu Nautika dan Teknika.

Tahun 1953, didirikan pendidikan pelayaran dengan nama Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) yang menyelenggarakan Program Diploma III (setara dengan BSc). Pendidikan pelayaran ini dengan 2 jurusan: Nautika dan Teknika (sertifikat kompetensi Klas III).

Pada 27 februari 1957, AIP diresmikan oleh Presiden Pertama RI Ir. Soekarno dan menjadi Akademi Pelayaran pertama di Indonesia. Akademi pelayaran ini berada di Jalan Gunung Sahari, Mangga Dua Ancol, Jakarta Utara.

Saat ini pendidikan pelayaran semakin berkembang. Pemenuhan terhadap standar pendidikan nasional maupun standar pendidikan pelayaran internasional senantiasa menjadi fokus dari lembaga-lembaga pendidikan.

Dengan masuknya Indonesia sebagai anggota International Maritime Organization (IMO) pada 18 Januari 1961 dan menjadi Anggota Dewan IMO kategori C, serta dengan meratifikasi 26 konvensi IMO, termasuk konvensi dalam bidang kepelautan, Indonesia menjadi terikat untuk selalu menyesuaikan dengan perkembangan dunia internasional di bidang pelayaran.

Revitalisasi pendidikan pelaut di Indonesia sudah dilakukan selama 1 abad lebih, diharapkan menjadi momentum bagi Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan kualitas SDM kepelautan, yang kompetensinya diakui dunia internasional.

Perguruan tinggi pelayaran yang ada di Indonesia, pada awal kuartal tahun 2021, sebanyak 1,2 juta lebih pelaut telah berlayar di dalam dan luar negeri.

Dari jumlah tersebut, sekitar 28,5 % atau sekitar 350 ribu lebih, telah bekerja pada perusahaan pelayaran asing yang mengisi berbagai posisi mulai dari rating sampai dengan Chief Engineer dan Captain.

Dalam Perayaan 1 (Satu) Abad Revitalisasi Pendidikan Kepelautan di Indonesia, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan dengan kondisi geografis Indonesia yang memiliki 17 ribu lebih pulau, Indonesia termasuk dalam negara penghasil pelaut terbesar di dunia.

Perayaan 1 abad tersebut diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan, di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, Rabu (24/11).

“Kita memiliki visi menjadikan bangsa Indonesia sebagai poros maritim dunia. Oleh karena itu, pendidikan kepelautan dan pelayaran memegang peranan penting dalam menciptakan SDM yang unggul,” kata Menhub.

darilaut.id


BERITA TERKAIT