Ada 49 Spesies Lumba-lumba, di Indonesia 16 Jenis
DARILAUT.ID | 18/07/2021 06:18
Ada 49 Spesies Lumba-lumba, di Indonesia 16 Jenis
Lumba-lumba Sungai Gangga atau Platanista gangetica gangetica kini jumlahnya berkisar 1.200–1.800 ekor dan berstatus terancam punah. Foto: WWF

Darilaut – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University Prof Yusli Wardiatno, mengatakan, saat ini terdapat 49 spesies lumba-lumba dengan 42 tipe dolphin dan tujuh tipe porpoise. Di Indonesia sendiri terdapat 16 jenis.

Mengutip Ipb.ac.id Jumat (16/7), lumba-lumba, menurut Yusli, termasuk ke dalam mamalia yang menyusui anaknya dan bernafas menggunakan paru-paru.

Karena itu, lumba-lumba harus muncul ke permukaan air untuk menghirup udara dan melahirkan. Kehamilan lumba-lumba berlangsung antara sembilan hingga enam belas bulan.

Anak-anak dari lumba-lumba seperti pada spesies paus orca akan tinggal bersama dengan induknya seumur hidup.

“Orca (paus pembunuh) adalah lumba-lumba terbesar, sementara lumba-lumba Hector dan Franciscana adalah dua yang terkecil,” kata ahli Biologi Perairan IPB University ini.

Spesies lumba-lumba di antaranya Lumba-Lumba Belang (Stenella coeruleoalba), Lumba-lumba Fraser (Lagenodelphis hosei), Lumba-lumba Gigi Kasar (Steno bredanensis), Lumba-lumba Hidung Botol (Tursiops truncatus), Lumba-lumba Hidung Botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus).

Kemudian, Lumba-lumba Moncong Panjang (Delphinus capensis), Lumba-lumba Pemintal (Stenella longirostris), Lumba-lumba Punggung Bungkuk Indo-pasifik (Sousa chinensis), Lumba-lumba Risso (Grampus griseus), Lumba-lumba Totol (Stenella attenuata), Paus Elektra (Peponocephala electra).

Selanjutnya, Paus Pembunuh (Orcinus orca), Paus Pembunuh Kerdil (Feresa attenuata), Paus Pembunuh Palsu (Pseudorca crassidens), Paus-pilot Sirip-pendek (Globicephala macrorhynchus), dan Pesut (Orcaella brevirostris).

Umur maksimum lumba-lumba bervariasi dari sekitar 20 tahun pada spesies lumba-lumba yang lebih kecil, hingga 80 tahun atau lebih untuk lumba-lumba yang lebih besar seperti paus orca.

Lumba-lumba memakan ikan, cumi-cumi dan krustasea. Mereka memiliki gigi berbentuk kerucut, dengan jumlah antara 14 – 240 gigi tergantung jenisnya.

Meski begitu, mereka tidak mengunyah makanannya. Tetapi memecahnya menjadi potongan-potongan kecil sebelum akhirnya ditelan.

Dalam perilaku makan, lumba-lumba akan menelan ikan mulai dari sisi kepala terlebih dahulu agar duri ikan tidak tersangkut di tenggorokan.

Saat berburu, lumba-lumba menghasilkan gelembung untuk menggiring mangsanya ke permukaan.

Menurut Prof Yusli yang juga staf pengajar di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, lumba-lumba terkadang juga menggunakan teknik berburu yang disebut ‘fish-whacking‘. Teknik ini menggunakan ekornya untuk memukul ikan dan membuat pingsan, serta lebih mudah untuk ditangkap.

Lumba-lumba merupakan satwa air yang cukup dekat dengan manusia. Satwa ini dikenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata hewan pada umumnya.

Lumba-lumba memiliki serangkaian suara menarik menyerupai peluit atau jeritan. Suara ini digunakan untuk komunikasi dan ekolokasi yang berkembang dengan baik.

Selain kemampuan komunikasi yang baik, lumba-lumba, khususnya jenis hidung botol, merupakan salah satu dari sedikit spesies, bersama dengan kera dan manusia, yang memiliki kemampuan untuk mengenali diri mereka sendiri di cermin.

Lumba-lumba jenis hidung botol juga memiliki kemampuan untuk tidur dengan mengaktifkan separuh otaknya dan mata yang tetap terbuka.

“Perilaku ini merupakan upaya untuk mengawasi kelompok agar tetap bersatu dan untuk mengidentifikasi keberadaan predator dalam upaya menghindarinya,” Prof Yusli, seperti dikutip dari Ipb.ac.id.

Adapun spesies yang paling terancam punah adalah Lumba-lumba Maui. Hanya terdapat kurang dari 50 ekor yang tersisa, serta kurang dari 10 vaquitas (spesies porpoise) bertahan hidup.

Pencemaran suara dan alat tangkap perikanan seperti jaring merupakan ancaman pada lingkungan hidup lumba-lumba.

darilaut.id


BERITA TERKAIT