Sampah Plastik Diubah Jadi BBM
DARILAUT.ID | 11/06/2021 06:43
Sampah Plastik Diubah Jadi BBM
Anak-anak bermain di antara tumpukan sampah di Teluk Jakarta, kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Sabtu, 23 Januari 2021. Penelitian LIPI menemukan, bahwa 16 persen dari limbah yang ada di muara sungai di Teluk Jakarta berupa limbah medis, seperti alat pelindung diri bekas pakai. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Darilaut – Pemanfaatan sampah plastik untuk dijadikan bahan bakar minyak (BBM) tengah dikembangkan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Pusat Kajian Kebijakan Strategis pada Senin (24/5) meninjau langsung salah satu aktivitas masyarakat di Pulau Pramuka, yang memanfaatkan teknologi untuk mengolah sampah plastik. Sampah plastik tersebut akan diubah menjadi Energi Baru Terbarukan berupa Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar.

Guru dan inisiator Rumah Literasi Hijau, Mariyah, mengatakan, sejak tahun 2009 telah berkegiatan dan mengajak masyarakat untuk turut serta menjaga lingkungan. Kemudian, sejak 2 tahun terkahir, Rumah Literasi Hijau mendapatkan bantuan alat mesin Pirolisis yang dapat mengubah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa solar.

Teknologi ini menurut Mariyah sangat sederhana dan memungkinkan orang awam untuk cepat mempelajarinya.

Teknologi Pirolisis ini juga tidak perlu listrik yang besar dan tempat yang luas, sehingga limbah plastik dapat dikelola bahkan menjadi manfaat.

“Hasil uji lab yang kami lakukan sebanyak 3 kali di 2 laboratorium berbeda, hasilnya adalah BBM yang dihasilkan relatif stabil dan bisa mengoperasikan mesin 2 tak seperti chainsaw,” kata Mariyah.

Menurut Pertamina, Pirolisis adalah proses dekomposisi suatu bahan pada suhu tinggi yang berlangsung tanpa adanya udara atau dengan udara terbatas. Proses dekomposisi pada pirolisis ini juga sering disebut dengan devolatilisasi.

Pirolisis atau bisa disebut thermolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan menggunakan pemanasan tanpa kehadiran oksigen.

Proses pirolisis menghasilkan produk berupa bahan bakar padat yaitu karbon, cairan berupa campuran tar dan beberapa zat lainnya.

Produk lain adalah gas berupa karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan beberapa gas yang memiliki kandungan kecil. Hasil pirolisis berupa tiga jenis produk yaitu padatan (charcoal/arang), gas (fuel gas) dan cairan (bio-oil).

Kepala Pusat Kajian Kebijakan Strategis KLHK, Herry Subagiadi mengatakan kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi nelayan dan ke depan dapat menghasilkan listrik di pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu.

“Saya harap kegiatan di Pulau Pramuka ini dapat direplikasi di tempat lain, dari diskusi ini, kami berharap ada tindak lanjut yang akan kami kaji di kantor untuk mewujudkan pemanfaatan sampah plastik menjadi Energi Baru Terbarukan di tempat lain,” kata Herry.

Sementara itu, peneliti Washington State University telah mengembangkan cara inovatif untuk mengubah plastik menjadi bahan bahan bakar jet dan produk berharga lainnya, sehingga lebih mudah dan hemat biaya untuk menggunakan kembali plastik.

Seperti dilansir Phys.org para peneliti mampu mengubah 90% plastik menjadi bahan bakar jet dan produk hidrokarbon berharga dalam waktu satu jam pada suhu sedang dan dengan mudah menyempurnakan proses untuk menciptakan produk yang diinginkan.

Penelitian ini dipublikasi di jurnal Chem Catalysis. Penelitian dipimpin mahasiswa pascasarjana Chuhua Jia dan Hongfei Lin, kemudian profesor di Gene dan Linda Voiland dari School of Chemical Engineering and Bioengineering.

Dalam beberapa dekade terakhir, penumpukan limbah plastik telah menyebabkan krisis lingkungan, mencemari lautan, dan lingkungan alami di seluruh dunia.

Saat terdegradasi, potongan kecil mikroplastik telah ditemukan memasuki rantai makanan dan menjadi potensi dan dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia.

Namun, daur ulang plastik bermasalah. Metode daur ulang mekanis yang paling umum adalah melelehkan plastik dan membentuknya kembali, tetapi itu menurunkan nilai ekonomis dan kualitasnya untuk digunakan dalam produk lain.

Daur ulang bahan kimia dapat menghasilkan produk dengan kualitas lebih tinggi, tetapi memerlukan suhu reaksi yang tinggi dan waktu pemrosesan yang lama. Sehingga terlalu mahal dan tidak praktis untuk diadopsi oleh industri.

Karena keterbatasannya, hanya sekitar 9% plastik di AS yang didaur ulang setiap tahun.

darilaut.id


BERITA TERKAIT