Jarang Diteliti, Kelompok Macaca hecki Terlihat di Tibawa
DARILAUT.ID | 12/05/2021 15:08
Jarang Diteliti, Kelompok Macaca hecki Terlihat di Tibawa
Monyet liar di hutan Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu, 28 Agustus 2019. Di kawasan yang akan menjadi lokasi ibu kota negara baru Indonesia itu masih banyak ditemui monyet-monyet liar. ANTARA

Darilaut – Sekelompok monyet Macaca hecki (Heck’s Macaque) terlihat tidak jauh dari jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Monyet yang masih jarang diteliti ini sedang bergelantungan didahan dan bawah pohon, pada Jumat (7/5). Lebih kurang 10 individu muda dan dewasa yang terlihat saat itu.

Ada yang mencari makan berupa buah yang ada di tanah, lainnya berpindah-pindah dari satu dahan ke dahan yang lain.

Lokasi perjumpaan dengan monyet Heck’s Gorontalo ini berada di Desa Botumoputi. Di lokasi ini terdapat ladang dan lahan perkebunan dengan berbagai tanaman. Kawasan ini tidak jauh dari Cagar Alam Tangale.

Monyet Heck’s bukan hanya belum banyak diteliti, bahkan jarang dipublikasi. Bila ada publikasi hanya soal perburuan, bersama satwa endemik lainnya.

Hingga saat ini berapa jumlah populasi Macaca hecki Matschie 1901, belum diketahui dengan pasti.

Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Gorontalo juga belum memiliki data terbaru, jumlah Macaca hecki di CagarAlam Tangale.

Kepala BKSDA Gorontalo Syamsudin Hadju mengatakan untuk hasil inventarisasi masih data yang lama. Data terbaru atau terupdate belum ada.

“Populasi masih cukup banyak untuk luasan kawasan seperti CA Tangale. Kami baru mau inventarisasi tahun ini karena kemarin inventarisasi lebih kami arahkan ke lokasi kawasan yang terganggu,” katanya.

Macaca hecki habitatnya hanya di Gorontalo dan sebagian kecil Sulawesi Tengah. Nama lokal monyet Heck’s di Gorontalo disebut dihe, Buol disebut Dige dan Dondo/Tinombo disebut Bankalae.

Selain Macaca hecki, daerah Gorontalo sebagai habitat Macaca nigrescens Temminck, 1849 (Gorontalo Macaque).

Monyet Gorontalo ini dengan nama lokal Dihe dan Monyet Wolai. Sebaran satwa ini di Gorontalo dan Sulawesi Utara bagian tengah.

Sekilas bila melihat begitu saja, ada kesamaan Macaca hecki dan Macaca nigrescens. Apalagi bahasa lokal Gorontalo sering diartikan sama, monyet dihe.

Padahal secara fisik ada perbedaan satwa tersebut. Umumnya Macaca hecki lebih pendek.

Menurut Dr Abdul Haris Mustari dalam buku terbaru “Manual Identifikasi dan Bio-Ekologi Spesies Kunci di Sulawesi” kekhasan Macaca hecki pada bantalan kawin (ischial callocity).

Ukuran bantalan kawin Macaca hecki paling besar dibandingkan jenis monyet di Sulawesi lainnya. Bentuk bantalan kawin ini menyerupai ginjal.

Adapun panjang tubuh monyet Heck’s berkisar antara 479–557 mm, dengan berat tubuh berkisar antara 6,8–11,2 kg.

Umumnya tubuh dige lebih pendek, jika dibandingkan dengan ukuran tubuh monyet di Sulawesi lainnya. Bentuk mukanya lebar dengan jambul tegak.

Warna tubuhnya hitam kecokelatan, rambut bagian depan berwarna hitam sangat gelap, sedangkan warna kakinya lebih terang.

Menurut Mustari yang juga pengajar mata kuliah Ekologi Satwaliar di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, monyet dige hidup berkelompok yang terdiri dari beberapa jantan dan betina. Anggota kelompok berkisar 10 sampai 15 ekor.

Hidupnya di pepohonan (arboreal), semi arboreal, dan di lantai hutan (terrestrial). Monyet Heck’s bergerak menggunakan keempat anggota geraknya (quadra-pedal). Umumnya dige lebih cepat bergerak di lantai hutan daripada di pohon.

Monyet ini beraktivitas pada siang hari atau diurnal. Tempat tidur, menurut Mustari, dipilih pada cabang batang utama. Tidur berkelompok pada satu sarang dan tidak membuat sarang.

Hasil kajian, luas wilayah jelajah antara 75 sampai 100 Ha dengan jelajah harian antara 1 sampai 2 km.

Mustari dalam buku panduan lapang menjelaskan bahwa induk hanya melahirkan satu anak.
Habitat satwa endemik Sulawesi ini berada di hutan tropik dataran rendah sampai pegunungan pada ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut (dpl). Kadang juga dijumpai di sekitar ladang dan kebun penduduk.

Status konservasi Macaca hecki menurut IUCN dalah vulnerable atau rentan. Monyet ini masuk dalam Appendix II CITES , serta satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.106/2018.

Monyet dige tersebar di bagian utara Sulawesi Tengah, dibatasi oleh pegunungan Siweli-Kasimbar, Kampung baru dan ke arah utara-timur sampai Danau Limboto, Kwandang, Gorontalo.

Monyet dige dapat dilihat di daerah Gorontalo, di bagian barat Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Selain itu, terdapat di Suaka Margasatwa Nantu dan Cagar Alam Panua.

darilaut.id


BERITA TERKAIT