Burung Endemik Sumba Ikut Terdampak Badai Seroja
DARILAUT.ID | 09/05/2021 08:34
Burung Endemik Sumba Ikut Terdampak Badai Seroja
Burung Condor Andean. Culture Trip/Colegota / Wikipedia

Darilaut – Petugas Balai Taman Nasional (TN) Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti TN Matalawa) melakukan upaya penyelamatan burung endemik Sumba yang ikut terdampak badai Seroja.

Kuat dugaan bahwa burung Julang Sumba ini tertimpa ranting yang rubuh saat terjadi bencana siklon tropis Seroja awal April lalu.

Bertempat di kantor Balai TN Manupeu Tanah Daru dan TN Matalawa telah dilakukan penyerahan burung Julang Sumba (Rhyticeros everitti) ke kantor balai.

Burung berjenis kelamin jantan sebanyak 1 ekor ini dibawa oleh Kepala Resort Wudipandak dan tim setelah sebelumnya diserahkan dari warga desa Watubokul. Warga bernama Agus Katauhi Melip menyerahkan burung endemik tersebut ke Kantor Resort Wudipandak.

Berdasarkan pengakuan dari orang yang menemukan bahwa burung ini ditemukan dalam kondisi terjatuh di tanah dan tak mampu untuk terbang.

Lokasi ditemukannya burung ini berada pada Blok Hutan Wara, Resort Wudipandak, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Lewa.

Kondisi burung tersebut saat ini dalam kurang sehat dan nampak sedikit tertekan selama perjalanan dari Tabundung ke Waingapu.

Langkah awal penanganan, burung ini akan dilakukan pemeriksaan kesehatan dan rehabilitasi hingga kondisinya kembali pulih dan siap untuk dilepasliarkan.

Julang Sumba merupakan salah satu jenis burung endemik yang hidup di Pulau Sumba. Di kawasan TN Matalawa sendiri jumlahnya kurang lebih tercatat 103 ekor.

Jumlah tersebut berdasarkan data monitoring populasi yang dilakukan pada tahun 2020.

Kepala Balai TN Matalawa, Memen Suparman mengatakan, Balai TN Matalawa dibantu oleh tim PEH akan berupaya untuk pemulihan kondisi kesehatan burung tersebut sehingga dapat dilepasliarkan lagi ke Habitat alamnya.

Sementara itu, Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (KSDA) Sulawesi Selatan telah melepasliarakan 23 Ekor satwa translokasi dari Surabaya pada Rabu, 5 Mei 2021.

Lokasi pelepasliaran ke 23 Ekor ini dilakukan di Desa Bissoloro Kabupaten Takalar dan TWA Nanggala III di Palopo.

Proses pelepasliaran satwa dilakukan setelah habituasi di kendang transit dan kondisi satwa telah dinyatakan sehat oleh dokter hewan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Sulsel. Selama proses pelepasan Tim tetap menerapkan protokol Covid-19.

Eko Yuwono selalu ketua Tim WRU pelepasan satwa bersama Tim Resort melaksanakan pelepasan satwa tersebut di tiga lokasi dengan baik dan lancar.

Menurut Eko, total satwa yang dilepas sebanyak 23 ekor dari total 25 ekor satwa tranlokasi. 2 ekor lagi yaitu jenis elang paria masih habituasi di kandang transit untuk belajar terbang.

Jenis satwa dan lokasi pelepasliaran, 1 ekor perkici dora (Trichiglossus ornatus) di TWA Nanggala III Kabupaten Palopo, 9 ekor Elang Paria (Milvus migrans) ,11 ekor Jalak Tunggir Merah (Scissirostrum Dubium) dan 2 ekor Elang Rawa Tutul (Circus assimilis) di Desa Bissoloro Kabupaten Takalar.

darilaut.id


BERITA TERKAIT